Display Juga Jakarta dalam Sekutu Lencana Vietnam disembunyikan Jayakarta Invasinium Jepang Setelah 1945
Kemarin
Memorium Historium Saksi Hidupnya
Transisi si
bangsat brengsek Hatta Dan Sukarno
Kenapa “dia
atau ibu tien”
Aku
bersaksi di gagal tapi coba Majestik,
Gagal
demi daulat anak tapi majestik istrimu
Utuh.
“Suharto
of Memorium Great Leader arrive yesterday..., if tommorow would be different to
when ever is as if no
agresioncinium
what civil mistake..”
Ramalium Limbo Presiden Suharto Najis (slv1983)
Sekutu
Lencana Vietnam
Mahesa Bayu Suryosubroto
Precolonial
Maha Covenant
Prospectus, juga precolonial sebab, caraven lintas tahun 1215 ketika rahasia
sebelum itu, italic journal.
Seharusnya Raden Hamengkubowono
diantara varian, ragam namun hatta ialah iblis dan pelacunya ialah Sukarno,
belum tahu republik of american itu apa?
Treaty Bahasa
One there is else if evidance were of
else if precolonial treaty bahasa is arabic, leading mind leading my ancestor
of raden hamengkubowono succes saying other problem of journal islami cor
hadisciniumist but we are raden hamengkubowono covenant would.
Baraspektrum, “i” raden. Mahesa bayu
suryosubroto is part of batavia beliver. Hetred of hatta else hatred to
sukarno, leading our trading 0.31
recehsinium rupiah. Maka mengapa Indonesia najis. Kami hanya terjurnal lintas
batavia jayakarta dan indochina hanya tagging lintas, hina teras trading rupiah
indochina, bangsat brengsek selamanya keluarga Indonesia, bakar saja merah
putih kembalikan portfolio pancasila untuk hanya sulawesi,
Majestik, Raden, Hamengkubowono, argumen Maha Covenant keluar lintas waris
arti, ialah covenant pewaris, Maha Covenant prospectus, sejak precolonial siaga
bila juga persiapan, raden, hamengkubowono, teras pertama mereka
alignment.
One there is else if evidance were of
else if precolonial treaty bahasa is italic leading help journal help solve
find helping resolve covenant raden.
Treaty Bahasa
[B.A.H.A.S.A]
Beijing Assuming Historium Accociating Socity
Alingment
Angin Kelabu Duduk Warnamu Kecewakan
“Tommy Suharto syarat lintaskan Ideal ketika peran, dia adalah
anak dari Presiden Suharto yang juga syarat, dulu warna warni istimewa”
Bongkar
Tinggi waktu ketika sebuah warna warni dengan perseptual
keharmonisan, tinggi wadah wahana warna masyarakat melihat warna warni itu
sebelum suharto menjadi koruptor.
Tahun 1996, 28 April. Ketika komentarsiniumsiologi, suharto telah
di dalam bilangan tersangka, tapi komentarku beda melihat warna mereka, juga
memorium ibu tien meninggal, di ceritakan tertembak? lintas cerita menyangka
adegan realita di dorong semua prasangka, tapi mengapa mereka yang bisa
menjawab masalah hidupku yang ganjil.
Tahun Baru, 1995 melintas akhir lalu tambahlah baru 1996, di
tanggal itu. Mendengar lirik akhir dari lintas hal yang membuat tinggi pikiran
ketika mabuk dengan heroin.
Maka
setiap lintas arti Limbo Musibah kondisi keadaan Tahun lintas Indonesia,
semakin aku tua menjadi hanya seorang mantan pengguna heroin dari lintas
delegasi dudukan memperkelabukan warna warni hidup lintas pengaturan berdiri
dimensi limbo neraka itu. Lintas delegasi lintas warna warni angin kelabu
perseptual juga apakah heroin.
Melayang aku…, melayang…
Lagu melayang oleh dewa sembilan belas, aku dalam akhir waktu
sesaat merayap rasa mabuk dari heroin dalam darah molukular sel itu. melayang
kudengar, lalu tape dalam sterio memainkan musik alun alun merayap masih mabuk,
dari ari lasso yang bernyanyi di dengar dari tape itu lalu iwan fals bongkar..
Lintas hingga ceritanya aku tergeletak? itu sebelum sesaat ini
telah juga umurku telah empat puluh tahun.
Kesan itu memorium dari arti, lintas cerita ketika aku kriteria
tipe orang yang hancur ingin mensalahkan siapa mereka. Mereka Indonesia, mereka
itu duduk sebagai bangsa. Tapi dulu, mereka warna warni sebelum kelabu di
tanggal 28 April 1996, ketika belum mengerti paham apakah Indonesia duduk
melihat warna warni sebelumnya dimana keyakinanku suharto bukan yang harusnya
di fitnah sebagai koruptor.
Menyelidiki peran berdiri hidupku menyelidiki peran juga mengapa
aku benci Indonesia, lalu juga lintas selolah dimensi beda dan aku mensebut
dimensinium atau dimensiniumsiologi dari juga komentar masyarakat valid berdiri
melihat suharto seorang koruptor padahal lihatku beda bukan dia seorang
koruptor.
Tahun
1985 tanteku di bunuh, dia ialah harmonius warna
warni berarti untuk ibu..,
Telepon berdering di lintas ceritanya waktu lalu ketika kabar
pembunuhan membuat ibuku berteriak histeris dari bahagia melihat warna warni
indah hidup menjadi hampa utuh dari ruangan gelap yang mentiadakan arti warna
warni bahagia menjadi kelabu.
Bagai kelabu kegelapan di pinggir warna-warni gradasi aku
menderita telah tidak menghingat. Hanya saja histeris lintaskan cerita aku anak
kecil yang setelah tua ingat mederita histeris respon dari berteriak Ibuku
histeris, Dia tidak menyangka aku di malam itu terbangun dengan lugu arti
berumur lima tahun dalam peran berupaya mencoba selidiki juga segenap daya
upayaku sia-sia. Pada umumnya dari biasanya rutin dia yang mengajarkan diriku
untuk memegang wajahnya dan kita terikat dari ibu dan anak, tapi humor tidak
valid bedakan histerisnya. Bahkan aku di dorong hingga jatuh ikut berteriak
menangis karena kaget ibu beda menjadi…
Hingga
malam itu jatuh dari tidurku pengasuhku menggendong mentenangkan agar kembali
tidur, lalu ibuku pergi ke jogja dari kelaten juga, lintas cerita disitulah
relatif diriku terkait lintasan cerita kultur urban siapa berdiri bangun
Indoneisa padahal dulu warna warni indah.
Tetes sebuah seberang
Delegasi putaran sosialist
apakah orangtuaku kehilangan siapa dirinya, apakah kamu ayah gagal
mencari humor arti menjadi ayah. apakah aku...
mengerti
pura-pura apakah yang aku tempuh agar untuk mudah memahami masa lalu kamu ayah.
. ., sebab
"?apakah"
Aku ingin bangkit masuk dalam lingkaran hidupku sendiri namun
apakah kau atau kamu ayah sebab paham mengapa aku empatikan apakah sejarahmu...
tersesat rasanya lingkaran hidupku tiada pasti maksud takdir..,
namun utuh aku tidak bisa jatuhkan putaran alur arti darah dari warisanmu
menjadi manusia
Dia
historium misterius yang juga mengalir darahmu lalu kau putaran sebab? Maka aku
mengapa lingkaran hidupmu yang artinya kusalahkan apapun "Dia"
plotium-plot Gendong masihnya putaran kemarin sampai kini yang
sama..,
aku bersabar bertahan sebab mengapa
akhirnya kusimpulkan kau tidak sedang "sengaja" kamu sebab ayah humor
mayat hidup di depanku...
Lalu manusia ? saat masih lalu masih penderitaan..,
Lalu dari jadi sebab ketika aku adalah terpaksa merasa dari peran
sebab sebuah seberang.., dari dia hilang dari peran kamu ayahmu dari dia ketika
Historium ayahmu atau belum lihat aku siapa kakek belum arti ajaib ia beruntung
bagai kamu ayah apakah objektif ceritaku ialah terangkan sebuah keberuntungan.
Cerita
siapakah Kakek mengapa kau seperti meratapinya untuk di sembunyikan.., siapakah
aku atau siapakah aku indonesia.
kau tahu prasangkaku bisa lahirkan segala wawasan salah dari
akhirnya apakah.
Sembunyi
misteri apakah, siapakah aku dari akhirnya sebab.., putaran rasa cinta apakah
yang kau ratapi.., ketika aku bukan manusia yang utuh pahami itulah apa jika di
harapkan.
Waktu
memang jatuh terlambat, buruknya aku menjadi teman kepada kamu ayahku. Berperan
waktu apalagikah jika itulah peran kamu ayah.., jatuhnya saat aku, jatuhnya
saat kamu, waktu yang di sembunyikan alam ini, kepada
Peranan
kau belum lihat meratapi aku buruk.
Kecewaku masih jalan panjang yang selam di permukaan..,
dalam kecewaku dari rasanya semakin selam semakin cacat jiwa jika
hari.., apapun mendayungnya peran mencoba mengapa ini adalah penderitaan
ultimatum lewat seberang patah hati bukan berarti lebih apakah kamu ayah
kulihat tapi ibu apakah belum peran apa lupa air tetes sebuah seberang.
Perannya sepuh tua humornya terlambat aku siaga sembunyikan
penderitaan membuatku rapuh bertengkar, jiwaku mensalahkan lewati masih wawasan
hancur pengertian sebab bagaimana kamu ayah gagal mencari humornya penawar
musibah.
Rapuh bertengkar belum cukup cuma hanya halaman sederhana merasa
gagalnya siapakah aku selidiki sebab bayang-bayang kisah adegan pembunuhan
bayangan tersebut belum utuh bias kusalahkan orang tua sesalkan apa apakah.
Maka seandainya wawasanku ada lewat apakah biasa di seberang rapuh ini jadi
kuat tanpa cacat jiwa juga pada umumnya keluar lingkaran penderitaan sebab.
Penderitaan
kapan sembuh salahnya kusalahkan mengapa salah jatuh kusalahkan masih kamu di
kejar putaran salah sebuahnya jatuh penawar bila alur prasangka ini wawasan
tambah tumbuh salah lingkaran saat ketika kamu ayah padahal.., melihat
indonesia lahir.
Hari artinya
ajaib
Air dari historium
Tetes Sebuah Seberang.., satu walaupun putaran telah jutaan tahun
berlalu, satu ialah saat peran menjadi aku, satu saat sebuah , satu jadi inilah
Tetes sebuah seberang.
Dengar musibah belum di dengar belumnya Ia di halaman itu dari
dengan ada yang di perhatikan dari indah apakah pagi? satu seberang di dengar
satu dia diperhatikan apakah baru dengar ia ialah satu apalagi beda apakah dia
dengar.
Adegan Tetes Sebuah Seberang, menjadi penawar dari satu terangnya
fajar, satu panggung alam apakah cahaya menari di darat beda dari setiap satu
bilantara hari yangdengar musibah belum di dengar belumnya tersedia mensambut
ia walaupun seekor burung mendengar dalam sebuah halaman. Walaupun jauh
sungainya.., Walaupun Jauh sematanya historium ini bukannya satu waktu aku
dengar air tetes sebuah seberang.
Aku satu Bayangan, di apakah apa yang di lewatkan satu, dia satu
sepuh historiumnya ketika tetes ketika tidak sembunyi.., inilah dia yang lebih
mudah kutempuh bayangkan siapa? ingat aku satu bila seolah angka, sebuah.
Dengan satu sebuah, satu masih satu sebuah dia berlari sama, satu
dalam rumahnya petani, jika pagar halamannya berdiri tumbuh tanaman, dari
sebuah pagar dari sembunyi di sebuah seberang waktu. Berapanya pada umum tumbuh
itulah hijau banyaknya subur sama dengan pagar daun atau samakah satu dengan
rumahnya sebuah di balik ketika waktu. Air Tetes terus Tempuh sebab bayangan
itulah transparan di atas daun ajaib indahnya sihir para penghunidengar musibah
belum di dengar belumnya. aku tahu wawasan bersembunyi wawasan apakah satu
bersembunyi dan kau duga tahu lebih dari satu bersembunyi pagi itu di dengar
sihir dekat daun seekor burung.
Air tetes sebuah seberang, siapakah pergi keluar dari suara-suara
burung di pagi hari, Air tetes terus tempuh bayanganku dia suharto siapakah
presiden dari tumbuh daun-daun pagar itu, dimana apakah satu lingkaran hidup
terus air tetesnya terus tempuh satu bayangan dirinya ingin merasa baik. Apakah
dia merasa benar mengisi ruangan isi hatinya diisi walaupun kosong peran
berangkat akan menjadi TKR.., apakah kosong arti di dengar belum niat jadi
ketika keluar pandangan peran sebuah keputusan maka dia pergi apakah ke jogja
di seberang setelah kraton Dari dimana sawahnya berangkat siapa ayahnya
presiden suharto mengolah tanah untuk sawah dekat air tetes terus tempuh, bila
sebuah hari artinya ajaib.
Berdirinya dia
Lewatnya waktu
Aku ingin bangkit masuk dalam lingkaran hidupku sendiri namun
apakah
orangtuaku kehilangan siapa dirinya, apakah kamu ayah gagal mencari humor arti
menjadi ayah. apakah aku... mengerti pura-pura apakah yang aku tempuh agar
untuk mudah memahami masa lalu kamu ayah. . ., sebab
"?apakah hanya ibu yang gagal menjawabnya"
aku
bagainya repal tangan gendongmu "air" yang mustahilMengapa berhenti
Lepasnya kau ikat wawasanku
musibah di misteri jatuh untukku
Air
Tetes Terus Tempuh Lewatnya waktu apapun alam ajaib ini yang kuyakini maka
sepenggal seberangnya ialah cacat jiwaku.., mengapa aku yakin melihat sebab,
dimana berdirinya dia.., ibuku.
Sementara belum benar kuselidiki namun lewatnya waktu..
Pembunuhnya Sepuh Umur Lewatnya Waktu, Jatuh Air Pesona dalam
Keluargaku dari bencinya aku melihat Ulang Bayangan Ibuku mungkin kaget
mendengar kesaksian pembunuh adiknya itu, menceritakan hal yang melewatkan
ruangan kosong dimana kriteria peran Pembunuh kucurigai mengapa di validasikan
hakim ketua? Aku tahu ayahku telah menjadi lewatnya waktu.., peran gagal yang
dimiliki lewat lalu apakah pernah kutunjuk kamu ayah gagal menjadi orang
tua.Juga Ibu dia seorang apakah lewatnya waktu sebuah seberang di luar peran
asuhnya kepadaku menjadi ibu terlalu sibuk menjadi penyidik.Artinya Apakah Arti
lewatnya
waktu di ratapi arti validasi sebuah seberang apakah yang di lewatkan hakim
ketua atau siapa memberi keputusan adil belum masih kriteria.Juridifikasi lokal
apakah peran saat itu keadilan berputar.
Hukum
validasinium keadilan berputar
Lokal Juridifikasi
Jatuh Peran, Mayat Hidup, Jatuh aku, jatuh matahari, jatuh
warisan, jatuh rasa, jatuh peran, jatuh jembatan hidup semua, jatuh
Juridifikasi, aku tidak bisa jatuhkan putaran alur arti darah dari warisanmu
Hidup alurnya struktur darah apakah beri kriteria benar jatuh aku?
Validasi rasanya hukum alam lewati-lewat peran aku beruntung. Organ Anatomi
tubuh ini wariskan, fungsi lokal sebuah jantung, pustaka apakah jatungku
bermimpi,
Jatuh Peran, Mayat Hidup, Jatuh aku,mimpi artinya.., mimpi
takutnya.., mimpi fungsinya.., putaran hukum alam mimpi beri peran apakah
aku.Mimpi jebak..,ajaib jebak.., waktu jebak, takdir jebak,mimpi beri peran
apakah aku...., musibah jebak, terakhir beri waktu sebentar apa apakah misteri
jebak, hidupku.
Jadi
Raksasa pustaka apakah jatungku bermimpi, Baru mimpi lalu belum jatuh gelap,
Pasir matahari sepenggal pencerahan beri lihat jatuh peran terang tiap butir
pergi butirnya cerah dekati jantungku terang dalam gelap permukaannya didatangi
seberang jantungku bermimpi.Pasir matahari di tiup butirnya walaupun jutaan
beruntung waktu tempuhnya gelap jantungku, terus pustaka belum tempuh belum
lalu beri kemarin belum apakah warisan kuterima diriku sendiri.Loncat Berlari
supersonic tapi masih belum sihir butir ajaib cahaya mengapa matahari belum
warisakan kriteria selamanya
pada jiwaku..,
belum kau sempurnakan hidupku.. belum berlari untuk
kemarin..,Lokal Juridifikasi..,Musibah mengapa perihnya paksa "???"
Perihnya sebatangkara Masih Berdiri..,
perihnya aku masih padahal tahu seolah apakah benar bersih Nama Presiden
Suharto, ingin juridifikasi hati selidiki sebelum pasir matahari seolah apakah
benar tahun 1985, kulihat sama dengan jumlah rinci adegan valiadasi benarnya
ketika apakah di saat ini halusinasi bukan validasi sebuah seberang masa lalu
yang di balik raksasa misteri."Butir.., tiba pecah" jangan Mimpi biar
validasi Juridifikasi.., kemarin atau hari ini aku berlari masih berlari seolah
raksasa juridifikasi waktu menjaga. Aku tahu dimalam itu sebuah saja bila benar
tanpa bilantara adegan scenario lain. Sesungguhnya Dice adiknya ibu yang di
bunuh itu apakah bukan mustahil masih pasti mustahil tidak meminta keseberang
siapa tommy suharto bila kriteria Dia belum apa apakah santun.., kubayangkan
dia meminta ijin kepada temannya siapa mba tutut bila dari akomodasi bisnis,
ketika agenda dari misteri apakah komposisinya ialah apa yang di tempuh
"tommy suharto" sampai dari peta denahnya wawasan apakah kuanggap mengapa
presiden suharto atau
keluarga
suharto di plot dari "agresinium akomodasi"
Tahun 1985
Agresinium akomodasi
Agresinium
Akomodasi bilantara lewat denah upaya anda mengikuti.., tahun 1985 ada
ketegangan yang membuat semua cerita menarik dari simpulnya tahun 1997 di
simpulkan suharto korupsi.., bahkan tidak selesai misteri masalah siapa suharto
sebagai presiden lalu dia wafat dengan kejadian misteri lain yang secara
supersonic wawasannya ialah kriteria kemarin yang "abstraksinium" dan
itu nodanya di masyarakat terlalu cepat mensimpulkan masalah tanpa memberikan
keterangan supersonic jatuhnya
"The building blok" siapakah indonesia sebab nyata utuh
ratanya kiamat ialah di mulai dari ketika ada arsitek iri pada "tante
dice" kerja sebagai karyawannya "Tuan atau bapak, Tommy
suharto".
