Lintas Tempuh Lembayung Secangkirku Ibu ( Pengantar )
Lintas Tempuh Lembayung Secangkirku Ibu...

Cergam
Apakah Mataram Setelah Manu
Mataram, nama kesucian tempuh lintas, komentar waktu itu. Dalam batas tukar
budaya juga belum, trade explored navigation trading assosiation ‘ra’ bayangan-bentuk,
jadi belum juga. Lintas belum rahasia saat Mataram tempuh ‘ra’ terangkan beda
utuh juga rumah atau rumput alam ini, Lalu Problematikasiniumsiologi Indonesia
bagian juga dari kepemilikan Mataram Sa Wa La, maka kala gala proposionl bentuk
waktu Problematika rahasia hingga di tulis Mataram, sebab emphasis fasa itu ini
juga kaptif memikirkan Suci apakah ‘sepuh’ telah juga kami gagal. Tentara
berarti kapital huruf yang rahasiakan ra trade explored navigation trading
assosiation ‘ra’ setelah tribunal
pendaratan amsterdam dan kesucian belum selesai mataram, waktu sewaktu lahirnya
dia, jaga simbol nama kesucian tempuh lintas, ada cerita lahirnya dia milik, luhur energi
manusia lintas dorong tempuh tambah tumbuh dorong tambah.
Bayangan-bentuk trade explored navigation trading assosiation ‘ra’ atau, tentara, Juga
belum lembayung bukan belum suci tapi bagaimana lembayung alam galaksi cacat
tempat bagi manusia.
Mataram, Indonesia, rahasia rumput
alam ini, rahasia rumah alam ini, itu ialah setelah mereka kecewa adapun energi
jadinya itu.
Partai Komunis Indonesia, PKI, lintas tempuh rahasia argumen rahasia belum
juga rahasia mengerti ideal PKI apa?
Tempat dingin, juga belum jelas, juga gantung takdirnya sebab? Tapi itu
tiap peran, tetapi itu tiap-tiap keinginan peran lembayung energi, Mataram,
nama kesucian tempuh lintas, bayangan bentuk rahasia arti kaptif gambaran itu.
Kemarin setiap harinya, di seberang Mataram tapi seolah kemarin diseberang
pulau jawa tapi Tribunal zaman belum ada.
Lalu Lembayung bernyanyi dari birama, lalu Hamengkubono birama fasa empasis
lintas tempuh rahasia hampir hilang selamanya birama seolah lembayung untuk
rahasia rumput alam ini, rahasia rumah alam ini.
Birama gamelan, komposisiniumsiologi, instrument di bangun birama gamelan
komposisiniumsiologi kala gala bertengkar, tapi Changi siapakah engkau.
Setiap pagi, harmonius indah, kala gala siapakah tempuh artinya jadi
diriku, siapakah tempuh artinya waktu.
Kemarin kesucian bukan berarti tempat dingin sisa energi, pagi fajar dia
baju yang di pakai, ketika tidur bermimpi lebih baik di duduk posisi relatifnya
menjadi utuh beda cerita bila aku itu adalah kakak, maka baju tidurku,
ingkarnasi dinasti tang.
“Ra” Gunung Lembang itu juga ini rahasia dimana mereka.
Rahasia, energi tempat dingin, “belum juga” dia berkata tambah, kemudian
wanita itu mendengar, tambah lalu apa artinya birama rahasia.
seolah-olah rumput ini atau lembayung semesta alam galaksi rumah ini Gunung
Lembang, “Ra” Daun teh ini daun-daun yang ada juga akarnya seolah diriku.
Seolah kebun kelak luasnya tanaman ini belum trauma maka juga belum apa
yang kuingat.
Setiap pagi, harmonius indah, kala gala siapakah tempuh artinya jadi
diriku, depan dirimu tempat dingin keinginanku bukan seolah karena kau bukan
siapa siapa, juga bukan artinya pulang itu semudah menuangkan keinginan atau
harapan, aku juga belum bijaksana utuh dari rahasia baju ini.
Suatu ketika di bawah, lembayung negeri dataran belum kekuatan yang
membuatmu kaptif takdirmu “ra”.