"Mba permisi mau minta
ijin nih tentang suami saya" aku membayangkan Tante dice setelah sebuah
seberang kemarin malam suaminya minta rezeki bila mustahil.
"mau
pulang jeng" dice di malam hari bila makan malam di rumah cendana bila di
undang kumpul akomodasi bisnis
wancana ibu tien suharto
"bukan Mba!!?!! Cuma mau ngobrol di
seberang sama mas tommy, tentang akomodasi bisnis mas tommy ituloh jeng
tentangsuami saya Arsitek...,ingin kemarin gabung peran ikut-ikut bantuin kerja
lewat shere wawasan, tapi minta ijin dulu sama mba tutut" Dice di panggil
gabung malamnya untuk nongkrong rekan atau keluarga dengan daster dan sandal
slip meminta ijin sebelum musibah masa depan di bangunkan.
Lewati bagaimana
Kabut misteri mimpi
Masih aku lewati kabut.., "Berjuang arti keluarga" apa
apakah dari Misteri masih "takut kehilangan arti" Empat puluh tahun
tentang berdiri tempuh lewati bagaimana?
Di
belakang takut masih lewat.., masih aku apa apakah lewat kabut masa lalu,
lewati bagaimana halaman di belakang tulang punggung misteri dari bisikan
apakah yang telah aku, mereka atau kita lewatkan.
Kematiannya kemarin adiknya ibuku ialah 'juridifikasi
supernatural' dari alam semesta dimana misterinya masih apa apakah utuh.
Apa apakah utuh aku sedang bertengkar dari pustaka wawasan diri
sendiri memahami kematian kemarin dengan kematianku sendiri dalam bila
naturalisme wajar pada umumnya.
Tempuh kabut misteri mimpi, seolah juridifikasi supernatural..,
Tapi kemudian penyelidikan alam semesta ini bagaikan sebuah platform dari alam
semesta mensiapkan waktu sebelum kita mati.
Dari alam Kematian ibuku atau adiknya atau ayahku, mereka atau
kamu memikirkan di luar batas solarium bagai ada surga dimana mengapa putaran
hidup kalian kapanpun itu merasa patah hati sebab dunia terus tempuh mangsanya
paksa kalian masuk sisi gelap sebuah putaran ulang rasa sedih.
Sedangkan
aku bagaimana kemarin bagaimana percaya
surga itu apakah ada..,
Aku
tidak mau menunggu kemarin untuk kedamaian hatiku masalahku lebih dari apakah
pesan mereka intinya aku ingin tidak beragama atau memilih non religus walaupun
pada umumnya kalian memilih percaya atau yakin setelah kematian ada
Juridifikasi supernatural saat keterangannya putaran sama ulang saat Kabut
Mimpi Misteri sampai Di
Luar Batas Solarium.
Subur Rumput Di
luar
Juridifikasi Supernatural
“Siapakah
Raja Mataram Berani Sandingnya Lembut Matahari Raksasa Selamanya waktu Terang”
Dari Kuduga Tapi apakah Alur kemarin historiumsinium yang kumaksud
ini Changi Kemudiannya Tara Musibah Kemarinnya Gunung Buatan Manusia
Aku tidak
pada umumnya, aku lihat matahari itu dari mimpi bawa takdirnya beraninya
spektrum warna bilantara sandingkan matahari rana keterangan seolah dalam mimpi
matahari itu bagai tongkat membara di ujungnya ajaib adalah cahaya yang melihat
warisan siapakah aku dalam gelap mimpi diterangkan aku untuk tunduk kepada
"raksasa"
sebab apapun apa rasa betapa sulitnya
Dia
Sungguh sebagai sepuh dari aku sungguh masih bertanya sebab sebagai Legenda
Pewaris Mataram yang
Berani
bila dia ingin ajaib kabulkan inginku.
Maka
arogansi berikutnya ialah misteri dermawan siapa sepuh, dia raja bertengkar dan
dia pemilik pulau jawa yang di lupakan sebab generasi berikutnya mereka para
raja mataram, yang dari wawasan delegasi sosial "kami
Keluarga"
terhampas
satu kata nama ajaibnya menjadi penjaga rumah kraton mataram.
Sesaat
sejarah
sebelum jepang menyerang aku yakin akomodasi dari amsterdam
mereka raja yang masih di hormati amsterdam, dari
akomodasi
bisnis bila "1 rupiah"
terjaga
maka sesungguhnya "kami Keluarga" berbeda dengan "Delegasi
sosialist" jika "dermawan salah prospektus" Dari Amsterdam dari
tidak mungkin tidak lewat romantisnya setuju kereta itu ialah ,1rupiah.., Jadi
ketika bagai seolah warnanya Matahari ialah akomodasi
"yolkyakarta"
untuk Masih sesungguhnya Pulau yang dulu di datangi kakek kami
membawa raksasa,
dari siapakah kami pewaris dengan Raksasa yang kini menjadi debu
bertengkar demi lahirnya agung hanya satu.
Maka itu di rahasiakan dari makam para raja mataram, namun aku
harus tahu putaran tempuh mengapa jepang yang mentiadakan seluruh wawasan
akomodasi dari sepuh siapakah bila benar hamengku bowno pertama memiliki
akhirnya tempuh siapakah akhirnya diantara raja itu memiliki anak bernama
RadenArjono Sindusubroto Maka Sepuh walaupun bukan petarung bagai runtuhnya
Majapahit... kami adalah Mataram dan aku ingin subur rumput di luar bagai
nikmat ganja seolah humor Jupiter ialah telah tempuh evolusinya sebuah plenetarium.
Bila Jupitersiniuim lahir di jaman yang kuduga, bila air
putarannya tempuh Juridifikasi supernatural masih mengingat namaku sesungguhnya
walaupun terlambat ingin langsung tanpa penyelidikan memahami Dr Suryanto
Sindusubroto, dan mengapa ada yang salah seolah Rumput di luar tumbuh berbeda?
Kamu
ayah yang telah memberi nama Mahesa Bayu
Suryosubroto untuk terlanjur musibah sebab “air tetes terus
tempuh” waktunya untuk sebuah kematian namun di seberang detik Juridifikasi
Supernatural. Dari detik apa apakah Yogyakarta lalu yolkyakarta dari historium
rumput di luar.
“seandainya Ganja” bila kau dengar rumputpun tertawa setelah
kambing guling. Bagai dapur masa kecilku.
Kamu
adalah kuning telur, lalu kamu adalah akomodasi, lalu tetapi kamu juga
juridifikasi sebuah putaran tempuh sebuah peluang aku tahu aku lahir untuk masa
depan, namun itulah patah hatinya dari kereta atau Rumput di luar dekat ayam
liar dalam hutan sewaktu kematiannya historium dari juri akomodasi aku bermain
maka yog adalah yolk putarannya halaman sederhana
Tetes Sebuah Seberang
Kematian sebuah Prodigy
Jatuh Diatas Langit
Navigasi lebarnya mendayung, Dari realita aku di sebuah seberang
dari apakah rasanya tinggi. Apakah Mendayung sayapnya burung albartos bisa
tidur seketika bukan jatuh diatas langit.
Berbeda dengan aku Tinggi Namun Jantungku mendayungkan alur
informasi siapakah aku... darahku alur dari tetap fakta jantungku yang hidup
sedangkan pikiranku mayat hidup.
Heroin dalam anatomi, terlalu takut tempuh rasanya mabuk dengan
heroin di new zealand.., Maka aku buang di “close set” kemudian sakau.
Kemarin sebuah seberang sebuah waktu, tetes darahku ialah
informasinya bukti jantungku di jakarta.., Kampung bali dekat dimana itu Jalan
Sudirman.
Rasanya artistik apa apakah itu abstraksinium empatiku menjadi dan
aku ingin hilangkan rasa takut dari bagaimana mekanisme seluruh informasi dalam
vena nadi pada molukularsinium menjadikan darahku tetes sebuah bekas arti
dimana rasanya darah yang asin kujilat itu memang najis terasa pahit.
Kemarin kusembunyikan cerita diskografi seorang Dj dengan musiknya
dari akhirnya tinggi jantungku hanya ingin lagu prodigy saat itu atau ingin
jadi bagian dari seolah ganja padahal tetap opium.
Kematian sebuah Prodigy, kau katakan itu ini ilmiah namun apakah
indonesianya di luar batas halaman ketika saat historium setelah mimpi
kematianku kalian membaca melihat ini ialah musibah.
Ibuku lahir dari keluarga bangsawan dimana masih apa apakah
alurnya ialah Majapahit, lalu ayahku atau kamu ayah aku yakin aku berdiri
sebelum kemarin mataram bila changi akhirnya ialah juridifikasi Validasi Bila
memang Changi masih ayah dari semua raja Mataram.
Maka Kunamakan dia Agar Lestari dari kekasihnya siapakah Changi Di
seberang Sungai Sindu di Mana kemarin Garuda membantu. Anakku Siapakah
kriterianya beruntung menjadi Pewaris Sindusubroto.
Aku
tahu aku bukan siapa-siapa, namun setiap rasa heroin yang bukan pada umumnya
rasa jarum dari suntikan dokter umum memberi vaksin bila validasinya mensihir
seluruh pasen maka mereka belum benar paham wawasan dokter.
Sebuah suntikan Cuma hanya pada umumnya rasa vitamin C namun liquid lalu apakah kemarin presiden
suharto di lihat anaknya sebelum dia pergi dalam Kematiannya salah paham apa
sementara seolah sekutu apa apakah artinya di hianati artinya kemarin tingginya
status masih putaran salah padahal dulu historium ragam juga apa apakah sekutu
lencana Amerika berkhianat.
Apakah wawasan semua SLA atau Sekutu Lencana
Amerika ialah wawasan yang artinya tidak bisa di harapkan setelah
Delegasi Indonesia ke sebuah seberang Sekutu Lencana Vietnam.
Seolah Kematian Indonesia bangsa yang salah masih seperti Kematian
ketika seolah ajal seorang manusia roamantis Ceritanya namun arti akhirnya
jantung rindu pada seorang kekasih siapa dia orang jawa yang polos itu dianggap
kutukan bangsa. Kemarin Bahkan sebelum Mataram seolah tidak di rindukan
dermawan akomodasinya bertutur kata pada kaum amsterdam setelah 1 rupiah.
Aku tidak tahu jarum apa yang bagai bertambahnya jarumku setiap
hari. Aku tahu suharto seperti kakaknya ayahku sebab TKR.
Aku
tahu hampir semua mereka yang masih lihat sepuh siapa kalian memiliki sepuhnya
cerita manis dari hampir kemarin jadinya putaran masa lalu percaya di seberang
apakah lelaki melihat wanita berdiri hanya punya halaman sederhana untuk
melayani.
Aku tahu suharto sebagai presiden bukan manusia siapa dia tidak
kubayangkan ayahku mengapa tidak memiliki istri kedua. Padahal Ibuku hampir
belum paham fungsinya atau belum paham dari simpulnya aku melihat seluruh
kejadian prospektus musibah ini.
Dari
prospektus prospektrum sampai prospektrium maka sihir prospektusiniumnya mayat
hidupku ini memang patah hati.
Di seberang sebuah hidupnya aku memakai heroin, memang ialah rasa
dari sisi hampa yang salah paham dari akomodasi terhormat seorang ibu.
Masih
berani aku kepada ibuku dari kemarin historium mengatakan dia ibu yang brengsek
sebab meninggalkan anaknya, sebab waktu putaran dari dia mencintai Dice sebab
dari empati hingga merasa memiliki. Beda dengan
dugaku ia..,
Kemarin dari masih sembilan bulan ia merasa haknya aku jadi
anak.., padahal dari saat musibah aku berumur lima tahun telah tempuh umur lima
tahun kecewa patah hati yang hampa.
Aku tahu hampa ini bergerak sejak maksudnya dia tidak sengaja
mendorongku hingga takut.., walaupun ia sengaja telah mendorongku kecewa pada
putaran gelap selamanya kematian, kecewa patah hati pada kriteria karakter itu.
Melihat karakter kriteria dari musibah ibu merintih sebab adiknya
di bunuh ialah fungsi air tetes tempuh empatinya tumbuh menjadi apa apakah dia
bergerak pergi meninggalkan belum mengendong aku kecuali heroin lalu dia kaget
dan kamu ayah yang sebab humornya mengapa terlambat memotong anakmu sendiri
bagai bebasnya mensembelih akhirnya jadi kambing guling seekor itu.
Kamu ayah humornya yang padahal bisa melihat dia sembilan bulan
indah bulan madumu, seperti semalam kemarin sebelum aku tidak sengaja di dorong
beliau yang brengsek senang menjadi ditektif namun kalah menyelidiki arti
diseberang kebenaran.
Kalian berdua masih kukutuk sebab, dari masih bila
halusinasi kalian hidup..,
Kalian berdua bila kemarin mati berdampingan di kubur dalam
komposisi Nisan dimana kematian dengan nama seberang kriteria alur dari
humornya aku bukan pewaris nama warisan objektif dari binti bagaimana siapa aku
berwawasan akhirnya bagai sampai seolah pasir matahari tiba di bumi tanpa
bagaimana kalian lahirkan aku di kutuk alam. Maka kalian orang tua yang
brengsek.
Hampa
Jatuh dari Langit itulah rasanya patah hatiku.., seharusnya seperti pada
umumnya lelaki dari siapakah kamu ayah polos sebagai dokter bedah atau siapakah
kamu ibu yang berani menjadi penyidik payah walaupun jadi pengacara dari
akomodasi agenda musibah itu.
Langit Hatinya
Solariumist
Undangan Bumi lahirnya delegasi
Kertas Sakaral apa, kertas sakral utuh nodanya dari hitam aku
siapa? takdir nyata putaran itu ini darah najis.
Darah Najis mendayung alir waris darah harusnya hormat mereka pada
apa adat siapa aku dari seberang kemarin waktu lewatnya. Kertas putih dan Hitam
tinta bukan fungsi darah najis festival jantungku hidup sebab organ bagai
seolah melintang mendayung jatuh dari langit bintang kejora seekor dengan ilusi
seolah pasir matahari itu ada di sebuah terus tempuh seberang putaran apakah
kusebut bintang-bintang disana. Itu ini matahari lalu lewat seekor kejora
mengapa?
Belum bunuh jarum festival jantungku masih senang takut kematian
sebuah akhirnya lestari hidup sebuah seberang gaya laganya di luar setelah
rumput tumbuh subur rumput masih di seberang belum masih puas jarum
menghentikan metabolisme fungsi sel Mayat hidup ini beragresi tentang fantasi
terliar.
Juri juri melihat aku berlari laga, dari di luar batas solarium di
sebuah gala planet dimana di seberang kebun itu adalah rasa takut saat sepasang
Anjing haus air tetes najisnya aku.., takut, jika itu ini nafas terakhirku di
antara mahluk-mahluk tambah tumbuh pohon lestarinya rasa takutku dalam sebuah
hutan di seberang vietnam.
Kemarin aku ingat dalam dinding molukularsinium sel darahku
artinya fungsi organ jantungku berdansa menari ringkas enerjik kekuatan wawasan
atas rasa penasaran namun tiba tiba hampa tinggi jatuh dari langit. Sadarku
berlari dalam hutan setelah kabur dari tahanan dalam vietnam menunggu aku
diseberang bergerak lari di tunggu para juri menjadi apa artinya nilai hidupku.
Gala-gala itu ini luas, masih di kejar takut di tangkap najisnya
air anjing jika sampai di tubuhku. Aku belum patah hati takut tapi sesaat itu
aku berani lari untuk hari ini. Tapi jika sedetik saja lihat itu ini ialah
sadarku membenci rasa lestari bilantaranya. Setiap hutan tambah tumbuh takut
aku merasa kemarin jarum heroin adalah kemarin apakah sebab arti membuat
sepasang anjing ini ialah halusinasi dagingku bagian dari gradasi air tetes
binatang berkaki empat yang sepasang di perbatasan sebelum vietnam. Gala-gala
air tetes belum rasa kematian berdiri sejak dari halaman dimulainya aku kabur
lalu kaget sepasang lewat galaknya aku takut, belum aku ingin loncat mimpi
halusinasi ilusi itu ini langkah seandainya kubayangkan dari awal bisa
kubayangkan halusinasi mereka anjing sepasang yang bersembunyi membuat tiap
patah hati takutku jadi tambah kecewa, aku siaga tahu langkah-langkah daruratku
loncat seolah di sebelah aku di sembunyikan dari jebakan jenderal bertengkar
perang vietnam aku loncat dari abstraksiniumnya ingin langsung bukan jauh apa
apakah itu ruangan kaburku di sebelah vietnam. Takut nafas terakhirku berharap
bila saja dilema tetes sebuah hidup seberang sebuah kematian hari itu ini
jarum.
Aku berlari .., aku berlari.., masih berlari..., terus berlari...,
biarkan berlari.., masih jatuh.., disebelah jatuh.., tambah berlari..., haus
berlari.., takut jatuh.., lewat lari.., tempuh jatuh.., bawa berlari.., tubuhku
jatuh.., apa jantungku.., itu ini berlari.
Jatuh di sebelah dimana aku takut sepasang ekor sisanya paru-paru
ini ingin jarum heroin sebab lelah berlari. Di belakang pikiranku kemarin jarum
membuatku bermimpi. Gala-gala bila dimana hutan lewat melintas ingin jarum tiba
dengan heroin masih sepasang anjing kejar aku tambah putaran itu ini keluar
dari kamar itu. Aku kaget di kejar sepasang anjing lalu lewat kebun mereka
lestarikan bunga buah opium dimasak di rumah itu.
Terpontang-panting halusinasiku mendayung ingin hidup mengapa
tidak di dalam ruangan yang sembunyikan aku saja. Padahal itu heroin dari sebab
jatungku adalah festival berdetum jurinya mempompa nilai kriteria siapakah aku?
Aku berlari loncat padahal dimana jatuh loncat saja masih cuma
cukup ingin di sebelah itu ialah dekat dengan halaman aman delegasi sosial
vietnam, siapakah aku untuk “mereka” siaga seberuntung takut siapa aku berdua
dengan heru.
Di kejar siapa berdua masih sepasang ekor setan terus takut
darahku pompa jantung meledak bara panas paru-paru takut sakitnya hipertensi
tekanan darahku ini menjadi berpacu gala jurinya menunggu anjing itu apakah
akhirnya berakhir aku aman di jaga belum habis di gigit terluka dari
beruntungnya kemarin jarum heroin ialah durjana siksaan mereka.
Aku kaget paru-paruku meledak putaran sakral lewat belum dimakan
sepasang anjing masih berlari terus tempuh dalamnya hutan dari gelap pagi
hampir terang seperti terangnya terbangun sadar udara pagi itu ini rasanya bisa
tenang paru-paru sebab seolah beristirahat bila fungsi anatomiku sedang berlari
kemarin masih overdosis sisa rasa
heroin.
Saatnya habis buka waktu yakin aku bisa bertahan lebih kencang
berlari jika sedikit lebih tambah saja rasanya fungsi langkah ini lebih tenang
bila heroin rasanya memerintah program fungsi keinginan di samping metabolisme
molukular sistem pegerakan mekanisme dari tiap langkah kabur takut pada nafas
terakhir kematian jangan di makan anjing.
Heroin Sihir aku sedetik saja overdosis maka aku yakin siaga tanpa
takut, bila saja dalam hutan berlari dari bertanya juri durjana jenderal yang
tangkap aku dari mengapa mereka ingin sebab itu inikah.., Heroin sihir aku
ingin mentenangkan sel darahku pada umumnya rata mengalir di setiap takdir
darurat masih berlari.
Sihir berlari bantu aku dengan heroin, mencari takut dalam denah
hutan.
Bingung denah alam wawasanku bergerak, meknisme orbital gala
posisi pagi yang mulai terang juga rasanya hampir mati saja juga dari kiri atau
kanan langkahku dimana aku dalam denah sakit rasa merasa overdosis terasa
heroin hampir sisa ampas akhir dari kepala merasa demam sebab jantungku tirani
dari organ dimana pundak atau kiri jika kanan melangkah berlari. Kepalaku mulai
merasa mendayung darah dalam aliran dorong terus demam.
Mendayung-dayung seolah demam kepala mendayung muara sebab darah
di pompa jantung menjadi demam dimana orbitalsinium ialah kepala yang rasanya
hampir pecah rasa tempuh pada teror di belakang suara anjing yang wajahnya
belum aku lihat.
Jantungku akan salah fungsi pompa, darahnya terus ingat kemarin
sore jarum ketika di dalam ruangan itu ketika jarum heroin di sebelah dapur aku
disembunyikan melimpah dekat kebun sebab lilin kecil itu larikan maya
imajinasiku apa apakah gala kebun bunga opium itu mengapa lebih harum bagai
wangi dari sesuatu yang serupa namun aku tahu diseberang wangi itu seolah ini
adalah planet dari langit-langit dimana sebuah sihir heroin menjadi sebab.
Jantungku akan bertanya tenang fungsi mekanisme, darahnya terus
tempuh wawasan ketika takut di dalam rumah kemarin dari aku kabur.
Dari jatuh salah sebab kutinggalkan rumah itu padahal sihir heroin
bisa lebih baik sebab demam dari wangi sebab siaga diriku pada gala lestari
kebun heroin itu subur dari diluar masih seolah sebab jika putaran gelap dingin
dari ekor kejora ialah pasir matahari dimana di bawah langit-langit dia melihat
aku delegasi sosial Indonesia yang di undang siapa sedang bermain bara sihir
heroin sedang di siapkan jarumnya untuk di suntik kemarin dari jadi wangi itu
ialah sebab rinduku.
Kebun bunga untuk tamu delegasi putaran sosial dari sebenarnya aku
aman di balik ketergantungan masih jika diseberang dimana dalam hutan aku
tersesat juga belum paham mengapa demam ingin ada di belakang ruangan penyiaran
di dalam amannya upacara melihat siaga mereka dari planetnya pagi dalam markas
saigon di seberang belajar bahasa amerika untuk sekutu lencana amerika aku
berharap menemukan diriku telah terlanjur melihat di luar batas solarium tambah
takdirkah aneh alam semesta jika ada rumput lain tumbuh sebab di luar sana.
Sementara puing-puing terasa kanal-kanal dari sisa kemarin histroium masih aku
berlari menyeberang batu-batu situs purbakala di tetangganya vietnam.
Wangi demam sihir heroin dimasak tiba-tiba ingat aku terpelanting
dan dalam batasnya anjing itu kaget melihat aku tergelinicir seolah di bawah
langit-langit rahasia sebuah dapur melipah getah hitam bunga jelas aku lihat
dalam dapur itu padat di panaskan melentik ingatan di adon bagaikan formula
rahasia aku terpana sihir heroin sedang di resepkan masak dari getah
intensitasnya seolah kebun itu menunggu malam tenang dari bila bunga opium
tumbuh untuk manusia istirahat dan tidur bersama ekor bintang kejora membawa
pesan berita ada planet serupa di luar batas solarium.
Apakah aku seorang solariumist, telah menseberangi galaksi,
menemukan idealisme arsitektur pilar seolah rumput tumbuh tetap kemarau, saat
solarium di seberang bintang-bintang menemukan planet tenangnya intensitas saat
putaran hitam mengadon adonan gala hasil bumi dari bunga opium ialah getah yang
di densitaskan formulanya dalam mutasi molukular sesaat planet itu lebih
sekedar dari misteri dimana diriku melihat mereka ingin mensambut jantungku di
persembahkan pada itu ini.., prinsipnya konflik.., sesakti apapun siapakah aku
sekutu lencana vietnam dalam undangan apakah menyesal telah salah melihat situs
wawasan historium objektif wangi demam sihir heroin menjadi prinsip lewat
misteri indonesia mereka seolah lebih paham membela rajanya di bandingkan
lemahnya indonesia dari mataram atau akomodasi amsterdam ketika belum jepang.
Indonesia aku adalah delegasi putaran sosial yang mencari kriteria
dari terpontang panting dalam densitas seolah jantungku melihat festival adonan
pekat hitam getah dari opium menjadi itulah ini apa langitnya itu ini adalah
festival merayakan dia melihat aku tertidur akhirnya beda formula apa sihir
heroin membuat heru temanku di introgasi dalam lentik bekas hitam getah seolah
di densitas putih serbuk tumpukan sebuah gunung nikmat kusebut.
Sungai
membawaku kemana jatuh tergelincir langkah di pagi itu biru atau awan di langit
putih dan aku telah tergelincir aman beruntung masuk masuk sejuknya putaran
orbital demam di kepalaku berhenti sebab sungai membuat anjing kecewa berhenti
dalam suaranya yang kaget masih berteriak seolah pasir matahari tempuh pagi itu
di bawah langit mendayung di bawa misteri kemana diriku tidak peduli pada wajah
jenis apa anjing yang telah mengkejar aku takut.
Janji Rumput Di
luar Ingat
Mimpi berdiri Masih kartunya
Kemarin sawah-sawah masih diantara hutan dimana
takutku di temukan namun sejuta kemungkinan aku takut pada wajah apapun kaget
anjing yang kecewa.
Di tepi seberang saigon siaran radio mereka masih sedang dalam
siaga yang bermain kartu poker sebelum masih pasti menghitung berapa banyak
pulang membawa bergeraknya kemarin gerilya bahaya merajut musibah ketika besok
janji rumput di luar ingat rasanya masih hidup masih aman siaga kartu poker di
dalam sebuah kriteria akomodasi bisnis kaum sosialis para pustaka pemilik
bisnis di kota di balik belum di serang jebol sampai takut bermimpi.
Kemarin sawah-sawah terakhir suara pagi menjadi malam dimana aku
ditemukan lalu tempuh kembali dari rumah petani siapa mereka akhirnya sungai
itu membawa aku tidak sengaja di jemput jadi sekutu lencana amerika.
Mereka
menjemputku hampir dari tempat zona prinsipnya perang. Sementara di seberang
laut itu ini tahun pembina undangan berdatangan.
Perang seperti prinsipnya besok jadi tambah apakah bentuknya gelap
bayang-bayang bahaya merajut musibah menunggu masih sedangkan markas saigon
berduka cita tambah.
Aku masih mabuk melihat mereka main kartu poker sementara ada yang
mabuk namun terlalu kaget dari prinsipnya konflik. Sementara itu indoensia
pragawati favorit populernya di beritakan di bunuh. Bagaimana penyelidikan di
indoneisa beritanya menarik perhatian, dimana kabar berita misteri pembunuhan
dice seorang pragawati. Aku Mimpi berdiri beruntung masih hidup dari setelah
penagkapan sementara Heru masih hilang entah kemana “???”
Lambungku sedang bercerita apa nafsunya mendengarkan radio
penyiaran para tentara amerika, sedangkan berita delegasi dari penyelidikan
juridifikasi wanita cantik tersebut seperti lebih beragresi warna infasinya
membuat aku kaget. Sebab lebih dari rumput di luar apakah jakarta kubayangkan
bisa lebih buruk masyarakatnya paham arti dimana wawasan denah putaran politik
objektif menariknya.
Kiranya siapakah yang menjadi penyelidik subjek dice di bunuh
masih mencari tersangka, sedangkan penasaran apakah aku pada keluarga yang di
timpa musibah.
“siapa iya detektif oprasional respon berita kabar buruk dari
indonesia?” aku membayangkan mabuk namun main poker di seberang meja penasaran
sementara disampingku seperti tentara kecewa padahal seperti masih remaja
beruntung masih hidupkah dia dari hutan atau kaget baru datang dari sebab
Lencana. “buat apa iya kok ada peranan manusia hidup ingin apa masih punya
keberanian wajahnya seolah bermain-main dengan bahaya.”
Artinya simpul bila berakhir perang cerita musibah dice mungkin
semakin cepat semakin apa iya terangkan di balik pembunuhan “Astaga Durjana”
Kematian
terlalu murah apakah lebih murah mati dari artinya bila aku tahu ada pelacur
disini rasanya apakah ajaib sebuah putaran yang ingin aku selidiki saja.
“Mas Toni dari Jakarta iya”
Aku tiba-tiba ditemani kaget “, iya kamu astaga siapa?” Dia siapa
iya kok datang menegor bikin kaget saja.
Dia memintakan bartender untuk aku menerima tambahan minum bir
“saya perwakilan validator dari permohonan untuk mencegah infasi, masih tentang
kemarin musibah, ini perwira amerikanya.., rutin hari ini agenda keamanan.., di
ganti dari setelah UGD kembali lanjut introgasi penyelidikan untuk mas Toni
sebelum di boleh di pulangkan ke indonesia, tapi masih harus di awasi bila
masih trauma, sebab terapi belum selesai..,” dia berdiri di samping tugasnya
orang indonesia yang belum aku kenal belum kusangka masuk dari seberang kartu
poker pintu di bawah lampu lebih terang siang hari di luar.
“ini terus birnya iya, nama saya andi wakso dari surabaya menganti
melayani penjaga yang kemarin pasti mas tony lupa namanya siapa setelah dari
akomodasi unit gawat darurat perawatan saya masih bidan dari tenaga kesehatan
dari intern asisten yang kemarin itu dokternya medis dari lulusan Universitas
Indonesia, kedokteran pada umumnya tapi masih tentara juga dari TNI.”
“emangnya
namanya dokter siapa? Itu ini bir yang untuk
saya..,”
“umur berapa mas tony..,” andi masih melihat apakah aku masih kuat
sembunyikan rasa takut.
“ga usah tanya deh umur buat terapi.., males nih” aku merasa bir
yang aku minum juga belum pulihkan wawasan sehatku kemarin sebab kemarin.
“Ok!”
‘saya paham’ “em unagh baik” andi jadi validator yang intuisinya kuduga ajaib
dan seharusnya kuharapkan dia melihatku.
“Sementara segelas setelah satu cepat habis kuminum!”
Sementara kutunggu Mas andi siapkan bentuk halaman lampir yang di
tulis pemuda amerika itu “ini Juridifikasi permohonan kerjasama, dari ragam
setelah kemarin sudah saya teranslasikan bahasa.., lancar ga mas bahasa
inggris.., ”
“Udah
teruskan saja humornya apa sama “??!” saya masih mau donk segelas lagi rasanya
masih haus” langsung dia dengar minta rasa ketergantunganku masih bertanya
selidiki...,
lewati
lintas apakah yang kupikirkan dan dalam bar ini mengapa sebagai wartawan aku
dalam sebuah limbo paragraf kematianku yang memang belum bisa kupahami dalam
artinya besok apakah misteri limbo dalam alam semesta ini...
Limbo Kemarin
Berperang Tambah Berapa
Setelah Dua Karakter Akomodasi Terhormat
Ayahku
Sindusubroto, setiap pagi belum bercerita apapun wawasan hidupnya, aku menjadi
sakral dari takdir
menambah fungsi duga gugurnya ..,
Takdir hentinya ayah berhenti memanggil dirinya sebagai
sindusubroto sejak hanya senang memanggil kriteria anak bagus atau cah bagus
“???”
Kemarin
Mahesa Bayu Suryosubroto di panggil ayah, dan kamu ayah ialah warisan mayat
hidupku dalam seolah
topeng..,
“Tempuh Di Seberang Horizon Putaran Jiwaku..”
Tempuh Di Seberang Horizon Putaran Terusan Arti Topeng
Brengsek Topeng ini
Bagaimana.."???"
di balik seberang kau akan tempuh diriku Bagaimana.."??"
Di balik..,
Tempuh
Diseberang Horizon Putaran Jiwaku bisa Masih.., Terus TEMPUH...,
Engkau ingin kembali tempuh rasa-rasa empati..,
Terusan
arti Topeng ini. Masih mulai dari aku atau kamu
tempuh
arti..,
Dari jika.., jika waktu ada tempuh "???" mengapa
kita...,
Tempuh
dari selalu hasilnya menjadi hanya sebuah seberang yang mengecewakan...,
Topengku sesungguhnya ialah cerita Ramalium untuk masa depan dan arti terusan
prospektus..,
topeng ini adalah arti jiwa terusan warna merah berani yang mereka
atau dia ingin melihat Horizon dari Pasir Matahari.
Merah terlalu berani hampir saja seperti warna arti darahku, merah
artinya apa apakah tempuh dari seberang batas itu,
dari
di balik topeng sebuah seberang gagal aku.., tapi padahal artinya masih terus
aku yakin pada mereka
gendong tempuh apa jika bagaimana mereka..,
lalu yang tempuh putaran bagai mendayung hulu waktu dari mereka di
sepenggal Merah, topeng rasanya malu pada limbo paragaraf kematian.
Ini adalah kemarin limbo sebelum kembali, sebelum merasa, sebelum
simpul yakin tempuh arti apa arti sepenggal merah.
Sebelum sekutu paragarf sebelum terus tempuh arah yakinmu ingin
meneruskan putaran sebelum jatuh, jatuh, jatuh , jatuh, dan putaran jatuh ialah
masih belum kematian Indonesia.
Merahnya merah, merah merah solarium matahari langit di seberang
angkasa, merah merah merah merah lipstik warna kekasihku mencium terakhir mayat
hidup tubuh ini masih sepenggal merah. Terus tempuh kemarin jatuh, jatuh, jatuh
lalu kau kenal rasa takut empatimu dengan sampai kau benci arti takut.
Topengku arti betapa buruk dari sepenggal arti mayat hidup ini
masih bernafas dari tutup sepenggal meronta ronta sengit benci hampanya
bertengkar dengan apa apakah misteri sisi terusan selamanya terusan tempuhnya
ingin di seberang horizon putaran jiwaku,
utuh adalah jatuh utuh jatuh empati jatuh sepenggal bayang bayang
sosok gambaran kebenciannya ialah tanda menempuh arti apa kau melihat topengku.
Gelap
humor kematian.., seharusnya tertawa sepenggal cacat kurang pada umumnya bila
kau melihat Mayat-mayat hidup mengapa ingin tempuh aku bercerita sebuah
seberang rahasia padahal raksasa besar matahari misteri itu
bercerita… ,
Lahir paragraf bersamamu limbo kematian dan masih pastinya simpul
kematian manusia hasil samanya siapa mereka terlanjur di seberang gelap
matahari maka besar namun mencari sebab menjadi orang tempuh tunjukan kamu juga
jiwa paragarafnya adiksi musibah .
Sejahtera bayangan kau tidak punya misteri hidup belum mustahil
tapi aku Masih sepenggal tidak pada umumnya lain orang dari takdir. Kau Jatuh
Dari Jatuh kecewa bertambah,
sebab bagai engkau paham, wawasan masih melihatku pada umumnya
sama dengan jalan itu ini panjang jalan aneh itu ini musibah perjalanan
indonesia masih putaran musibah di jiwai bersatu sepenggal terus bertambah.
Mengapa
juga engkau mengapa waktu-waktunya akhir ialah terusan yang di tempuh merasa
apakah akhirnya dia ajaib berbicara, tapi apakah dia berbicara sangat
menginginkan semua mahluknya memahami tanda, tanda,
tanda, tanda, tanda, tanda bilantara
tanda-tanda. Aku membayangkan dia sedang memandang naluri itu ini
seorang mayat hidup ini solarium dari seluruhnya tunduk mereka melihat siapa
sendiri utuh.., tanda utuh dari utuh bayangan gelap manusia berakhir
terakhir..,
Ahirnya
setan dan Itu ini apakah iblis limbo paragaraf kematian lalu berhenti rutin
utuhnya umum biasa seperti biasa mengapa topeng musibah juga mengapa utuhnya
tidak bantu meneruskan rutin berada di sampingku bantu menjadi setan-setan dan
iblis-iblis pendamping kelestarian dari wawasan siapa aku menjadi mayat hidup.
Setelah
Naluri
Mengapa..., juridifikasi supernatural.
aku
telah mengapa aku, kaget mereka masih melihat dia. Kaget aku tidak menyangka
kaget setan-setan tersebut masih rindu pada wujud yang rahasia dari
juridifikasi supernatural hukum fisika bila siapakah tuhan kuanggap ada “???”
Jatuh mengapanya juga mereka mengapa juga
tampak kurasa, sepenggal berpikir aku merasa..,
Rasa mengapa terus sepenggal tempuh ulang takut gagal simpulkan,
rasa, rasa, rasa, rasa, rasa, hanya rasa telah bilantara waktu mengapa tempuh
rasa..,
rasa-rasa sejak sementara sejam hampir utuh setan setan di dalam
gelam sisi gelam gelam..,
dari kegelapan senang tiba-tiba melihat empatinya, sedang di
sambut supernatural oleh penciptanya musibah dan menikmati siapa wujud rahasia
tuhan pencipta itu hina, dari tempuh.., tempuh rasa rasa telah wahana wawasan
“??..”
Mereka melihat hanya kegelapan manusia maka terang sementara sejam
itu seolah kembali senang rindunya di cerahkan tuhan sedangkan aku terusan
terus menoleh-noleh ingin mencoba melihat apa yang mereka lihat tapi gagal
apapun melihat…,
Siapa
pemimpin pencipta arwah dari rasa berpikir apakah apa, apakah setan bukan
wawasan di seberang wawasannya wawasan sebuah wawasan apakah setan dalam sejam
itu menikmati sejam utuh sebuah apakah hanya gelam gelam
gelam..,
dari
gelam gelam misteri yang hanya bagiku merasa rasa sejam waktu itu mereka tidak
biasanya tiba sebagai pendamping bertengkar wawasanku sebagai pustaka mayat
hidup.