Setiap pagi, harmonius indah, kala gala siapakah tempuh artinya jadi
diriku, siapakah tempuh artinya waktu.
Kemarin kesucian bukan berarti tempat dingin sisa energi, pagi fajar dia
baju simbol yang di pakai, ketika tidur bermimpi lebih baik di duduk posisi
relatifnya menjadi utuh beda cerita bila aku itu adalah kakak, maka baju
tidurku, ingkarnasi Dinasti Tang.
Gunung lembayung lembang itu juga ini, misteri, dan ajaib.
Tumbuh menunggu kebun teh itu juga ini, melihat setiap pagi, harmonius
indah, kala gala siapakah tempuh artinya jadi diriku, siapakah tempuh artinya
waktu.
Belum rutin yang pagi walaupun baju ini kesucian beda arti diriku “Ra”.
Wanita itu mendengar kaptif siapakah lelaki itu, juga belum pasti tapi
hormat utuh belum apakah besok lintasan waktu bijaksanakan mereka.
Prospektus itu, adalah harapan mereka, mereka tiap hari diantara setiap
pagi dari “Dinasti Cina” dalam marga itu.
Prospektus itu harapan, tapi, itulah keinginan istimewa menjadi bagian dari
selamanya ingkarnasi istimewa Dinasti Tang, setelah itu juga ini ‘ra’, masih
belum paham, tapi dia tetap bercerita seolah birama gamelan itu, kias kisah
arti lintas sesungguhnya, birama gamelan, bilantara berdiri tiap tonggak lelaki
itu melihat kemarin dari birama simbol gaung di setiap pagi.
Itu juga ini sebelum changi terjebak baju ingkarnasi beda dirinya.
Berperan dalam lembayung dalam gunungan lembang itu juga ini apakah
keinginan lembayung, melihat menunggu tumbuh satu demi satu, bila daun-daun ini
inginkah lembayung di petik artinya sampai seolah mereka melihat rahasia tumbuh
seolah nasib dirinya ingin pulang dan di peluk Kakak
atau Ibu.
Bagiku mereka prospektus, harapan ingin istimewa itu juga ini tumbuh, utuh
beda, arti bijaksana peran menang peranku di saksikan tumbuh itu juga ini kaptif
daun itu juga ini mereka seolah sekata, malu dan takut diriku, “Ra” masih
mendengar.
Setiap pagi, harmonius indah, kala gala siapakah tempuh artinya jadi
diriku, juga belum lewati malu dan takutku itu juga ini “ra” tapi cinta ibu dan utuh kakak belum juga itu
juga arti bangun harmonius indah ini
jika juga belum ibu berani setelah Dinasti Tang.
Kemana Ayahku, maka peran Lembayung galaksi ini, harmonius siapakah tempuh
artinya waktu.
“itu juga ini, malu dan takut seolah kritrianya ayahku seolah sesuai bila
kehendak lembayung maka itu juga ini jejak dia kuselidiki benarkah sejati,
kemana selamanya kala gala sesuai berdiri tumbuh rumput itu juga ini harapan
sama serupa itu juga ini apakah rumahsiniumsiologi aku setiap pagi bangun kala
gala sesaat mimpi hari itu juga ini semoga setelah kau ra paham lihat serupa
rahasiaku.”
Sedalam tertera, mahkota lalu harmonius bandar di bawah lembayung ibu, juga
belum rahasia, setelah birama bunyi itu juga ini gema keagungan, aku harap
bunyinya kelak di dengar mengerti melihat mengapa baju ini, birama bunyi gaung
tanda memanggil diriku berperan jadi anaknya mensapa, bayangan malu dan
takutku, itu juga ini tertera kuingat mahkota mengasuh harmonius tiap pagi
apakah rumputnya atau daun itu juga ini.
Dengan layaknya sekarang ingkarnasi baju yang hendak memilih ingkarnasi
istimewa untuk beruntung tapi bila bukan mereka menghukum.