Pemimpin Wawasan Tumbuhkah Salah
Aku
adalah keberanian dari di luar seberang dari apakah terbayang limbo paragraf
kematian.., aku melihat
perubahan yang salah masih, berpikir apakah hidup..,
dari
apakah prasangka? pada keberanian dengan masih di ikuti takut itu apakah
mensimpan takut jika takut lalu takut kutukan dan, siapakah, Pemimpin Wawasan
Tumbuhkah
Salah..,
Waktu
besok sepenggal.., besokkah tersisakan apa?
Seandainya wawasan cintaku itu apakah, lalu apakah salah?
Sepenggal hatiku adalah racun.
Bukankah
membenarkan jikanya sepenggal alam anugrah apakah.., lalu pergimu.
Maka.., waktu besoknya lalu sepenggal jatah besokkah apa?
Dari
topeng lalu jatahnya disembunyikan takutku anugrah paragaraf dari jiwa terakhir
bila bernafas berbait mayat hidup hanya seolah pada umumnya patah hati saja dan
dari
topeng..,
atau Mayat Hidup Itu Ini.., dari jika
Besokkah apa
kriterianya
kau Tahu lingkaran hidup bait Aku Lahir...,
“sebuah
seberang..,”
“Di Balik Semua Malam Di Masa Depan”
Belum beruntung takut lalu takut apa yang harus
kutempuh..,
“dari..,”
Aku
lahir tumbuh dalam mimpi, bagaikan sepenggal wujud nyata di tinggalkan pergi
untuk tertidur, aku merasa manis madu air susu ibu karena teringat sedang masih
sedang lagi sekarang, apa apakah berakhir terakhir dapat abadinya bercinta
dengan istriku dan apakah dari alam sadar dimana hatiku ingin kusimpan sengaja
itu adalah madu apa apakah
wawasan, cinta..,
apa apakah wawasan rasa mengalir sumber air susu bagai pencerahan
dari aku menunggu anak aku lahir ialah hiburan ajaib dari ketika di layani
tawaran harus wajibnya aku bertengkar badan dengan istriku untuk bila bisa
merasakan sejatinya wanita bila sebanyak-banyaknya, anak ialah msutahil hal
yang murah, dari mengerti jika itu tawaran wajib dari kenikmatan menjadi suami
istri disaat dia di istimewakan..., maka kutunggu ijinnya.
Siapakah wawasan ajaib dari bagaimana diriku terbangun dengan
keberanian yang sesaat itu kaget kecewa menjadi takut mengapa?
Sehingga hanya istriku yang kembali mengingatkan,
memorium apakah apa kecewa
jelas sebab ialah salah...,
dari tiba-tiba takut pada sepenggal simfoni salah yang mensihir
hidupku bermimpi buruk yang menjadi jiwaku sebagai penakut mengapa harus
sepenggal terulang lebih suka bayang-bayang siaga di tawarkan misteri dari
rahasia kebodohan jadi manusia padahal di seberang puncaknya keajaiban
seharusnya diriku menjadi suami pemberani yang istimewa melahirkan wahana
selamanya ciuman pada dia.
Sepenggal aku lahir, lalu juga sepenggal aku.., terjaga wawasannya
sepenggal.., jiwamu adalah sebab rasa cintamu pada ayah apakah kuragukan.., apa
apakah bukti besokkah apa sebelum mati untuk kita selamanya abadi..
Aku
tidak tahu “!!!” Engkau selamanya. Sepenggal rasa takut!
Aku
menangis setelah apakah itu, saat malam, saat mimpiku berhenti, dan aku rindu
pada wawasan seorang ibu yang mengasuh sepenggal apakah sebab aku di lahirkan.
Aku tidak tahu “!!!” Adikmu di bunuh oleh apa?
Wujud nyata saat itu di luar apakah, masih sedang malas mengapa,
aku ingin setelah masih wawasan terbangun belum terjaga sadar apakah wujud
mimpi itu sepenggal siap untuk besok, terbangun walaupun apakah, terulang
seperti seolah ibu bercanda kepadaku di malam hari saat lima tahun kemudian,
dimana itu adalah sepenggal wujud nyata.., itu.., mengapa aku mencari, masih
telah terbangun.
Tapi.., besokkah apa?
Madu yang mengalir seolah apakah air sungai lalu lautan apakah
artinya masih sama seperti terakhir kali aku ingat berpura-pura apakah surga
adalah wujud nyata?
Wajah pesona ibu siapakah aku, melihat tumbuh diriku bagaimana
tiba-tiba sepenggal malam selalu, waktu yang istimewa melihat mampu apa aku
bermain dengan wawasan pesona kekasih di seberang dari beliau menjadi sepenggal
apakah memorium itu baik untuk diriku?
Aku
tidak tahu ayah juga berhenti memberanikan dirinya berkomentar setelah sekian
lama menjadi suamimu.
Sepenggal waktu masih apakah kami beranikan menunggu ruangan hati
kosong siapakah kami sebagai akomodasi terhormat wawasanmu sebagai ibu.
aku lahirkan sepenggal besok menyelidiki hal yang tidak mampu
untuk siapa aku menjadi anak kecil?
Malam itu ayahku mengantarmu pergi selamanya dari apakah istilah
khusus hubungan anak dan ibu tetap menjadi keajaiban khusus Aku ingat sungai
yang mengalir madu sebagai surga dari cintamu melahirkan monster ketakutanku
tumbuh.
aku simpulkan tetapi tidak tahu malam itu kau meninggalkan halaman
sang raksasa dari langkahmu tenggelam dalam halusinasi menjadi sesuatu yang
siapakah aku sebagai raksasa arti hidupmu menjadikan wujud sepenggal pada
apakah sepenggal arti kau gagalkan raksasa keberanian wujud nyata keberanian
raksasa siapakah aku tumbuh akhirnya menjadi apa di alam dunia ini aku tidak
ingat siapakah yang menjaga rumah atau aku menanggis di temani siapa?
Ayah pergi menemani rasa kawatir ibu dengan sama takut masih sama
dengan ayah pertama peduli apakah merasa yang di takutkan istri? Ibu adalah
sepenggal di luar seberang diriku di biarkan tenggelam dalam apakah itu di luar
seberang prospektus alam lain dari sia-sia besok akan datang? Apakah “!!!”
Rasa-rasanya saat itu aku sepenggal di luar rasa dilema cacat
jiwaku sama dengan mengapa ibu tidak berharap musibah itu di dapatkan, aku
tidak tahu adiknya di bunuh, tapi aku tahu diriku kaget hingga menanggis ibu
menjadi masih tenggelam di musibah itu.
Besokkah apa.., apakah hari ini adalah raksasa apakah keberanian
rasa takut, karena apakah besok selalu masih melintas baik untuk seorang
raksasa. Besokkah apa patah hati dari karena engkau sama dengan rumput di luar
kutunggu lama dan mengapa engkau tiba berbeda setelah masih melihat aku menjadi
anakmu.
Kepergianmu malam itu, masihkah bertanya sebab cacat jiwaku lahir
wawasan misteri apakah musibah yang telah mengundang rasa takutmu dan berubah
menjadi apa yang kulihat bagai rumput di luar, sunyi dan berbeda hingga engkau
lupa apakah sepenggal ikatan humor berkata apa yang kurindukan sebagai anakmu.
Rumput
di luar sunyi rasanya menunggu dirimu, karena aku seorang raksasa yang besokkah
apa? Waktu di mulai, juga masih waktu belum masih juga waktu berakhir karena
sebab malam itu aku teringat misteri apakah musibahnya adalah rasasebuah
wawasan kecewa siapakah akurasa pada dimana aku melihat rumput di luar tumbuh
lebih beruntung darikah diriku siapa?
Musibah
waktu komposisi lewat misteri takdir sebab apakah adikmu di sebab takdirkan
masuk melangkah sebab suatu mula semesta putaran tempuhnya jantung waktu,
dengar terjebak cacat jiwaku sial apakah merintih belum bukan prinsipnya subur
tambah rumput di luar apakah itu
ini arti…,
hidup
dan matiku berubah karena malam itu.., limbo prinsipnya salah belum dermawan
prinsip konflik berakhir tempuh lemahnya cacat jiwaku di sebuah seberang “???”
Dimana dari mengapa tanpa di sadari selalu masihkah sengaja aku memulai masih
sengaja cari besokkah apa bertanya?
Mungkinkah
bukan besokkah apa?
SLV
1983
Lintasan Delegasi
Cacat Jiwaku
Tertawa
aku meringis Cacat Jiwaku .., tertawa kekasih puncak dunia sewaktu saat itu
lebih sekata takdir Bajuku sedang lusuh. Aku berada di kantor redaksi menanti
berakhirnya hari.
Aku
adalah dimensi yang sedang lagi Jatuh
“juga masih putaran densitasnya jatuh”
Itu ini menunggu terbenamnya matahari..,
Jam kerja hampir selesai, namun Kepala Redaksi mengundang kami,
aku dan Heru, untuk menghadap.
“Kira-kira ada apa, ya?” Mengapa sekarang aku diundang untuk
menghadap.
Tidak biasanya Kepala Redaksi meminta untuk bertemu denganku atau
pun Heru selain tentang pekerjaan. Baju lusuhku terasa tidak nyaman.
Celaka, aku kehabisan sabun pencuci pakaian. Tak hanya itu, uangku
pun habis. Akhir bulan begini untuk membeli sabun cuci pakaian saja rasanya
sudah tak mungkin lagi.
Lusuhnya pakaian ini membuatku sesak. Apalagi jika membayangkan
harus tawar-menawar di warung langganan dekat rumah demi membeli sabun cuci.
Aku jadi membayangkan dapat berlibur ke tempat yang sejuk seperti
puncak. Atau mungkin pergi ke Bandung, sekalian mengunjungi saudara. Lalu,
meminta izin kepada kakakku untuk menginap. Menikmati cutiku untuk menikmati
aktivitas favorit.
Aku senang sekali dengan daerah sejuk karena menurutku udara
dingin sangatlah cocok untuk menggambar. Kebun binatang di Bandung sudah
menjadi favoritku untuk menggambar.
Aku biasanya menggambar dengan tinta pena. Bagiku, menggambar
dapat menghilangkan beban pikiran. Tetapi saat ini, hal menyenangkan tadi
hanyalah angan-angan saja.
Kulampirkan tulisan untuk surat kabar yang siap untuk diketik.
Sembari merapikan pekerjaanku yang hampir selesai, pikiranku tak hentinya
membayangkan tentang rencana berlibur tadi. Rencana menghilangkan stresku.
Walaupun begitu, “Astaga uang!” Aku tidak miliki uang untuk beli
minum. Rasanya tiba-tiba aku haus. Padahal, sebentar lagi mungkin aku
dipanggil. Kulihat Heru pun belum tiba di kantor lagi. “Aku pergi ke kantin
dulu saja dan memberanikan diri untuk mengutang!” Lantas aku langsung ke kantin
di lantai bawah gedung. Aku haus. Aku tidak peduli apabila saat ini Kepala
Redaksi mencariku. Meski khawatir, aku tetap pergi ke kantin. Lagi pula Heru
juga sedang tugas di luar dengan wartawan lain. Aku berharap, kopi nikmat, akan
menggantikan rasa khawatirku pada undangan Kepala Redaksi.
Apabila
terlambat, setidaknya aku bisa membuat alasan yang meyakinkan kepada Kepala
Redaksi. Aku memikirkan bayangan Bapak Indrawan, serupa dengan rekan wartawan
Heru dan Putri, yang mungkin baru tiba karena ada berita di luar kantor. Akan
tetapi, dengan yakinnya aku ke kantin saja.
“Ibu, minta kopi satu.”
Aku
datang ke kantin meminta untuk dibuatkan kopi. Selintas, baju lusuh membuatku
ragu untuk mengutang.
Akan tetapi..,
aroma kopi tercium begitu semerbaknya. Sepontan aku terbayang akan
kenikmatannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk mengutang..,
berharap Ibu Datun memahaminya. Selintas terpikir olehku, apakah
Ibu Datun pemilik kantin akan peduli dengan penampilanku. Aku rasa untuk
mengutang kopi, dan sebatang rokok tidak perlu khawatir dia percaya padaku,
walaupun kurasa, aku mulai merasa tidak nyaman bila terlalu sering.
Ini bukan yang pertama kalinya aku terdesak mengutang pada Ibu
Datun. Prihatin akan utangku, aku tahu sekarang harus mengutang kembali, tapi
kapan aku akan membayar?
Bisakah dia berharap tentang itu? Kini aku akan menikmati waktu,
meminum kopiku. “Ibu terima kasih telah dibuatkan kopi. Tapi sekarang saya
utang lagi,” ujarku saat Bu Datun tiba membawakan secangkir kopi.”
Ibu Datun tersenyum dan berkata, “Yang ini sama seperti kemarin
juga nasibnya?”
“Iya,”
Ibu Datun tahu, kopi yang akan kuminum akan
tertunda dibayar. Berutang dan kebiasaanku yang terdesak,
apalah artinya sebatang rokok tapi mengopi, aku merasa
menghentikan waktu, selalu dalam benakku, menikmati meminum segelas kopi
mengingatkan diriku pada masa lalu. Segelas kopi artinya ialah kebebasan dan
kemegahan dalam hidup.
Segelas kopi membuatku teringat saat pertama kali aku menyukai
kopi. Saat ini, aku menikmati kopi dalam sebuah kenangan, perasaan terdesak
yang serupa. Dalam masa lalu dan kesulitan.
Selintas saat ini kenangan baik menjadi sifat pendapat, alur
renungan, kuduga menifestasi itu ialah renungan, harapan baikku pada rasa
peduli pada sifat ayahku dan itu ialah kenangan ketika masa-masa saat ayahku
menawarkan kopinya padaku ketika aku sedang giat belajar. Aku tidak boleh
lama-lama di sini. Aku tidak boleh didahului oleh Heru untuk bertemu Kepala
Redaksi. Akhirnya gelas kopi yang belum tanda habis ini terpaksa kutinggalkan.
“Ibu,
kopi belumku minum semua, aku mengutang dulu,
nanti
kubayar setelah mendapat uang bulanan.”
“Iya, tadi kau sudah ingatkan aku, Toni,” ucap Ibu Datun.
Seusai
pergi, dari kantin, aku bertemu dengan Heru dan Putri yang akan masuk lift.
“Dari mana?” tanyaku pada Heru dan Putri sambil masuk ke dalam lift yang masih
terbuka. “Dari, Dinas Kesehatan..,
menanyakan
Agenda kerja mereka,” jawab Putri. Kemudian tanpa ditanya kembali, Putri
menjelaskan agenda pengadaan susu untuk rumah sakit yang terlambat, dan itulah
berita.
Karakter di Balik Kamar Gelap
Aku sedang bersama Putri ketika tiba-tiba Toni datang ikut menyela
masuk ke dalam lift sekembalinya dari kantin. Aku baru saja kembali dari Dinas
kesehatan. Kami hendak bertemu dengan Kepala Redaksi..,
kemudian
setelah itu, kami ingin mencetak foto yang kuambil dari terlambatnya pengadaan
susu. Aku akan mencetak foto kulkas yang rusak. Memang tak tampak
seperti berita serius..,
namun itulah berita. Kepala rumah sakit umum daerah memintaku
mengambil gambar dari keterlambatan pengadaan. Bagaimana kulkas bisa rusak?
Karena hal ini, pengadaan susu ke rumah sakit tiba-tiba berhenti.
Aku dan rekan wartawanku, Putri, sedang menyelidikinya. Kami pun
menginvestigasi sikap pemerintah akan masalah ini.
Aku baru saja datang, melihat Toni ada di sampingku, artinya kami
berdua belum terlambat untuk menemui Kepala Redaksi. “Toni, dari mana kau?”
tanyaku kepadanya. “Baru saja minum kopi dan menikmati sebatang rokok,
sekaligus menunggumu Heru,” ucap Toni kepadaku. “Kau baru saja dari kantin,”
ucapku menduga.
“Iya, betul, aku jenuh dan sesak dengan tampilanku hari ini,” ucap
Toni yang memang terlihat lesu dan tidak percaya diri. “Apakah beliau tidak
kesal bila satu di antara kita belum hadir?” tanyaku kepada Toni “Beliau,
siapa?” Toni menjawab tidak mengerti apa yang kumaksud.
“Beliau Kepala Redaksi, maksudku Bapak Indrawan,” jawabku. “Oh,
maaf aku baru mengerti maksudmu.”
“Iya, itu maksudku, kukira sudah terlambat. Kupikir kau langsung
ke ruangan beliau begitu dipanggil,” ucapku yang tidak sengaja didengar juga
oleh Putri. “Heru, Toni, apa kalian berdua mendapatkan promosi? Bila benar,
hebat! Aku ikut senang,” sahut putri menduga.
Pintu lift yang telah kami masuki terbuka kembali di lantai
ruangan kerja kami. Toni dan Putri kulihat kembali ke meja kerjanya
masing-masing. Sedangkan aku, pergi ke ruang fotografi sembari menunggu
panggilan Kepala Redaksi. Aku pergi ke kamar gelap untuk mencuci film,
mempersiapkan foto yang nantinya akan diseleksi oleh redaktur foto.
Lampu kamar gelap masih menyala. Aku merasa beruntung karena ini
merupakan rutinitas yang dapat dicicil, menurutku. Seperti biasa aku harus
mengambil dan mempersiapkan semuanya, mulai dari cairan pengembangan, bubuk
sabun dingin, bubuk perangkai, air, toples spiral, dan penjepit film.
Ketika memindahkan rol film dari wadah silindernya, lampu pun
dimatikan. Tanpa menggunakan alat, pita rol film pasti susah dikeluarkan,
kecuali dengan merusak wadah silinder. Namun, karena dituntut pekerjaan, aku
akan beralasan menggunakan rol film pita isi ulang maka wadah silinder film
negatif kujaga agar tidak rusak. Kutarik keluar rol film dengan penjepit dan
menyimpan kembali wadah silinder untuk film negatif ke dalam kotak khusus yang
suhunya aman untuk mengisi ulang negatif film yang berikutnya, bila dibutuhkan
lagi. Setelah menarik keluar film negatif, selagi lampu mati, aku dengan alur
waktu yang tepat memasukkan pita, dari wadah film silinder ke dalam toples
spiral yang bentuknya juga silinder, hanya saja lebih besar dan kedap cahaya.
Volume toples dengan spiral telah terselimuti atau tergulung pita
rol film negatif. Wadahnya yang besar, kututup dan kutuangkan cairan
pengembang. Cairan pengembang memiliki tahapan yang berbeda-beda alur waktu
sesuai jenis film. Karena film dari produk yang kugunakan tipe kodak
profesional asa 400 hitam putih, dalam pengembangan cairan memiliki tuntutan
masa sifat yang berbeda dari asa ataupun tipe menurut rasio waktu.
Kemudian, lampu kunyalakan. Cairan pengembang bisa kukeluarkan
dari lubang stoples tanpa membukanya, lalu kukeluarkan film, kemudian
kumasukkan cairan bubuk sabun pendingin yang telah dilarutkan.
Apakah itu film negatif, aku mungkin hanya sebatas tahu bisa
membayangkan selintas tentang seluloid.
Cairan pengembang melakukan tugasnya dengan merontokkan zat perak
yang menempel pada permukaan seluloid. Zat perak berfungsi melampirkan gambar
yang diambil untuk dicetak. Dalam film negatif atau seluloid, kita tahu, cahaya
yang diterima membiaskan zat perak dalam film negatif, seperti bintang-bintang
di langit dan mencetak citra gambar, di antara lapisan yang tipis ini. Setelah
cairan pengembang, sabun pendingin
digunakan..,
untuk membekukan seluloid agar tidak membentuk gambar yang tidak
di inginkan. Kemudian, cairan bubuk perangkai. Cairan ini ialah cairan kimia
digunakan untuk kelanjutan metode setelah sabun pendingin. Cairan ini mengubah
intensitas zat perak menjadi zat hitam, dan merangkai intensitas zat menjadi
pekat hitam dan tidak sensitif terhadap cahaya.
Dan
yang terakhir, tidak kalah pentingnya ialah air untuk mencuci dan membuang
semua cairan kimia yang telah digunakan. Kemudian pita negatif siap dikeluarkan
dari stoples spiral atau wadah silinder pencuci film ke dalam ruangan untuk
dikeringkan. Itulah tugas yang bisa kuselesaikan, mencetak gambar di kertas.
Di Balik Lampiran Proposal KBRI
Aku
baru saja selesai rapat, dan akan kembali ke ruanganku untuk bertemu dengan
Toni dan Heru. Akan tetapi sebelum undangannya aku akan memesan makanan, kopi
dan rokok di kantin agar Toni dan Heru merasa nyaman dengan undangan itu.
Kiranya mereka akan menerima tawaranku untuk pergi bertugas ke luar Indonesia.
Aku masih ragu apakah mereka akan menerima undangan itu?
Hari sudah sore, aku menahan Heru dan Toni agar mereka menemuiku
dahulu seusai rapat. Alasanku, mereka kuundang untuk menemuiku, pemilik media
massa gabungan, pihak yang terkait dengan pemerintah, dan pihak KBRI.., yang
diwakili oleh TNI.
Pembicaraan sebelumnya telah menyetujui untuk mengirim wartawan di
masa akhir perang Vietnam. Kerja sama antara negara Vietnam dan Indonesia untuk
ketika masa baru masyarakat Vietnam. Kuduga mereka pasti akan membangun
infrastruktur di Vietnam.
Aku
memberikan tugas tersendiri yang berbeda dari yang telah diharapkan setelah
masa perang Vietnam berakhir. Di antara rapat mempertimbangkan pendapat, kepada
Heru
dan Toni..,
selain
mendokumentasikan perkembangan KBRI untuk Vietnam, bisa juga sekaligus ikut
meliput masa-masa ironi akhir dari perang, dalam wadah mengamati negara yang
akan berkembang, seperti Indonesia.
Bunyi
pintu lift terbuka, aku di lantai tempat kerja redaksi surat kabar. Keluar dari
lift membawa koper dari rapat, dan di antara karyawan rekan wartawan, Toni
kulihat ada di bangkunya, terlihat akan mendatangi kantorku. Kuputuskan akan
meminta tolong kepada Putri untuk memanggilkan Heru.
Sesaat mereka
melihat aku masuk setelah keluar pergi dari lift, aku bergegas berjalan ke
ruang kerjaku dan menegur Toni. “Toni, mana Heru?” bertanyaku padanya. “Di
dalam kamar gelap, sedang kerja.”
“Putri, tolong saya! Panggilkan Heru di kamar gelap untuk
menghadap ke kantor saya,” ucapku yang mungkin didengar Toni dan Putri. Mereka
melihatku yang berjalan terburu-buru.
Sampai depan pintu kantor aku membukakan pintu untuk Toni, dan
mempersilakannya masuk dan duduk. Setelah Toni duduk, aku juga duduk sambil
menyiapkan berkas di meja. Sambil menunggu Heru tiba..,
aku juga masih menanti jamuan untuk mereka dari kantin yang akan
di bawakan oleh Ibu Datun, pemilik kantin, untuk acara undangan sambil
menyiapkan arsip dokumen berkas yang penting untuk di baca Heru dan Toni.
Heru
belum tiba namun diriku khawatir bila mereka akan menolak. Apa jadinya bila
rencana rapat tidak berjalan sesuai dengan yang diputuskan.
Memang
salahku karena tidak mengingatkan mereka jauh-jauh hari sebelum diputuskan nama
mereka masuk proposal pengajuan pendapatku. Aku mengandalkan
mereka, oleh karenanya..,
aku mengajukan Toni dan Heru. Ya, mungkin ini kesalahanku, tapi di
lain waktu bila ada hal serupa diriku telah berpengalaman harus berpendapat
dengan ijin mereka siapapun orangnya.
Terdengar
suara ketukan pintu, kuduga Heru yang ada di balik pintu, tetapi ternyata itu
Ibu Datun yang mengantarkan semua pesananku untuk Heru dan Toni.
Disajikannya makanan, minuman dan rokok.
Aku
mempersilakan Ibu Datun masuk untuk mengantarkan makanan-makanan itu ke meja.
Setelah ia mengantar ragam
hidangan tersebut..,
ia
undur diri. Ketika kuperhatikan, Toni menatap jamuan
yang dibawa Ibu Datun tadi.
Semua hidangan tadi sengaja kusajikan untuk meyakinkan Heru dan
Toni, juga untuk mempermudah pembicaraan kami nanti.
“Toni
mengapa sepertinya kau resah?” tanyaku “Tidak,
Pak, saya baik-baik saja, kok,” sahut Toni.
Suara
pintu ketukan kedua. Dari balik pintu ruang kantorku di sela-sela undangan.
Telegram dari Saigon
“Baik jenderal, mister Noel terima kasih.” Seseorang yang namanya
kusebutkan tadi adalah seorang jendral dari Amerika. Aku mengucapkan terima
kasih atas undangan yang kuterima. Sekarang aku berada di Vietnam. Aku
mendapatkan tugas dari Menteri Luar Negeri, Doktor Sobandrio, untuk membuat
KBRI.
Aku bersama Asistenku tuti seorang dosen dari universitas gajah
mada, yang pindah kerja menerima tawaran untuk bersamaku.
Di balik kantor ia sedang mengurus arsip-arsip surat dariku untuk
mensusun KBRI Vietnam.
Aku
ingin mengundang orang-orang yang bisa membantuku untuk membangun hubungan
dengan bangsa yang sedang di landa teror ini.
Akhirnya aku menelpon temanku SMA-ku.
Aku teringat akan Subijakto. Dari situ aku membuat surat
permohonan agar dia mau bergabung dan ikut memilih anggota untuk bergabung
dengan KBRI yang akan aku bina.
Beberapa
Minggu kemudian, Subijakto menelpon “Ada
keperluan
apa, teman?”
“Aku
mendapat tugas dari Doktor Sobandrio.”
“Kau
mendapat tugas apa?”
“Membangun KBRI.”
Setelah telpon dari temanku Subijakto tadi, aku berencana merekrut
beberapa orang untuk masuk tim inti di KBRI, dan salah satunya kuharap
menguasai bidang dokumentasi.
Perang sedang berlangsung di Vietnam, sehingga banyak dari mereka
yang enggan bergabung. Kecuali wartawan, pikirku saat itu.
Aku ditelpon dan dikenalkan dengan Bapak Indrawan. Kami bertukar
pikiran. Aku mencari seorang penulis dan kamerawan yang bisa meliput sekaligus
membuat dokumentasi untuk pihak KBRI.
Bapak Indrawan pun sebagai redaksi menawarkan dua orang yang
mungkin cocok untuk pekerjaan ini. Akan tetapi, yang masih menjadi persoalan
adalah persetujuan mereka untuk ikut ke Vietnam.
Bahkan
aku menawarkan untuk menambah honor kerja mereka serta fasilitas. Semestinya,
hal ini tidak ditolak. Bapak Indrawan berjanji akan mengusahakannya.
Hidangan di Kantor
Sementara waktu Bapak Indrawan membukakan pintu dan kuduga itu
Heru tapi ternyata yang pertama itu ialah Ibu Datun. Selintas terpikir, apakah
aku kelihatan resah atau tidak nyaman.
Sungguh
apakah harus kukompromikan rasa tidak nyaman
akan
bajuku yang lusuh ini. Bapak Indrawan sampai sore
begini masih terlihat segar..,
dengan tenang ia membuka arsip dari koper yang
dibawanya ke kantor. Yang sedari keluar dari lift tadi kulihat ia
penuh keyakinanan,
bahkan ia terlihat bersemangat membukakan pintu dan mengundang aku
dan Heru. Di dalam ruangan Kepala
Redaksi yang nyaman,
lengkap dengan sofa itu, bila ada tamu akan disuguhi banyak
makanan yang dipesan dari Ibu Datun. Dan tadi kulihat Ibu Datun masuk dan
mengantarkan banyak sajian. Untuk kamikah semua makanan itu? Apakah maksud di
balik undangan ini?
“Masuk Heru, silakan duduk,” ucap Bapak Indrawan sambil membukakan
pintu dan mempersilakan masuk.
Heru duduk di sampingku. Kami berdua sedang menduga-duga kiranya
ada apa?
“Ayo, kalian
tunggu apa lagi? Silakan dinikmati, diminum kopinya dan dimakan makanannya,”
ucap Bapak Indrawan menawarkan.
“Bagaimana
enak?” tanya Bapak Indrawan lagi setelah kami mengambil beberapa hidangan.
“Bapak,
ada perlu apa sama kita berdua?” tanyaku.
Kemudian Heru menambahkan, “Penting ya, Pak?”
“Saya punya kabar baik dan kabar buruk untuk kalian berdua?” jawab
Pak Indrawan. “Kabar baiknya, upah kalian akan naik, bahkan di bayar mahal,
tapi kalian akan ikut pergi ke Vietnam bersama TNI..,
untuk
dikirim ke KBRI yang sedang dibentuk oleh perwakilan kita. Di sana, tugas
kalian membuat
dokumentasi dan tetap meliput berita untuk majalah kita.” “Vietnam
bukannya sedang perang?” tanya Heru.
“Memang
benar sedang Perang, tapi perang akan berakhir dan itu ialah kabar dari
Departemen Luar Negeri. Mereka sedang membangun kerja sama dengan sesama negara
berkembang, terutama Vietnam..,
sebagai subjek yang sedang menjadi wacana,” ucap Bapak Indrawan.
“Aman tidak, Pak?” tanya Heru lagi.
“Saya
sudah mendapat kabar dari perwakilan calon KBRI, sudah hampir enam bulan
terakhir tidak ada pemberontak, juga terjadi gencatan senjata melawan Amerika
di Saigon, dan selama kalian di Hanoi atau di daerah status recovery,
saya rasa Amerika masih bisa menjamin.” “Kita ke sana naik apa?
...,
Bukannya
tidak ada transportasi komersial umum yang berani lewat zona perang di Vietnam.
Adakah di Indonesia agen perjalanan yang akan memasarkan perjalanannya ke
daerah perang, Pak?” tanyaku berpikir pada situasi konflik.
“Pertanyaanmu bagus, Toni?”
“Kalian
akan berlayar naik kapal TNI AL dan akan diantarkan dengan aman sampai markas
KBRI. Kalian akan berangkat sebulan lagi.
Istrinya
Aku melihat corong kerucut sedang ditempelkan di perut istriku,
dokter sedang mendengarkan suara anakku dalam perutnya. “Bapak Heru, mau
mencoba mendengarkan suara anak bapak dalam perut?” tanya sang dokter. “Mau,”
jawabku.
Aku terkejut pada suara jantung anakku dari dalam perut istriku.
Aku senang, tetapi dua minggu lagi aku akan berangkat dan belum memberinya
kabar tentang pekerjaan baruku di Vietnam.
Aku menunda-nundanya karena khawatir membayangkan istriku kecewa
padaku.
Sampai di rumah, sepulang dari puskesmas, setelah makan malam, aku
akhirnya bercerita tentang kabar bahwa aku mendapat pekerjaan baru di Vietnam.
Toni akan berangkat lebih dahulu.
Malam ini, aku tidak punya pilihan lagi, aku harus memberitahunya.
Namun kurasa, aku akan merindukan dia.
Dalam
kontrak kerja baru akan difasilitasi rumah setelah dua tahun, menunggu sponsor
dari KBRI, dan berstatus sementara menumpang kontrak.
“Shinta, kamu lagi apa?” tanyaku.
“Sedang
menyiapkan pakaian-pakaian balita dan popok. Sedang kuhitung.”
“Mengapa
kau hitung?”
“Karena aku sedang membayangkan apakah ada kekurangan. Untuk
membeli lagi sesuatu yang belum terbayangkan.” Aku mendengar dan mengaguminya.
“Shinta malam ini kamu terlihat cantik!” ucapku, menyatakan ingin
menyanjung dirimu.
“Aku kaget mengapa kau bereaksi seperti itu, akukan tidak sedang
bersolek!” ucap Shinta.
Tidak
lama kemudian, aku duduk di sampingnya sambil memegang perutnya dan mengusap
kepalanya, kemudian
mencium
keningnya “Kamu, mau apa sayang?” ucap Shinta “tumben, pasti ada maunya.”
“Aku mau cerita, sayang?” jawabku.
“Kalau mau cerita, cerita saja! Kenapa resah begitu?”
“Aku dapat pekerjaan baru, dan upahnya lebih tinggi?” aku mulai
bercerita.
“Aku ikut senang, tetapi mengapa kau meninggalkan pekerjaanmu yang
lama? Bukankah kau menyukai pekerjaan itu?” tanya Shinta.
“Pekerjaan
baru ini kontrak lampirannya dari kantorku yang sekarang, tapi kerjanya di
Vietnam, dan aku harus meninggalkanmu selama dua tahun, setelah itu ketika
mendapat rumah, aku akan menjemputmu!”
“Dua tahun? Lama banget mas!” ucap Shinta..,
yang kemudian menambahkan “bukankah di sana lagi perang?”
“Tahu
dari mana?” tanyaku.
“Koran,” sahutnya singkat.
Aku
berpikir, semoga ia tidak mengkhawatirkan tawaran ini, dan aku penasaran akan
pendapatnya. Ia terlintas berat hati dan kemudian aku menjelaskan keamananku
saat bekerja di sana sepeti yang dijelaskan Bapak Indrawan.
“Mas Heru, aku mohon kau jangan pergi kalau bisa, aku membayangkan
hal yang buruk!”
“Mengapa
kau bayangkannya, kan tadi telah kujelaskan di Saigon aman, apalagi Hanoi!”
“Aman!” sahut Shinta sedikit histeris.
“Aku ragu mas karena yang kubayangkan buruk untuk anak kita. Bila
sampai akan kehilangan bapaknya bila kau menjadi sasaran empuk peluru buta, aku
jadi apa?” sahutnya. Aku membayangkan ia jadi janda!
Kemudian
bagaimana caranya aku merubah pikiran Bapak Indrawan?
“Shinta
kondisinya sudah terlanjur. Bagaimana agar kau tenang, aku mengundurkan diri
saja karena aku tidak ingin membayangkan kau menjanda.”
“Tunggu, apakah kau ingin berangkat?” sahut Shinta..,
yang hanya
kujawab dengan anggukan kepala. “Tapi kau segan bila ada apa-apa denganku,
apalagi hingga sampai menjanda?” ucap Shinta..,
sambil
memegang perutnya dan berkata “bisakah aku
ikut?”
“Astaga
Shinta, mana bisa!” ucapku, “besok aku batalkan
saja.”
Besok paginya aku akan berangkat kerja dan Shinta tiba-tiba keluar
dari rumah ingin ikut pergi denganku, “Mau apa?”
“Aku ingin membeli getuk di tempat Ibu Datun, anak kita sedang
mengidam.” Meski heran, akhirnya kuturuti saja maunya.
Di atas motor, kutanya Shinta “Nanti bagaimana kau pulangnya,
mengapa harus beli getuk di kantin Ibu Datun? Punya uangnya, kan, untuk beli
Getuk?”
“Aku
maunya beli sepuluh tapi hanya ada uang untuk beli
dua,
Mas. Bagaimana, kau tetap dapat uang tawaran naik
gaji tidak?”
“Iya
tidak dapatlah. Kan aku akan membatalkan tawaran mereka,” ucapku menjelaskan
pada istriku bahwa gaji akan naik hanya bila pergi ke Vietnam.
“Kenapa
begitu?” tanya Shinta.
“Nah,
kau tanya saja, kepada Kepala Redaksi.”
“Dimana?”
tanya Shinta
“Di
kantorku, tapi yang sopan?”
Itulah
akhir perbincangan kami di motor saat itu.
Markas TNI AL
Aku
sudah mengecek isi tas sebanyak dua kali. Aku tidak ingin meninggalkan pena
tinta untuk menggambar dan
foto..,
keluargaku.
Kemudian, aku merasa tidak nyaman dengan bajuku yang mulai berantakan lagi
karena terlalu sering berjongkok untuk mengecek tas.
“Pak
Toni, apakah ada yang kurang?” tanya perwira angkatan laut yang menjemputku dan
memergokiku sedang mencek koper sambil berjongkok. Aku sebentar lagi akan
berangkat. Keberangkatanku memang dijadwalkan lebih dahulu ketimbang Heru.
Pria
yang menjemputku adalah seorang perwira angkatan laut yang gagah, aku kagum
pada seragam yang ia gunakan.
“Namanya
siapa?” ucapku kepada perwira yang gagah itu. “Nama saya Joni, Pak!” jawabnya.
“Kita
naik apa nih?” tanyaku lagi.
“Ada mobil dari Angkatan Laut,” ucap Joni.
Kami berangkat dari rumahku ke Markas Angkatan Laut Tentara
Nasional Indonesia. Aku akan berangkat sendiri. Kemudian Heru akan menyusulku.
Semua kebutuhanku untuk bekerja akan didukung oleh KBRI. Perang
Vietnam akan berakhir dan aku akan menjadi bagian penting dalam pembentukan
Kedutaan Besar Republik Indonesia. Selama perjalanan ke markas AL, kebetulan
kendaraan melewati jalan protokol di Jakarta, jalan Thamrin. Selintas aku
melihat perubahan kota Jakarta. Ketika aku kecil, jalanan Thamrin memiliki
tempat kereta trem..,
peninggalan zaman kolonial Belanda, namun sekarang telah tiada.
Mungkin akan begitu pula dengan peperangan. Nanti di sana aku akan melihat
bekas-bekasnya.
Sesampainya di pelabuhan, aku naik kapal perang. Benar saja dengan
apa yang dikatakan Pak Indrawan..,
aku
akan menumpang alteria, perahu perang milik TNI. Perjalanan yang memakan waktu
cukup lama itu membuatku sempat berkeliling melihat isi kapal dipandu
oleh Joni. Tidak hanya itu..,
bahkan
aku sempat menyentuh peluru dan rudal. Rudal, senjata alteria perang yang besar
dan masih aktif itu kupegang dengan tanganku sendiri.