Maka peran mereka hina tetapi mereka belum tentu prospektus
figurasiniumsiologi setiap ideal pagi tertera sesuai keinginan malu dan takut
sebelum mereka, siapa aku di depan harmonius indah daun teh atau itu juga ini
rumput tumbuh, kala gala di luar istana dari Dinasti Tang tertera melihat untuk
apa peranku ada di bilantara keberadaan arti apakah ideal belum mengerti
sungguh apakah itu “Ra” apakah istimewa kemana masyarakatsiniumsiologi berharap
ingin merubah dirinya jadi pejabat istimewa.
Sebab juga belum, ingkarnasi baju simbol kehormatan itu, seolah argumen
lembayung alam galaksi memilih seolah argumen mereka, seolah peran kebaktian
setelah birama itu juga ini, siapakah,
kau akan duga aku “ra” juga takutku seolah “ra”
di hukumku akhirnya baju ini artinya seolah rumput ketika dalam hanya
aku utuh seolah rumput saja lihat kebutaan gagal berperan di
masyarakatsiniumsiologi Tiongha, tempuh
arti waktu berperan simbol bukan berarti lembayung belum ragu melihat peran
arti diriku di kecualikan tidak ada hukuman.
“Sungguh batas hukum lembayung, berani tertera itu juga ini kepada sungguh
batas hukum lembayung yang rahasia bukan aku dewa atas sebab, tertera mahkota.”
Misteri dan Ajaib Peran, bangun ideal tempuh energi peran setelah sebuah
lembayung bilantara tapi setelah telah menjadi adat dan disiplin, maka
bangunannya makin kuat belum juga misteri dan ajaib itu juga ini peran, kemana
rahasia akhirnya bangun ideal Dinasti Tang.
Lalu itulah tanggung jawab ini peran keinginan energi, simbolkan kebaikan
suci sebuah dinasti.
Padahal terlanjur tempuh bentuknya, maka lintas harmonius birama bunyi,
seolah berdiri satu lembayung instrument itu juga ini, kuharap bisa di lihat
warnanya oleh lembayung lewat rumput itu juga ini suci baik sebuah dinasti maka kaptif bagaimana
terlanjur tempuh bunyinya.
Gamelan bilatara “wa” gamelan itu juga ini indah rinduku mendengar seolah
pulang belum juga sebelum, Ideal Dinasti Tang masih belum Bijaksana di depan
energi lembayung setelah kemana di sebarang wahana kemana diriku depan dirimu
“Ra” Lalu pada umumnya “Ra” itu juga ini aku.
Misteri dan Ajaib Peran, “Ra” “inginku pulang” belum karena juga lihat
dirimu semalam, lalu wanita itu masih mendengar dia bercerita, menemani dalam
panggung gunung kondisi lembang dari lembayung pagi seolah sengaja bercinta
semalam, lalu sesaat waktu wanita itu masih tambah mengerti lintas ingin ideal
sebab, tapi juga tetapi, mengapa dia masih mendengar juga mengambil peranan
wanita perani senang ladeni siapa dirinya kepada lelaki itu akhirnya.
Lelaki itu mengantar cerita siapa dirinya menimbang wanita itu juga ini
serupakah rasa harapan kaptif ceritanya ada belum paham jujurkah ada cerita
arti siapa dirinya, selama kaptif kemana serupa mengapa wanita seperti beda peran
dirinya wanita dari batas bahasa beda, namun ikatan upaya, peran tempuh
lembayung kemana memperbaiki kondisi kaptif wanita itu merasa terukur masih
mendengar masih bukan tidak berupaya memahami argumen lelaki itu.
“Ra” “Sebelum aku lihat dirimu” “apakah kemana bangun kita beda tanah
kelahiran, dan mimpi bercinta semalam, apakah aku sengaja, sebelum lihat dirimu
aku itu juga ini belum lihat dirimu, tapi tambah kuhitung tambah apa peran
pendapatmu sebab aku diukur energi bijaksanaku itu juga ini sebab tanah
kelahiranmu tertera terlanjur sudah trauma dari bayangan kami sedang selidiki
takutmu kemana tambah peran jika menderita , trauma terpaksa aku berseberangan
dengan belati tajam lahirkan wahana gunung tangkuban ini menjadi saksi lembayung apakah aku suci atau utuh
bersalah.”