Aku
tidak peduli pada baju lusuhku karena tidak mungkin ada wanita yang akan
memperhatikanku di sini. Kemudian terlintas dalam benakku, apakah aku akan
mendapatkan jodoh wanita Vietnam?
“Hey
kamu, orang penting, kesini,” ucap seseorang yang tidak aku kenal.
“Ada
apa, Pak?” tanyaku kemudian.
“Nama
kamu siapa?” tanya orang tadi. Sekilas aku melirik banyak lencana di bajunya.
“Bapak siapa?” tanyaku.
“Lihat ini!” ujarnya sambil menujukan nama yang
disematkan di bajunya, “saya Pardi.” Beliau sudah tua..,
namun
pernah menjadi bagian dari Tentara keamanan Rakyat atau TKR.
Aku kagum, kaget, dan tersanjung. Satu pertanyaan yang
Menggangguku..,
bagaimana
bisa di usianya yang terbilang tak muda lagi, ia bersikeras untuk mengantar
kami ke Vietnam.
“Bapak Supardi sebagai Laksamana mengapa mau
mengantar saya ke Vietnam?”
“Mengapa
tidak?” dijawabnya pertanyaanku dengan tanya lagi.
“Sebentar lagi aku pensiun sebagai kepala staf oprasional. Kapal
ini telah mengarungi lautan. Di mana pun ada perang, aku akan dengan tenang
memimpin kapal ini,” ungkapnya.
“Kamu, anak muda, sebaiknya, siap untuk ikut
mendaulatkan
bangsa.”
Ketika
beliau berpesan demikian padaku, aku langsung lupa akan baju lusuhku.
Shinta Cerewet
Turun
dari motor, aku dan Shinta langsung pergi menuju
lift. Kami masuk gedung..,
berharap
di dalam ada Bapak Indrawan. Bila beliau kebetulan ada di lantai dasar, dekat
kantin Bu Datun, aku akan menyuruh Shinta untuk membeli getuk sebelum habis.
Aku sudah menjelaskan pada Shinta, kalau hari sudah
keburu siang..,
ia harus menunggu hingga katering tiba. Karena itu, Shinta
kutunggu depan lift, beruntung Bapak Indrawan akan masuk lift juga saat itu.
“Heru, sudah jam sembilan, kok masih mangkal depan pintu lift, ayo
masuk!” Pak Indrawan menegurku.
“Saya dan istri saya mau ngobrol sama Bapak di kantor. Ada
beberapa pertanyaan yang hendak kami ajukan, Pak.”
“Ayo! Mana istrimu? Mengapa hanya ada kamu yang ada di sini?”
sahut Bapak Indrawan.
“Sebentar,
Pak. Ia sedang membeli getuk,” jawabku. Pak Indrawan pun tampaknya memaklumi..,
karena
Istriku sedang hamil
“Kalau
begitu, saya pergi ke atas duluan, nanti kamu ketuk saja pintu ruangan saya.”
Bapak Indrawan kaget, ketika melihat tanganku masuk menghentikan
pintu lift.
“Maaf
Pak, ini dia istriku!” ucapku yang kemudian memperkenalkan mereka berdua.
“Ada
pertanyaan apa?”
Shinta dan aku yang berbeda pertanyaan saling pandang.
“Begini
Pak, Bapak mau getuk?” tawar Shinta yang di sambut ramah.
“Terima kasih, tapi tidak,” ucap Pak Indrawan menolak dengan ramah
sambil meregangkan dasi dan memegang erat kopernya.
“Benar Bapak tidak mau?” tanya Shinta lagi, “Mas Heru, mengapa
Bapak Indrawan menolak getuk yang enak ini?”
Mendengar tawaran Shinta yang berakhir komentar mengejutkan Bapak
Indrawan tersenyum, “Saya bisa memesan dari ruang kerja saya, kita ngobrol saja
nanti di kantor saya, sambil makan getuk.”
Akhirnya
mereka disambut Bapak Indrawan dengan ramah, menyajikan getuk yang disukai
Heru. Kemudian
Bapak Indrawan bertanya, “Apa pertanyaannya?”
“Begini
Pak, saya sedang mengidam makan getuk, tapi
saya juga
mengidam Mas Heru tanpa harus berangkat.., tapi tetap mendapat gajinya,
bagaimana itu, bisa tidak?” “Tidak!” jawab Bapak Indrawan.
“Kalo
saya langsung ikut, bagaimana Pak?” tanya Shinta.
“Tidak
dalam waktu dekat, Bu!” ucap Bapak Indrawan…, “Dalam proses, Ibu tidak bisa
tinggal di Vietnam untuk sementara waktu, untuk rekan Heru saja berangkat hari
ini dengan kapal TNI, jadi ini bukan suatu perjalanan yang normal.” Terang Pak
Indrawan.
Ibukota Vietnam
Sesampainya
di teluk markas kapal, aku takjub melihat kapal raksasa milik Amerika. Bila
dibandingkan dengan kapal TNI, sangatlah jauh berbeda. Aku juga melihat banyak
sekali kapal. Tidak hanya itu, aku juga sempat melihat sebuah jenis pesawat
tempur lepas landas dari kapal pelayaran raksasa itu. Mungkin karena sedang
tidak perang mereka berpatroli di siang hari. Aku dan Joni
akhirnya sampai di daerah bernama Hai Phong..,
tempat tentara Amerika bermarkas di dekat laut sebelum Saigon. Aku
melihat mereka bekerja. Kagum pada fasilitas tentara Amerika yang lengkap itu.
Kebutuhan altria perangnya sangat megah.
Daerah
teraman di Vietnam ialah kota Hanoi. Malamnya, aku diantar Joni dan beberapa
perwira tentara Amerika ke tempat para anggota KBRI berada, antara Saigon dan
Hanoi.
Joni pergi lagi ke perahu kapal pelayaran TNI setelah malamnya
mengantarku ke sekelompok orang yang akan membangun KBRI, bahkan aku di
kenalkan pada wanita cantik bernama Lista. Kemudian aku tinggal di daerah
Hanoi, wilayah Han Bon. Kami tinggal di dekat sebuah danau bernama Ho Gua. Aku
sangat takjub pada danau yang cukup luas itu.
Karena lapar, malamnya aku diajak makan oleh Lista. Kami
berbincang-bincang. Aku bertanya, daerah mana saja yang bisa kulewati untuk
memantau situasi dan tempat-tempat yang masih meninggalkan jejak peperangan.
Dan daerah mana saja yang dilarang. Lista bercerita mereka berperang di sawah
dan jarang sekali serangannya sampai kota Hanoi dan wilayah sekitarnya. Akan
tetapi..,
Amerika telah memberi batas sementara tempat-tempat yang kiranya
tidak aman. Tempat yang kuduga masih ada sisa para pemberontak.
Vietnam ialah sebuah negara republik sosialis dan aku harus
belajar lebih banyak tentang susunan negara. Yang menarik dari sejarah Vietnam
adalah sekitar 2500 tahun yang lalu, sebelum kekuasaan Kaisar China tiada dan
menjadi negara. Tapi itu hanya sebuah dugaan. Lista yang menceritakan informasi
yang masih belum akurat.
Kemudian aku bertanya apakah markas Saigon di Hanoi sering
diserang oleh para teroris?
Lista
pun menjawab mereka tidak menyerang sampai ke
Hanoi
atau pun Saigon dan itu jarang sekali terjadi, bahkan hampir tidak pernah.
Peperangan sering terjadi di sawah dan hutan. Di sanalah tentara Amerika
bergerilya.
Markas Saigon
Tuti bersama komandan Taylor yang sedang bertugas, ia dikenalkan
kepadaku dan Toni, mereka berkenalan dan dikenalkan oleh Jeffri dan Mark.
Mark dan Jeffri berasal dari pers gabungan yang telah dilatih
menjadi tentara. Sedangkan dari Indonesia, mereka masih hanya sekadar wartawan
lokal yang baru saja mendapatkan karirnya.
Sampai saigon dan Di mana markas yang lebih megah pada tempat yang
tidak kubayangkan. Aku di kantor seorang komandan dan ingin meminta izin untuk
memotret markas besar, deviasi yang belum kutahu, bagiannya di kantor saigon
Vietnam. Aku diijinkan, datang masuk, namun setelah Jenderal Taylor datang.
“Kamera
bagus,” kata seseorang sambil menunjuk kamera. Itu Mark. Aku tidak menjawab
karena bahasa Inggrisku
buruk. Kemudian, Ibu Tuti berkata, “Hey kamera apa itu?”
“Nikon fm 2,” jelasku kepada Ibu Tuti. Aku mencoba bersikap sopan
kepada tentara Amerika itu.
Ibu
Tuti yang membantuku untuk berkomunikasi, Jeffri dan
Mark
berharap aku untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa
Vietnam bila ingin bertahan di sini.
Ingatan Toni, 1974 Setelah Enam Tahun, tapi aku diatas menara
mercusar.
"wussh"
suara tiupan angin di ketinggian menara dengan orang yang misterius, dengan
seseorang di balik kapal melihatnya...
Tapi apakah Toni tahu...
Aku telah enam tahun di sini, bersama Heru, aku menikahi Lista,
dan sungguh masa-masa yang menegangkan. Kami kira, perang akan berakhir empat
tahun yang lalu, namun kabar berita baik akan di mulai, di awal tahun 1975.
Kemudian Hanoi menjadi satu-satunya tempat yang paling aman dan bila ingin ke
tempat yang paling aman justru..,
di
dekat saigon, atau di dalam markas tentara Amerika itu, di Hai Phong. Aku telah
memiliki anak dari hubunganku dengan Lista. Kemudian, KBRI telah memiliki
hubungan
diplomatik
penuh sejak 10 Agustus 1964. Harapan dari
hubungan diplomatik ini..,
kami
mengadakan sebuah kemungkinan yang berlandaskan di bidang-bidang yang mampu
saling membantu perekonomian kedua negara. Waktu berlalu. Tahun 1979..,
aku sudah mulai biasa dengan arti perdamaian. Sekarang aku dan
Heru akan berjalan-jalan menikmati arti dari perdamaian. Kebiasaan Heru dan aku
selain tetap menulis untuk menjadi perwakilan majalah di Indonesia, kami juga
mengirim portofolio kami. Karena ada ketergantungan pada kebutuhan kami pada
kamar gelap..,
hingga masih berteman dengan Mark, wartawan Amerika. Karena itu
kami sering berkunjung ke tempat Mark. Aku datang, dan awalnya sampai ketika Heru tiba.
Kami
tidak membawa lengkap kebutuhan studio foto, saat pertama kali datang ke
Vietnam jadi kami meminjam apapun yang bisa membantu diantara waktu
pemberontakan saat itu, sebuah studio foto milik wartawan Amerika.
Lalu cerita humor lucu, sewaktu ketika aku belum menikah dengan
Lista dan saat itu mungkin aku sedang cemburu karena Lista dekat dengan seorang
fotografer bernama Mark. Ia adalah teman dari temanku, Jeffri, ia juga seorang
penulis, kami berkenalan di sebuah kantin atau pub. Jefri dan Mark wartawan
satu kantor.
"mengapa
aku harus cemburu pada Mark! karena pada
akhirnya aku dengan lista."
"ha
ha.., tidak ada yang kukawatirkan humor yang sulit di pahami ini."
Akhirnya Heru datang ke tempat Mark, setellah ditunggu, aku sedang
membantu mencetak gambar untuk portofolio..,
merasa jenuh dan akhirnya belajar Fotografi dari Heru. Ia
membutuhkan bantuan di kamar gelap dan aku membantunya. Aku belajar mencetak
foto negatif menjadi foto bergambar, namun itu tidak mudah karena aku tidak
suka bekerja di bawah lampu merah yang redup dan remang-remang.
Mengejar
waktu, Toni yang lagi menyeleksi gambar itu, tiba-tiba bertanya tentang
hubunganku dengan Lista, yang sebenarnya belum dimulai, namun aku memang sudah
melakukan pendekatan beberapa bulan ini.
"ha ha.., humor cerita masa lalu " kuingat
Aku memang suka paras Lista yang cantik, tubuhnya yang mungil dan
ayu, keturunan Indonesia China, dan aku memang ingin mengajaknya pergi berkemah
sesuai dengan rencanaku dan Heru. Suatu saat. Tetapi, kami hanya tinggal
berdua, ketika waktu itu..,
Heru dan aku, yang akan pergi diam-diam.
Maka,
Kami menjelajahi tempat itu, berkemah, hingga Angkor Watt, hanya ingin berburu
foto keluar Vietnam.
Namun, sialnya kami di tangkap oleh petani-petani bunga Popi.
"ini sungguh kenangan buruk, tiba-tiba." sebelum suara
dor di atas menara mercu suar jauh diantara waktu di suatu tempat tanpa ada
yang menduga.
Aku sempat
ditahan, bahkan dipaksa oleh seorang Jenderal Nam Po Tang, seorang penjaga
asset negara yang korupsi. Aku bahkan harus berpikir keras bagaimana bisa lepas
dari tawanannya.
"dor..."
Sekutu Lencana Amerika
Cerita bagaimana aku ditahan oleh seorang jenderal. Ketika itu
kami berpergian dan berkemah di sebuah tempat. Itulah awal aku mengenal Jendral
Nam Poh Tang.
Pagi hari saat aku terbangun dan akan membuat kopi dari sisa panas
bara api masih meletik. Heru entah pergi kemana. Sampai aku selesai menikmati
rokok dan kopi, ia belum juga kembali. Aku mulai khawatir, waktunya aku mencari
Heru.
Hutan dalam terbuka tiba-tiba ladang buatan manusia yang luas dan
aku tidak tahu ladang tanaman apakah itu kecuali Heru. “Heru kamu ngapain
berdiri dengan heran di taman bunga, tempat ini indah tapi ada sasaran gambar
bila kita simpan satu untuk Lista akan kutolak anjuranmu. Karena kita juga bisa
membeli bunga di Hanoi.”
“Bila
sembarang bunga pasti sudah kubantu kau untuk memakai uangku, tapi ini berbeda,
ini bunga opium,
kiranya apa yang tidak terlintas di kepalamu Toni?”
“Aku
membayangkan tentara Inggris dan aku tahu ini adalah keistimewaan Vietnam.
Setelah menjadi pertikaian perang, dunia pun tahu! Amerika memberi saran di
PBB,” Heru menyela, “Tapi mengapa belum kau kirim berita yang
satu ini? Mengapa ini tidak bisa jadi bahan tulisan?”
“Recovery
Vietnam bukan perjalanan mudah untuk diikuti atau diliput. Sulit mengingat
segala sesuatunya, aku cuma bisa menulis yang ada dalam pikiran! Tapi gampang
saja, bila kita punya bukti, ayo kita kembali ambil kamera di
tenda.”
“KBRI sudah memberi tahu ada ladang tidak?”
“Aku
lupa? Lagipula tanpa bukti, kita tidak bisa meliputnya, sekarang buktinya ada
depan mata, ayo ambil
kamera. Kita ambil satu gambar! Difoto saja, foto ladang tersebut
dengan kita di dalamnya bila bisa!”
Dalam perjalanan aku membayang, “Vietnam mendapat hak istimewa
untuk menanam bunga opium, dan bersahut kalimat Amerika membantu recovery
Vietnam.”
kami bergegas kembali ketenda...Tapi. Pingsan dan sebelumnya
ketika bangun kepalaku sakit seperti di pukul dari belakang.
“Bangun orang asing!” Dialek bahasa Vietnam membangunkan Heru.
Setelah aku siuman aku samar-samar melihat seragam tentara di ruangan yang
lusuh tersebut.
Aku melihat dia meminum teh dari poci tapi kiranya apakah itu arak
yang diminum, sambil menyeruput air minum orang itu berkata, “Aku tidak suka
orang asing yang tidak membawa uang!”
“Kalian
hanya membawa kamera sebagai benda mahal
yang kalian miliki, turis Indonesia!”
Setelah melihat paspor kami berdua ia berkata, “Apakah kalian
turis yang datang ke Vietnam?” Kemudian paspor tersebut juga dibaca oleh orang
lain. Orang yang menegur salah mengkira kami turis.
“Ahh! Ternyata kalian lebih istimewa dari sekadar turis,” ucap
orang dibalik seragam tentara.
“Aku
hanya seorang petani yang suka berbisnis, lihat uang dolar ini!”
“Uang ini memberi gagasan untuk menjadi kaya raya. Aku adalah
seorang jenderal, dan dengan uang ini, aku dapat membayangkan bagaimana kau
akan membantuku.”
“Apabila orang Amerika yang datang harus membeli mereka dengan
segan memberiku uang, begitulah kompromi dalam benak mereka,” sang Jenderal
tersenyum, “namaku Nam Poah Tang, aku tidak korupsi, tapi uang ini memancingku
untuk mendapatkan gagasan lain.”
“Kebunku berproduksi dan aku tidak suka diatur karena itu, biarkan
aku mengaturmu,” ucap Nam Poah Tang.
“Aku
tidak punya uang, tapi bebaskan kami dari sini,” ucap Heru.
Menjadi Tawanan Petani
Bunga
opium (poppy) ialah sesuatu yang ada dalam pikiran kami. Tidak ada buruk sangka
sampai akhirnya uang dijadikan persoalan, dan sialnya Heru tidak biasa
membungkamkan mulutnya di depan orang yang telah menawan kami.
Kira-kira mengapa Heru diserang mungkin karena ucapannya. Dia
dipisahkan olehku. Aku dipaksa masuk ke kapal tempat dokumenku dibawakan
olehnya. Mataku ditutup.
Sebagai wartawan, aku mencium sesuatu di atas kapal. Orang Vietnam
memperkenalkan dirinya..,
“Namaku
Albert dari Vietnam. Temanmu aman selama kau
mau menjadi orang kaya. Di dalam kapal ini..,
ada
heroin untuk dijual, dan kamu terlibat tanpa pilihan.” Kemudian Albert
menambahkan “Ini ranselmu, aku tahu
kau
penulis, mulai karang sesuatu untuk mempersiapkan diri masuk ke perairan
Indonesia.”
“Oh iya, nih, rokokmu,” ucap Albert.
“Aku tidak punya apa-apa untuk dikarang, tapi aku akan memastikan
akan membantumu karena situasiku serba salah. Dia memiliki Istri dan anak, apa
yang harus kukatakan toh aku harus membantumu menjualnya bukan?” kataku.
Albert menatapku, “Kau mengerti, terbayangkankah apa yang dapat
terjadi pada temanmu!”
“Sebut saja mati! Bila tingkahku tidak seperti keinginanmu,” ucap
Toni. Aku harus mengikuti naluri, mengikuti kemauan mereka walaupun terpaksa
dan kuharap asap rokok akan membantu meyakinkanku. Aku ingin menipu orang keji
itu dan kuharap keringat dingin lemas karena aku tahu ini bukan pekerjaan
mudah. Albert mendengar perkataanku, namun apakah Tuhan mendengarkanku bila
Heru dibebaskan, oh Tuhan berilah pertanda.
Albert diam dan pergi dari hadapanku. Selintas dia aku mendapatkan
ide. Ide itu ialah mengikuti skenarioku yang akhirnya sukses. “Indonesiaku yang
kucintai, maaf aku harus menjadi sekutu di antara kekejian manusia akan
memperdagangkan obat terlarang.”
Kami
mendarat di sebuah tempat yang kemudianku gambar dalam peta. Ini adalah
strategi terbaik memasukkan heroin. Aku berkata pada mereka bahwa penjagaan
laut di
Indonesia ketat karena Presidennya adalah mantan seorang jenderal.
Kami terpaksa membungkus heroin itu di dalam kantong plastik. Di perairan dekat
pulau Jawa, kami tenggelamkan sebanyak-banyaknya untuk ditabung.
Karantina Toni
Aku sedang disiksa, di Indonesia atau di Vietnam, di darat atau di
laut, di mana pun, di ruangan mewah ataupun buruk, heroin dengan jumlah banyak
atau pun sedikit, mabuk ataupun tidak. Aku sedang dikarantina oleh Albert dan
pengikutnya.
Bisa sadar ini ritual atau tidak, jelas ini seperti sebuah
kehancuran untukku. Aku tidak peduli bila bajuku lusuh, atau pun sebatang rokok
lagi, kenikmatan kini dalam hidup.
Kenikmatan
menjadi peliharaan, aku orang yang sedang dikarantina, aku tidak menatap Albert
sebagai ancaman lagi. Ia sungguh telah berbaik hati.
Heru bukan temanku, Albert telah menjadi teman!
Logika
ialah heroin, sebatang rokok tanpa disuntik ialah penyiksaan.
Pertama kali ketika dikurung setelah sampai Indonesia.., mereka
harus mengikatku, dan pasti bila mulutku tidak dihalangi sesuatu, kuduga aku
akan berteriak-teriak.
Sebagai peliharaan, aku diberi makan dan kesenangan yang berbeda
oleh Albert, temanku.
Albert mengajarkanku bagaimana bertingkah laku pada wanita, bahkan
aku sebagai peliharaan, sengaja didik untuk menjadi orang yang bisa
memperhatikan klien.
Ada dua kategori klien, tertarik untuk kerja sama dan tidak.
Mereka yang beranggapan menjadi teman pernah menembakku, dan aku tembak lagi,
dia dengan pistol, hingga dia mati.
Kematian
membuat aku tertawa. Aku terjebak dan tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak?
Perasaanku apakah menjadi perkara?
Aku ingat ketika di Jakarta Barat, di antara sawah-sawah itu. Di
depan rumah, aku akan berangkat kerja pertama kali sebagai lulusan SMA.’
Seorang pencuri di keroyok habis, dipukuli oleh tetangga, dan
anak-anak kampung. Mereka menyiksa seseorang karena telah mencuri. Sungguh, aku
membayangkan bila diriku yang sedang disiksa.
Sungguh aku sedangkan mencuri apa telah sama dengan dikeroyok
suntikan?
Di antara hari aku ingat, itu moral manusia, mereka menghukum
pencuri, Albert sungguh membuatku pusing?
Aku ingat ketika di Jakarta Barat, di antara sawah-sawah. Di depan
rumah, aku akan berangkat kerja untuk pertama kali sebagai lulusan SMA.
Berpikir akan menolong keluargaku. Menjadi harapan keluarga, dan menjadi
masyarakat yang berbakti pada negeri.
Heroin membuat diriku dalam pertikaian. Antara baik dan buruk.
Menjadi manusia ialah pertanyaan yang harus dijawab?
Aku ingin orang lain yang menjawab pertanyaanku, tetapi siapa?
Setiap orang yang menjawab salah, akan kutembak. Pilihan mereka
hanya harus mengikuti antara aku dan Albert.
Yang kutembak ialah orang yang membeli tanpa sopan santun.
Tiba-tiba aku teringat belum membayar uang kopi dan rokok di
kantor, mungkin karena aku akan mati. Aku datang ke sana dan membayarnya saja.
Aku memiliki prinsip bila kebaikan bisa kukerjakan
walaupun tidak bernilai apa-apa di mata orang. Aku akan tetap melaksanakan.
Senang menjadi manusia.
Bajuku sekarang banyak dan tidak mudah lusuh. Ratu Plaza, Sarinah,
dan Gajah Mada Plaza menjadi tempatku untuk membeli baju. Sebelumnya, aku
selalu prihatin untuk belanja, tapi sekarang?
Jam tanganku rolex yang berhias emas bahkan aku datang ke showcase
penjualan mobil. Aku suka mobil mercedes band berwarna putih itu. Perubahan
dalam hidup terjadi..,
aku
anak dari sawah di daerah Kebun Jeruk yang ingin kembali untuk pamer. Namun
sayangnya, wilayah itu belum diaspal jalan.
Aku
tidur dengan kemewahan, mobil, dan rumah. Dengan pendingin ruangan membuat baju
lusuhku menjadi nyaman.
Memonopoli Pesta
Sementara mencari klien di pertokoan mewah Gajah Mada Plaza, aku
memikirkan strategi berkomunikasiku.
Klien wanita ialah mereka anak orang kaya atau istri orang kaya
yang sedang belanja. Mencari klien seperti mencari seorang penghianat yang
berduit.
Di
antara penghianat hingga mau tidur denganku, selalu berakhir mati karena Albert
sangat ketat dalam beroperasi.
Aku tidak salahkan mereka bila mati.
Albert yang salahkan mereka karena pasti mereka berniat untuk
mendapatkan barang gratis.., di antaranya adalah mahasiswi. Mereka berakhir
hidupnya karena terdesak tidak mau menjadi bandar.
Akan
tetapi, di antara mereka yang mengikuti aturan main, pasti berhasil
memanfaatkan suaminya hingga mau berbisnis. Suami ialah pecandu yang istrinya
telah dimanfaatkan.
Untuk menjadi bandar dengan kedok bisnis mereka.
Atau
Ibu rumah tangga yang mengajarkan anaknya untuk berjualan?
Aku kasihan pada mereka yang tertular. Aku yakin semua orang bukan
penghianat, dan pencuri, tetapi aku sedang menjadi pengacara untuk setan.
Setiap berita acara untuk penjualan, aku yang mengatur situasi
untuk Albert. Sesekali dalam perjalanan menuju negosiasi, aku melihat Albert
dihadapkan anak kecil atau ia sedang memikirkan strategi untuk memanfaatkan
anak kecil agar berdagang?
Aku
salah! Ternyata ia memang simpatik pada anak kecil sejak perang di Vietnam. Ia
berkata padaku, “Kau
beruntung
menjadi bangsa yang sudah merdeka.”
“Aku sangat cemburu padamu, memiliki negeri yang
indah.”
“Kuharap
kau menikmati jam rolex-mu,” ucap Albert yang kulihat tidak mengenakan jam
tangan.
Aku
bertanya mengapa kau tidak memakai jam..,
“Ayah
angkatku adalah seorang jenderal. Ia beruntung
menjadi seorang petani..,
tetapi
tidak seberuntung seperti ayahmu atau ibumu!”
Aku
kaget! Dari mana ia tahu aku seorang anak petani.
Penghianat Tahun 80an
Bandung
aku baru saja sampai di kota Bandung melewat puncak. Tadinya pergi ke Bogor
ingin melewati jalan lain,
tetapi aku ikuti kata
hatiku untuk berputar melewati
puncak. Aku
jenuh berjualan di kota Jakarta.., akhirnya kubawa banyak persediaan heroin, di bagasi. Sampai di
Bandung aku ingin mendengar..,
lagu-lagu disko. Aku sedikit bosan dengan lagu Elvis Persely
favoritku Jail Hause Rock yang berulang-ulang kudengar di mobil.
Aku mendapat surat dari wanita yang kucintai, gadis lain yang
membuatku tergila-gila selain Lista.
Kurasa
aku sedang dimabuk asmaranya. Rasanya membuat heroin tidak pernah seenak ini. Aku
datang ke rumah
kakakku..,
dan diam-diam
ingin pamer seperti pengusaha sukses yang pulang dari Vietnam. “Kakak, apa
kabar?”
“Toni
dari mana saja, mengapa kau ke Vietnam tidak bilang-bilang. Wah, hebat wartawan
perang dari
Indonesia..,” ucap kakak…, tidak tahu ia adalah pengguna narkotik
dan menjualnya.
“Kakak Lidya, boleh aku numpang kamar mandi?” ucap Toni yang
terlanjur sakau tergesa-gesa karena zat di tubuhnya sudah menagih kawannya
untuk tiba bergabung untuk disuntikan.
Ia
tampak menikmati, kawanan zat putau masuk dirinya kembali, walaupun saat itu ia
keluar di pertanyakan mengapa lama dalam kamar mandi.
“Toni mengapa Lama?” teriak kakaknya heran menanti.
“Celanaku basah, malu keluar.” Padahal darahnya sempat muncrat
kena celana karena ia tertidur sebentar tadi.
Sepasang lengan tangannya terlihat memiliki bekas tanda luka
suntikan yang banyak, dan ia sedang menutupinya dengan pakaian baju lengan
panjangnya.
“Toni, kau mau kubuatkan kopi ?” tanya kakaknya tahu minuman
favorit adiknya.
“Tidak,
terima kasih Lidya.” Padahal rasa rindu mereka bercerita tentang ayahnya, yang
selalu meladeni mereka untuk ngopi bersama. Kakaknya menduga ada sesuatu yang
tidak pada beres. Mana mungkin ia menolak tawaran rasa rindu untuk bergurau
antara kakak dan adik untuk beramah-tamah.
“Kau
mau ke mana sekarang?” tanya kakaknya.
“Aku numpang
ke toilet karena sebelum sampai ke hotel.., rumah kakak ini yang paling dekat
dari perjalanaan,” jawab Toni tergesa-gesa menambahkan lagi, “aku bukan
wartawan lagi, aku ada rapat usaha bisnis dengan orang
asing.., nanti aku mampir lagi setelah urusan selesai.”
“Kau
tidak mau menginap dan memanjakan diri untuk menggambar di rumahku, engga bayar
loh!” ucap Lidya
sedikit tersinggung.., karena adiknya datang hanya untuk menumpang
toilet.
Aku masuk mobil dan menyalakan radio yang tidak sengaja ialah
berita RRI Bandung “ Berita bencana..,
Pesawat Ulang Alik Challenger terjadi pada Selasa, 28 Januari
1986,kemarin, ketika Space Shuttle Challenger meledak 73 detik setelah
diluncurkan. Peristiwa ini menyebabkan kematian tujuh awak. Pesawat hancur di
atas Samudera Atlantik, lepas pantai pusat Florida pada 11:38 EST (16:38 UTC ).
Disintegrasi seluruh pesawat mulai setelah segel cincin-O di kanan solid rocket
booster (SRB) gagal dilepas…,
satu
dari dua roket pendorong miring dan menggores badan pesawat seketika timbul
percikan api disusul meledaknya pesawat kompartemen awak dan banyak fragmen
kendaraan lain akhirnya ditemukan dari dasar laut setelah pencarian dan operasi
pemulihan. Meskipun waktu yang
tepat dari kematian kru tidak diketahui..,
anggota
kru beberapa diketahui telah selamat dari kecelakaan pesawat ruang angkasa.
Namun, pesawat tidak punya sistem melarikan diri dan para astronot tidak
bertahan
dari kompartemen awak di permukaan laut.”
Didengar
kakak lidya menyahut “Astaga!”
Aku
pergi.
”Bye,”
jawabnya tanpa komentar.
Ciuman
di Saigon
"oh
ingatan...oh ingatan"
Aku
berubah pikiran dan galau, klub malam Jiwa Kejora,
setelah dua tahun berlalu aku kembali ke Hanoi..,
bersama Albert. Setelah setahun, Indonesia mulai menderita
penyakit dari jalur penjualan narkotika heroin dari Vietnam.
Aku yang berpikir kira-kira itulah tempat penyimpanan teraman.
Mereka menyewa kapal nelayan lokal untuk mengambil heroin kami yang ada di
menara mercusuar. Gambaran pendekku mengira itu tempat yang paling aman untuk
membangun penyimpanan heroin di Indonesia bila di tinggalkan. Sementara itu,
aku selalu dibuntuti Albert.
Kekacauan memang sedang terjadi, namun peduli setan pada perkara
mereka.
Kemudian
kembali di Klub Jiwa Kejora, aku melihat Lista di klub malam dan aku berpikir,
bagaimana aku biasa mendekati Lista untuk mengkirim kabar bahwa terjadi korupsi
dan tindakkan penyalahgunaan ladang. Yang
terlintas dalam kepala..,
haruskah aku menciumnya, untuk berbisik-bisik, sungguh diriku
sedang dalam horor berkelanjutan. Rasa takut pada wanita masih sama. Aku jadi
ingat ketika pertama kali melihat Lista, tapi kini haruskah tanpa alasan aku
menciumnya?
Selintas, di seberang aku melihat Lista bersama Mark. Aku
beranikan diri untuk menciumnya, atau setidaknya berharap Lista melihatku yang
telah hilang menjadi hantu setelah penculikanku di Vietnam.
Aku
juga selintas melihat Heru berpakaian rapih dengan
dasi..,
layaknya
bukan seorang tawanan. Mungkin perasaanku menggambarkan pertanyaan yang harus
diselesaikan? Sungguh aku bukan penulis profesional. Sebagai wartawan,
kecerdikanku digunakan sebagai strategi pengiriman
mereka..,
bagaimana
dengan diriku sekarang! Aku seperti hantu, terpikir ingin mati tapi dari
pikiran terakhir gambaran terindah hanya mencium Lista. Karena itu aku berjalan
seperti zombie..,
tidak bernafsu namun ketika kebetulan jarak mata Lista dekat,
Lista telah melihatku mengambil persiapan di bibir dan kucium dia hingga aku
tahu dia telah membalas ciumanku. Tanpa sadar dia mendesah menjauh berkata
“Mark! Aduh kamu bukan Mark! Astaga Toni!” ucap Lista setelah menciumku..,
kemudian dia membalik badannya. Kemudian aku ditarik Albert dan
dibawa pergi ke kamar. Di sana, mereka telah menyiapkan baju, dasi dan jaket.
Pintu
ruangan yang tertutup setelah aku dibawa masuk, berbunyi. Di luar ada Lista
yang berteriak-teriak memanggil namaku. Akan tetapi, Albert menghalangiku
keluar.
“Toni!” teriak Lista dari balik pintu.
Tetapi, kudengar ada teriakan lain, “Diam! Kuhajar kau, wanita!”
Kami terjebak..,
tapi setelah itu, aku dibawa kedalam ruangan di mana Jendral Nam
Poah Tang yang sedang dilayani Heru. Tang telah menyakiti Lista.
“Selamat datang kembali turisku, kau memberiku banyak uang.
Bagaimana kabar Ibu dan Adikmu?,” ucap Nam Poah Tang
“Setelah
dua tahun, aku bertanya siapa yang akan kau cium di klub milikku ini.
Sepertinya kau mulai berselera humor karena pasti kau memiliki maksud lain pada
temanmu itu,” ucap Nam Poah Tang menambahkan, “Albet bawa masuk
tamu muda itu, dia pasti wanita cantik.”
“Toni,
mari kalian duduk denganku dan Heru. Kalian pasti
berpikir
aku akan berbuat jahat bukan? Kau boleh pergi,
Lista.., tapi
setelah kamu menjadi tamu yang baik dulu.” Kami disuntik heroin. Lista dan aku
kehilangan diri. Aku disekap dan kini aku harus kesal karena ditahan
berbulan-bulan, diperdaya oleh heroin. Kami Berdua sudah kecanduan seperti Heru
yang sudah terlanjur mengikuti Jendral Nam.
Kabur
Malam hari tingkahku berubah. Di antara derasnya hujan di luar,
aku disuntik kembali dengan heroin. Aku memohon untuk menyuntiknya sendiri. Aku
di kamar dan pelayan kuperdaya, kusekap dia dan kusuntikan heroin padanya,
kemudian aku kabur. Namun..,
sebelumnya
kuambil apa saja yang bisa kuambil di kantongnya. Aku tidak peduli dengan nasib
Lista dan Heru. Yang ada di dalam pikiranku hanya melarikan diri. Hutan
merupakan satu-satunya cara yang terbaik untuk menjauh dari rumah ladang bunga
opium.
Aku melarikan diri ke hutan. Aku menduga-duga jarak tempuhku yang
belum jauh, dan kemungkinan akan tertangkap lagi. Sementara yang lain mengejar,
aku tetap berlari tanpa henti. Aku terpaksa berlari walaupun rasanya
paru-paruku sudah terasa hampir meledak. Lebih baik mati sambil lari
mempertahankan diri.
Aku terpaksa membunuh lima orang selama pelarian. Sampai pada
akhirnya, di sungai aku melompat, berharap arus sungai cukup kuat untuk
menghanyutkanku. Setelah menceburkan diri, badanku terseret arus. Aku mencoba
berenang..,
namun aku mengenai sesuatu yang keras hingga tidak sadarkan diri.
Kabur
bukan hal yang menyenangkan, sakit akibat candu mulai terasa. Setelah aku
terbangun di tepi sungai, aku merasakan masa-masa sulit di mana aku harus
melakukan penolakan pada rasa candu. Sungguh aku rindu pada heroin. Ini
membuatku jadi gila. Aku sempat muntah mengeluarkan darah. “Tuhan, tolong aku!”
teriakku.
Sampai..,
beberapa
hari kemudian, aku pingsan dan di temukan oleh petani padi Vietnam.
Kendali
Pikiran
“Aku tahu Toni kabur karena dia kecewa padaku..,
Lista
sebaiknya kau diam karena nyawa kita di ujung tombak. Ini masa-masa kritis, aku
dan kamu bisa mati
kapan saja?”
“Aku
minta di dengarkan. Anggap saja ini kesalahan aku dan Toni.”
“Heru keluar!” ucap Albert.
“Kalian pergi, seperti yang direncanakan,” ucap Jenderal Nam Poh
Tang,
“kau akan menjadi teman bagi orang-orang yang telah kudidik.
Rekeningmu, ini nomernya, di sebuah bank yang
telah
tercantum di situ dan ini juga untukmu Albert.” “Aku akan melarikan diri,” ucap
Nam Poh Tang. “Senang melayanimu, Tuan,” ucap Heru, “terima kasih
telah berbaik hati.”
“Aku
telah menjaga anak dan istrimu,” ucap Nam Poh
Tang, “permintaanmu telah kukabulkan.”