Masih mendengar wanita itu, seolah mengerti beda tanah kelahiran, beda
sesaat itu poci cangkir, masih setiap pagi, harmonius indah, senang masih jadi
secangkir air teh itu di harap beda utuh bertanya utuh beda dirinya melihat mengapa lahir
sebagai wanita, masih mendengar juga masih ingin tambah sengaja sebab semalam.
Renungan riasnya diri akhirnya di beli masih rias merona merasa wanita itu,
bangun di pelukannya dan masih ingin berharap setelah secangkir masih seolah
rasa bersalah lelaki itu, juga masih di harap masih mengulang untuk malam
nanti, tambah lagi kemanakah waktu renungan riasnya diri akhirnya kemana duga
waktu apakah peranan wanita itu valid masih juga beda tetapi di beli ulang maka
masih mendengar maka masih wanita itu mendengar.
“Ra” Baju ini bukan kejujuranku, sungguh aku ideal, bayangan berdiri
lembayung waktu sebelum disini aku bermimpi beda dan bangun secangkir teh air
ini beda.
Setiap pagi rutin fungsi Dinasti Tang, bercerita rona seolah merah seolah
rias harmonius, lembayung Dinasti Tang apakah pulang arti kesucian diriku.
Bayangan Ibuku dalam Rumah itu, kelabu diriku, kelabu bayangan di kegelapan
jangan kelabu juga arti gelap kelabu lebih musibah ketika bagaikan warna
semesta lembayung takut gelap siapa diriku, benar, dia adalah arti hidup
dirinya, lalu sebab kelabu diriku, bayangan ibuku bagai segelas arti.
Ketika rumah itu ingin rasanya bukan jadi istana tapi pada umumnya berdiri
tempuh lintas hidup ideal.
Apakah pulang artinya, sedalam rumah itu juga kemana ini semalam aku tidak menahan
melihatmu juga di balik tujuan baju simbol beda wahana aturansiniumsiologi
hukum beda itu juga ini aturan tertera kesucian sebab bayangan Ibuku dalam
rumah itu, ideal rutin seolah poci teh air itu warna ideal tapi batasnya
rahasia belum ada cerita dari lembayung di atas langit ijin melihatkan takdir
kelabu rahasia bayanganku.
“Ra” Baju ini bangun apa apakah tujuan?
Masih juga “Ra” Baju ini rahasia Bayangan kehormatan suci Ibuku dalam Rumah
itu.
Setiap pagi maka ini itu ada cerita peran figurasi peran mereka akan
merayakan dirinya lintas tempuh bila jika ideal jawaban itu artinya ajaib untuk
bayangan ibuku masih hormat kepada mereka.
Asuh argumen itu ialah rumahsiniumsiologi yang artinya istana, suka duka
siapa diriku masih juga belum berani lepas baju ini.
Kecuali bila kau mengerti sebab masih mendengarku “Ra”.
Beda Ini juga itu ketika figurasiniumsiologi dan masyarakatsiniumsiologi,
tambah peran sebab sepuh kejayaan Dinasti Tang, ingin melihat harapan
masyarakatsiniumsiologi bila mereka jika jadi pejabat istimewa.
Sebab wahana kesucian energi dari sebab aturansiniumsiologi di atur sebab
intuisi pandangan bayangan ibuku dalam rumah itu.
Setelah ragam warisan bagaimana “aku takut di timbang ukur” juga belum lalu
kesucian suci seolah cangkir ini adalah bayangan ibuku, lalu argumen cangkir
kecil ini berbagi cangkir bila lebih kecil sesungguhnya belum dermawan untuk
aku pulang.
Porsi kecil masih kawatirku, bukan sebab manusia, tapi utuh ini sebab
bayangan ibuku juga bila kau mengenalnya “ra”.
Porsi kecil ini itu ialah kesaksianku sebagai batas berdiri tujuan ketika
setiap pagi.
Aku mensaksikan argumen setiap pagi itu untuk rahasia yang menggantungkan Dinasti
Tang berharap tambah istimewa di lihat tanpa trauma batasnya rahasia, belum
juga mudah, kuceritakan lembayung kecil itu adakah semesta alamnya dari dunia
nyata, ingin kemana aku pulang, masih istimewa, tapi melihat warna mandala,
kerajaan dirimu trauma menderita, sebab pendaratan utuh sebab raksasa dilautan
setelah hutan itu juga ini sebab utuh itu juga ini keinginan prospektus beda
propektusiniumsiologi ini seolah ada, seolah takdir gunungan mandala warna
mandala utuh dimana ajaib dan misteri masih untuk diriku siaga belum utuh paham
langgeng lestarinya mandalamu sebab apa untuk langgeng energi harmonius
lembayung, masih serendah dalam sedalam rendah masih itu juga ini seolah raga
rumput beda sebab maka, “maafkan beda diriku ra” “baju ini masih merahasiakan
siapa diriku seungguhnya.”
“maaf gagal calon wawasan mandalamu, mengukur kesucianku gagal melihat pada
umumnya bayangan kemana aku melindungi diri setelah lembayung itu juga ini bukanku
ukur langgeng lestarinya.
Tetapi apakah mandala itu, kemana akhirnya harus itu, juga ini, kriteria diriku menyerang
mereka, tapi dirimulah tanda lembayung berikan harapan kelak jika benar suatu
ketika engkau sebab misteri itu juga ini, misteri akhirnya ingin masih juga
ajaibku melihat monumental birama
diantara tunggalnya tempuh lintas waktu jika kau jaga gamelan menjadi arti,
siapa diriku di balik baju ini juga yang masih merahasiakan siapa diriku
sesungguhnya.”
***
Kubayangkan besok siapa aku tapi takut, jadi ini juga itu takutnya utuh
energi wahana di ceritakan.
Lembayung berbeda itu juga ini cerita lembayung, Kuhitung takut juga
trauma melihat lembayung diriku, bukan
berarti istimewa selamanya wahana.
Tetapi Baju ini juga itu, kemarin figurasiniumsiologi waktu tidak paham apa
yang umum untuk berperan pada keinginanan peran siapa mereka di tunggu ajaib
jadi calon pejabat, masyarakatsiniumsiologi di setiap ajaib menjadi ajaibnya
prospektus bangun bantu menjadi sahabat Dinasti Tang atau mereka yang telah
juga memilih belajar dalam peran waktu istimewa hidup sebab di timbang tambah
kuhitung tambah membangun apa Dinasti Tang kuhitung untuk ada cerita istimewa
prospektusiniumsiologi siapa kami berperan tambah itu juga ini mereka merayakan
dirinya ikut berpikir akan menjadi bangunan istimewa atau musibah, maka kasim.
“Ra” terima kasih, ladeni, selalu temanimu kau tuangkan air secangkir ini,
walaupun belum yakin adakah bayangan ibuku menghendaki ini, selamanya setelah
ideal semalam. Ra mensebutnya masih mendengar lihat ‘ideal pahami juga, apakah
cinta semalam ideal arti ra seolah
sepaham tapi ideal artinya, apakah kau merasa ‘ideal’ denganku “walaupun masih
misteri mengapa harus ajaib secangkir yang adakah ceritanya menahan diriku bukan
berarti tidak trauma,” hingga lelaki itu juga menambah beda mengapa tadi pagi
dalam setelah ‘serangan kami dulu pernah telah terpaksa hingga aku pilih simpan
kamu, demi kebaikan ideal waktu, apakah trauma’ melihat rias lelaki itu melihat
“Ra” mendengar cerita apa pulang arti? apakah arti trauma juga arti? tambah
ideal sebab lelaki itu di lihat apakah teringat ideal nafas, ideal lelaki yang
didengar berbekas semalam walaupun beda dunia namun ra mensetujui rasa cinta peran ideal lelaki itu merindukan
sebab belum bayangkan mengapa berani menjadi wanita ra bayangkan bentuknya
ideal kehangatan udara lembayung semesta dia
merias menjawab , bila juga
“mengapa kau serang kami setelah, gunungan, ini lintas takdir misteri dan ajaib
apakah tadi pagi apakah artinya cinta, aku tidak salahkan kau runtuhkan
gunungan mandala gagal di pasundan, proposional bangunan harmonimu, salah juga
belum bisa kumengerti ideal sebab tadi pagi.” Ra malu menjadi wanita yang di
simpan, di pilih oleh lembayung di bawah langit juga belum ketika semalam
mereka tidak sengaja dorong argumen di pagi fajar awal ra ingin sebaiknya
mengapa juga di pagi setelah itu di ulang selamanya ideal, mengapa dia
menjelaskan rahasia baju untuk di argumenkan belum juga dimengerti.
Tapi dia paham peran siapa dirinya sebagai wanita pasundan yang disimpan,
trauma apakah, apakah tujuan lelaki itu ini, semalam melihat untuk pertama
kalinya setelah kaget arti mengapa jadinya takdir di balik pagi itu juga lelaki
itu tempuh dalam sedalamnya jiwa wanita itu bahkan dia bukan jadi wanita yang
penakut di simpan, lintas runtuhnya di gagalkan rahasia siapa pasundan. Maka
wanita itu pulas tertidur walupun di simpan takut, dia melihat pagi itu dia di
panggil berani untuk ideal berperan layaknya kodrat wanita, yang bangun melihat
bajunya di lantai berdua dengan lelaki yang simpan dirinya apakah arti tujuan
waktu utuh telah di rencanakan lembayung ingin sebab melihat mereka telanjang
ideal dalam nafas dari ideal rahasia pagi itu memang inginkah lelaki itu
panggil dia berani untuk jadi pertama kalinya menjadi wanita.
Baju apakah rahasia maksudnya, baju rias arti dirinya di bawah lantai,
terlanjur rias ingin pakai kembali namun menginginkan ideal kemanakah, di
lantai ideal baju rias wanita pasundan telanjangkan dirinya, sedangkan apakah wahana batas baju itu beda utuh berani dia, berirama ingat
semalam nafas wahana dunia lain
berciuman silang dorong lidahnya berciuman buka demi utuh mengerti, mengapa
wanita itu, ingin cerita rahasia tempat terdinginnya hidup beda, malam itu jadi
utuh berbeda.
Bayangan pose ideal adegan telanjang
tadi pagi, ingin selamanya ideal, bagaimana leyaplah rasa takut semalam wanita
itu, melihat santun ramah, yang utuh beda dari kapal layar raksasa, dimana
pasundan runtuh, dan kini dia di simpan sebatang kara oleh lelaki yang
misterinya musibah sirna dan dia ajaib istimewa hilangkan takut di simpan,
seolah mengapa dia berani yakin besok dia aman, untuk tetap melayani dirinya
istimewa apakah intusi duga isi kemana hatinya ideal aman juga untuk masih mendengar,
diantara pagi itu masih berharap tahu di balik rahasia mengapa baju kesucian
lelaki itu tidak menakutkan tapi simpul apakah artinya sebab ra sebagai wanita
ingin masih mendengar dirinya, untuk sebab besok di peluk ideal dimana pagi itu
baju di lantai sebab. Maka secangkir apakah lelaki itu bercerita? Kemudian
lelaki tersebut merasa ditemani mahluk lain di pagi itu ketika dia tepat tampak
di depan lintas waktu percakapan sebelum lelaki itu Menegor wanita yang
meladani teh, dimana lama telah tumbuh diantara itu kebun teh milik lelaki itu.
Dan mendaratlah itu seolah memperhatikan mereka dan berirama, seolah ingin di
ketahui datang.
“Manu” Berirama suara mendarat seolah hinggap diatas daun setelah mendarat
mendayung dari terbangnya Ra melihat.
“Manu itu apa?” “Itukah artinya” lelaki itu melihat wanita itu dan memastikan nama tersebut di ingat artinya burung. Lalu itulah teh setelah lembayung di gunung lembang.
Prospektusiniumsiologi Disapu
Tinta Di Kertas
“Matahari sebentar lagi sore wahai Pejabat, timbang ideal apakah agar
anakku tetap dalam adat, kebaikan asuh diriku, setelah Dinasti Tang.” Bayangan
argumen, takut seorang ibu, Dinasti itu juga ini pemikiran kapal raksasa, Atau
akhir dari Dinasti Ming, Ibu siapakah bertanya untuk demi kebaikan turunan,
takut merasa permintaan anak pewaris Mahkota Ayahnya berani meminta menemui
ujung batas dunia lain dengan mitos wawasan prospektus kaptif sebuah kapal
raksasa dengan kerajaan binatang dalam kapal? Maka ibu dari putra mahkota
bertanya menginginkan aman dan besok dia masih ijinkan naik banding, agar
adiknya aja berangkat. Menemukan batas alam lain batas ideal hidup seorang
pelaut yang mewah. Bertanya Kepada Pejabat yang terideal untuk setiap keyakinan
kerajaan itu, masih Dinasti Ming.
“Setelah Permaisuri Pemilik ideal bandar dinasti harmonius,
prospektusiniumsiologi. Saya jadi pejabat menjaga dan membaca Jurnal Dinasti
Tang dalam wawasan, dan hanya argumen ini” Pejabat itu mengambil kuas tintanya
dan menulis diantara syarat untuk putra mahkota kaisar dinasti Ming.
Bila ingin keluar batas negeri itu juga, masih dia paksakan, jangan sebut
nama aslinya, dua kriteria setelah Ma, kemudian yaitu “Ma He” dan “Ma Sanbou”
juga “Cheng Ho” sebagai nama samaran,
Hukum dia karena pergi seperti layaknya calon Pejabat yang gagal sebab
gagal ideal jawab maka gagal, kecuali beda baju. Dia dilarang memakai baju
putra mahkota kaisar dinasti Ming karena bila dia menyamarkan posisi itu juga
ini maka kondisinya ialah ialah gagal, dia hanya masih boleh hanya berbaju
Kasim, dengan tanpa kehilangan
kejantanannya. Sebab baju kasim, ialah simbol, calon pejabat gagal suci
Prospektus maka agar dia ingat posisi kodrat itu juga sementara, bila dia aman
untuk pulang, maka dia belum juga ideal pasti ragu, takut, bencana musibah
belum tentu valid prediktif ini sebab saya juga harap ketika dia pulang memakai
baju kasim itu di lepas dan idealnya posisi memakai kembali baju Putra
Mahkotanya demi Tenteram Juga Harmoniusiniumsiologi Negeri ini. Maka Luhur
Propektus.” Menoleh beda Ibu kandung mahkota bandar yang harmonius itu juga ini
monumental ideal hari itu, ketika kertas itu di intip oleh sang ibu dengan
putranya seorang kaisar dari negeri dimana pejabat itu prediktif mencegah
bencana sebab anak tersebut memaksa kecuali adiknya.
Selesai Menulis itu juga ini ibu putra mahkota merenung melihat, Ia Membaca apa itu dengan prospektus Harmoniusiniumsiologi yang berharap memakmurkan bandar Dinasti Ming itu.
https://republiksinium.blogspot.com
oleh Mahesa Bayu Suryosubroto





















































































































108



























































































































































































































































































+