“Ini foto mereka, yang terakhir, dan ini suratnya yang terbaru,”
ucap Albert.
“Aku minta kau berpura-pura lagi depan Lista,” ucap Jenderal Nam
Poh Tang.
“Mengapa
tidak kauinginkan aku untuk meyakinkan Toni karena ia temanku yang telah mau
mengikuti permainan
ini?”
“Albert mengapa ia berkhianat?”
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku ingin dia tetap menjadi teman
kita,” ucap Albert.
Apakah
aku seorang pengedar? Aku tidak tahu. Kepalaku sedang tidak karuan rasanya. Aku
dipaksa memakai heroin oleh Albert yang menjadi kaki tangannya Nam Poh Tang.
Rutinitasku adalah menyelam..,
ke laut dan mengambil Heroin. Pernah kabur dan kini sedang berada
kembali di Indonesia. Aku selalu disuguhi wanita cantik untuk tidur denganku.
Bahkan aku memiliki rumah sendiri di Indonesia.
Aku kecanduan, aku memakai dan menjualnya, bahkan aku memegang
pistol yang diberikan temanku, Albert. Aku memang pernah kabur dan melapor ke
KBRI. Namun..,
kini
aku kembali lagi menjadi seorang pengedar. Masih bingung dengan statusku. Meski
begitu, aku senang karena tidak lagi memikirkan baju yang lusuh. Sekarang aku
hanya memikirkan bisnis yang tepat untuk mencuci uangku, atau uang Albert.
Jenderal Nam Po Tang ditangkap dan
dihukum mati. Namun,
kaki tangan atau asistennya memperkirakan hingga tahun 2005,
persediaan heroin akan tetap cukup. Dari pertanian bunga popi untuk kami
berdua, aku dan Albert, bisa menjadi orang yang kaya!
Sebelum Mati, Aku Mengaku gila
Kembang
api di awal 2000, menghias kematian seseorang. Bahkan suara tembakan pistol,
tidak didengar penduduk. Januari, di awal millennia, di sebuah menara mercusuar
ditemukan
orang bunuh diri. Aku seorang detektif, dari
bagian badan intelegensi..,
dan sedang menyelidiki sebuah kejadian. Namaku Agus. Semalam aku
di Jakarta dan sekarang akan pergi menuju sebuah menara mercusuar di luar kota.
Sampai di tempat perkara, di samping marking korban yang sudah digarisi, ada
sebuah jurnal. Diduga ialah jurnal pengakuan..,
tetapi apakah aku bisa menganggap serius cerita si korban bernama
Toni ini? Jurnal korban bunuh diri dilaporkan bahwa kandungan opium dalam
dirinya sangat tinggi dan di pahanya ada bekas luka tembak yang telah lama.
Tidak ada penduduk setempat yang mengaku menjadi keluarga korban. Kami
mencurigai kalau Toni masih tinggal di sekitaran kota Jakarta, tetapi di mana?
Mengapa dia pergi ke sini?
Besoknya, kembali pergi ke kantor polisi aku menginvestigasi kasus
ini. Aku harus punya kesimpulan untuk merencanakan penyelidikan satu-satunya
buku atau jurnal yang ditinggalkan orang yang bunuh diri itu. Sungguh aku tidak
mengerti, di lain sisi, aku tidak peduli, mengapa?
Opium! Dalam tubuhnya dengan senjata api itu mengkhawatirkan.
Sungguh tidak ada keterangan keterkaitan awal hingga akhir bunuh diri. Mengapa
ia stress kemudian bunuh diri? Apa penyebabnya?
Besoknya aku kembali pergi ke kantor, meneruskan membaca laporan.
Dari awal, aku coba memahami. Toni seorang wartawan yang hilang diculik dengan
kawannya. Adakah penyebabnya dikarenakan trauma..,
menjadi sikopat atau gila. Aku seperti sedang melihat buku
biografi perjalanan hidup seseorang. Aku kaget, di daerah Thamrin..,
Jakarta, pernah ada trem peninggalan kolonial Belanda menjadi
favoritnya ketika kecil. Lalu, kiranya apa lagi yang tidakku ketahui? Tulisan
wartawan bernama Toni tersebut penuh dengan gambaran perasaannya.
“Tapi bagaimana bila bom itu kena merusak lensa kamera?” ucap Toni
khawatir pada Heru yang disambut tawa antara redaksi undangan di kantor Bapak
Indrawan. Dan itu saat mereka berdua diundang untuk mempersiapkan diri terhadap
tawaran pergi ke Vietnam.
“Ha ha ha,” aku berpendapat ironi menahan komentar sikopat macam
apa dia. Telah kubaca kecurigaan Toni membayangkan kaitan pada penembakan JFK
di kaitkan dengan perang di Vietnam.
Terasa rancu dan lucu, tapi dia memang ada di Vietnam menurut buku
ini, bagaimana berceritanya, Toni juga bercerita Partai komunis di Indonesia
sepenuhnya hanya boneka belaka, tapi sangat humoris dari pandangan umum,
tentang itu aku belum punya pendapat atau tidak ingin berpendapat berkaitan
dengan skema JFK. Namun..,
aku
bingung. Aku hanya tahu bahwa Toni ialah korban bunuh diri yang mengaku telah
kehilangan
segala-galanya..,
mengait-ngaitkan harta dan kemakmuran nasional yang sulit dilihat
alurnya.
Lucu sekali bagaimana ia mengatakan akan mati menghadap Irian
Barat untuk tujuan sebagai simbolis ke pengorbanannya untuk Indonesia. Ironi
tidak memiliki rasa memiliki. Lalu..,
apa
hubungannya dengan narkoba? Mencoba mengisayaratkan bahwa adegan bunuh dirinya
akan dilihat sebagai pengorbanan memiliki rasa gotong-royong? Tapi Toni
mendapatkan semua persediaan heroin yang ditimbun
di Indonesia..,
bahkan
ia mengaku ia bukan saja penadah utama tetapi ia juga terjebak dalam
perencanaan deposit heroin yang begitu besar. Kemudian, ada seorang Jenderal
yang diceritakan oleh Toni telah disidang dan dihukum oleh
Makamah Internasional, karena tindak pelanggaran..,
memploting
masalah mengunakan wewenang ekonomi komoditas terbatas pada perdagangan panen?
“Sungguh ini kasus aneh.” Aku sulit memahaminya.
Besoknya,
aku kembali bertugas membaca cerita, memahami alur cerita yang bisa dipercaya
atau tidak. Tiba-tiba, ada laporan di Tanah Abang ditemukan rumah
kosong dengan foto-foto Toni..,
si korban bunuh diri, aku bergegas pergi ke sana dan mencari
petunjuk untuk memahami siapa dia?
Siang itu, seorang anak muda bernama Bayu ditangkap sedang membeli
narkoba di Tanah Abang. Mereka dicurigai dari semalam oleh penduduk setempat.
Mereka terlihat seperti orang gelisah yang akan masuk ke rumah kosong Bapak
Toni.
Kami akhirnya memiliki petunjuk, Toni tinggal di Tanah Abang Dua.
Ia tinggal dekat dengan daerah Gajah Mada, bahkan hampir diantara semua
penjualan narkoba partai besar seperti lingkaran dan itu di tengah-tengah motif
radius acak dari di antara bandar yang sering ditangkap di petakan. Seperti
perumahan Kampung Bali..,
contohnya, tidak jauh dari radius Tanah Abang, tetapi mengapa Toni
bunuh diri bukanlah hal yang bisa kupahami arti simbolisnya? Ia memiliki segala
harta di zaman yang telah berubah banyak sejak saat dia pulang dari Vietnam. Ia
bisa memiliki banyak usaha walaupun ia mengonsumsi narkoba. Kupahami ini sebuah
isu pencucian uang, dengan berkedok usaha-usahanya. Aku terkejut pada nama-nama
PT atau CV sebagai wirausaha.
Aku
mengikuti cerita Toni, ketika Jendaral Nam Poh Tang itu tertangkap dan digiring
ke Mahkamah Agung tapi, ia sendiri, Toni, tidak melihat Jendral Nam Poh Tang
dihukum atau digiring ke Mahkamah Agung melainkan cerita dari
Albert
sebagai pengakuan dalam buku. Bila Nam Poh Tang seorang jenderal yang menjaga
aset negara yang berkomoditas terbatas itu, siapa yang harus dicurigai,
mungkinkah Albert yang menipu Toni bahwa Nam Poh Tang diceritakan dihukum mati?
Kuduga ia masih hidup, tapi Toni diperdaya dan ditipu oleh Albert, sebagai
entah boneka Albert atau Jenderal Nam Poh Tang-kah Toni ini?
Monarki Warna Warni Dan Angin Kelabu
Toni di Samping Jurnal
Aku akan mati di samping jurnalku, tepat menghadap arah mata
angin, yaitu ke pulau Irian Barat. Aku telah mati, kau menemukanku, dengan
pandangan lampiran ini sebagai tanda, pesan terakhirku.
Bagaimana aku bermula cerita. Namaku Toni, aku sungguh terjebak!
Rinduku pada temanku Heru yang entah kini di mana? Sawah-sawah di Jakarta tahun
60′an, aku berumah di daerah Kebun Jeruk, kini tempat itu bukan lagi sawah,
lalu, aku ingat kesenangan naik kereta trem sesaat dari Thamrin, tapi kini
tidak ada lagi. Atau cerita pembebasan Irian Barat yang disebut Trikora itu
berkait-kait. Aku seorang pencandu heroin yang makmur. Mereka kini bisa
berhenti mengetuk pintu rumahku untuk meminta hidangan garis bubuk heroin yang
dibentuk simetris untuk memancing selera itu telah habis. Aku mati bukan karena
heroin, bahkan setelah kau menemukan mayatku yang telah bunuh diri ini karena
pistol pemberian Albert, yang kuduga tidak akan kupegang di tangan setelah
kubidik kepalaku ini.
Kapankah
aku mati? Aku mati ketika berada di ladang bunga opium, tetapi aku berjalan
bagai orang yang mengedarkan heroin. Di antara waktu, sungguh masa keemasan
menjadi orang yang makmur tetapi membuat yang lain menderita, sungguh mengapa
aku menjadi seorang pengedar heroin, apakah karena simpatik Albert padaku?
Mengapa aku harus mati menghadap ke arah mata angin, yaitu ke
Irian Barat dengan rasa penasaran ingin kalian membayangkan. Adakah aku menjadi
pengedar karena keinginanku atau karena jebakan ialah tetap masa keemasan bagi
seseorang.
Selintas
cerita, bayangkan terjebaknya diriku pada takdir seperti halusinasi yang
menjadi skizofrenia. Penasaranku dari berita di manakah angin berhembus?
Penasaranku bertanya ingin menduga benar apakah benar Pembunuhan
JFK atau Jhon F. Kennedy..,
ada
hubungannya dengan gunung emas di Irian Jaya, “Sungguh aku kagum pada mereka
bila benar akan menjadi penyidik yang hebat.” Membayangkan Presiden Sukarno
pernah berkeinginan untuk tidak menerima kongsi
usaha dari luar negeri..,
tapi
sebaliknya Suharto, apakah benar kubayangkan dia tidak tahu mengapa Jhon F.
Kennedy dibunuh karena kudeta gunung emas itu telah menjadi konseptualiasi rasa
penasaranku membayangkan yang kalian bayangkan, mengapa di tahannya Sukarno
untuk diasingkan. Apakah komunis dikambinghitamkan? Dan mengapa mereka seperti
manusia tidak manusiawi seperti diriku!!!
“Ha ha ha.”
“Aku tidak tahan lagi pada isu-isu miring yang membuatku
membayangkan isi kepala kalian.”
Aku ingin tertawa sebelum mati. Ini humor ironi dariku.
Sesungguhnya, aku menjadi pengedar karena temanku Heru, atau Komunis, terlihat
buruk karena heroin dan September di lubang buaya. Bagiku, komunis hanyalah
ideologi bonekanya Nam Poh Tang..,
juga Albert. Dan sungguh aku tidak bersalah, kecuali telah
membunuh dengan keji maka salahlah diriku mematikan orang. Tapi aku membunuh
lima orang untuk membela diri. Mengapa di lain waktu kakiku yang terkena luka
tembak? Sakit hatiku lebih sakit dari itu.
Aku salah dan mereka salah! Karena yang salah itu telah tidak
loyal dengan sistem. Ideologiku terjebak, adakah gagasan untuk sebutannya yang
tidak kuketahui? Aku bukan komunis? Aku hanya ingin temanku, Heru, tetap hidup!
Ceritanya, ketika kami akan pergi ke Vietnam, presiden Suharto
telah hampir lima tahun menjabat menjadi presiden dan aku akan menjadi
perwakilan wartawan di Vietnam. Aku bersama temanku, Heru, bersahut-sahut
cerita di pagi yang aku rindukan. Sebelum ditangkap di ladang dengan sebatang
rokok ditangan.
Yang berkesan, sebelum berangkat pada dunia kegelapan. Mengapa
Presiden Sukarno, mengundurkan diri, adakah ia bersalah?
Ha ha ha sungguh ironi! Apakah aku ingin menyelamatkan Iran Barat,
atau penasaran menjadi gila karena motif penembakan Jhon F. Kennedy membuat aku
sakit kepala. Beralur arus membayangkan tiga tahun kemudian Sukarno ditahan,
padahal perang di Vietnam belum berakhir.
Sedangkan KBRI Vietnam baru saja berdiri di tahun 1964. Bila kau
melihat peta dalam pikiranku, kalian tahu mengapa aku sakit kepala. Diriku
rindu di pagi hari ketika akan berangkat pada masa yang berlalu di tahun 1968,
atau setelah itu aku tiba di Vietnam, hingga perang berakhir, aku masih di sana
dengan Heru.
Aku ingat, aku baru saja turun dari trem atau kereta, yang telah
dihilangkan di Thamrin. Jalanan macet, sawah-sawah mulai dijual satu per satu
bahkan ayahku pindah ke Jawa Barat, demi tetap menjadi petani. Tiba-tiba aku
terbayang, mengapa aku tidak rindu pada keluargaku sebelum bunuh diri.
Mungkin aku tidak akan menyangka membayangkan akan mati seperti
ini, saat itu aku baru saja dipromosikan untuk menjadi wartawan tapi kerja di
KBRI, di luar negeri bersama seorang fotografer. Aku ingat ketika masuk kantor
editor, dia memberiku, teman bernama Heru, bahkan aku ingat pesan editor,
“Toni, kau akan di temani oleh Heru,” ucap editorku.
“Jangan
khawatir, kau akan mendapatkan gambar yang bagus walaupun ada bom.” ucap Heru.
Penyelam Kolektor Harta Laut
Di
tepi laut perahu pesiar sedang mendekati tepinya, seseorang dalam kabin perahu
sedang mengemudi kapal, navigasinya mendekati menara mercusuar. Sementara itu,
di atas menara mercusuar, di atasnya menara, ialah Toni yang sedang akan bunuh
diri namun ia ragu, walaupun di kepalanya sudah ada pistol. Keraguan Toni
akhirnya membuat ia berubah pikiran, senjatanya hendak
disingkirkan..,
kiranya apa yang membuat Toni berhenti menekan platuk pistol.
Namun, dari seberang ada kapal pesiar yang mendekati menara mercusuar,
mengamati Toni dengan teropong. Kemudian teropong milik senapan snipper itu
membidik kepala Toni dan menembaknya. Toni mati bukan karena bunuh diri Ia
sempat akan menggagalkan tindakkannya dan berniat untuk tetap hidup! Senjata
snipper milik siapa itu? Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?
“Hallo saya ingin bicara dengan Jendral Nam Poh Tang,” ucap
pembunuh Toni.
“Hallo
Jendral, saya telah ikuti kemauan Anda untuk membunuh Toni” sang pembunuh
Melapor.
“.....” dari balik telpon selular.
Sang pembunuh mendengarkan permintaanya Sang jendral “Baik, di tas
3278, kau ingin aku meletakan Jurnal di samping mayatnya,” ucap sang pembunuh.
Ia
pun menepikan perahunya, dan kemudian membuka koper dengan nomer 3278 untuk
dibuka. “Tidak heran pemberian tas senapan, di antara tas yang asing selain
tempat senapan itu isinya ialah hanya jurnal, untuk membunuh Toni.” Pembunuh
berpikir kiranya untuk apa, dan apakah isinya? Menggambil jurnal dan bergegas
pergi. Dari situ, sang pembunuh pergi loncat dari kapal dan pergi ke menara
mercusuar. Ia melakukan tugasnya dan pergi setelah meletakan buku jurnal di
samping tubuh Toni.
Sang pembunuh pergi dengan kapal pesiar dan dalam perjalanan ke
arah Australia, ia menghilang.
Di
awal tahun 2000 ada yang berpesta di atas kapal, Seseorang yang hobi menyelam..
Ia menyelam dengan alat metal penditeksi dan menemukan senapan. Baginya harta
walaupun dalam air laut itu bisa berupa apa saja. Benda itu adalah senapan
snipper milik sang pembunuh Toni.
Sementara,
di kantor polisi, kekhawatiran mereka tentang pembunuhan Toni baru terungkap
setelah mereka membandingkan peluru pistol milik Toni dan peluru yang ada di
kepala korban ialah peluru snipper dalam kepala
Toni.
Senjata itu menjadi pajangan dan pertanyaan bagi seorang penyelam
yang dipajang di dinding, sebagai ornamen barang penemuan seorang hobi
menyelam, harta-hartanya menjadi hiasan..,
kiranya
itulah koleksinya. Mulai dari apapun yang terditeksi dengan alat penditeksi
metal ketika menyelam ada di sana, dari yang hanya harta benda temuan berupa
tutup botol, koin logam, peluru meriam jaman pertempuran kolonial Belanda
dengan Inggris, hingga sekarang, sang penyelam memiliki senapan.
Cakra jatuh pingsan
Aku sedang bersandar di tembok, badanku baru saja menunggu respon
minuman energy drink yang baru saja kuminum.
Aku begadang semalaman, tidak tidur, mencoba menulis novel
karyaku. Pagi harinya aku telah merasa lesu, dan lelah. Celaka ini hari senin,
pikirku, aku seorang wartawan yang sedang mempelajari kriminologi yang rumit
demi menemukan benang merah penghubung dari tindakan pembunuhan Toni. Aku bukan
penyidik, namun aku mengungkap dan bertanya mengapa ada pembunuhan?
Apalagi bagaimana dalam berita bisa menuliskan sebuah pembunuhan
di katagorikan direncanakan.
Data
forensik anatomikah atau dari tempat kejadian perkarakah yang menjadi semua
titik awal luapan sebuah cerita bisa terbentuk untuk dipahami?
Saat ini nasibku sial, aku wartawan yang merasa tidak mengandalkan
rasa. Semoga dugaanku salah, aku mengincar berita yang mungkin sulit didapat.
Aku ingin pembaca melihatku seperti pahlawan pembela kebenaran.
Akan tetapi, setiap kali ada tindakan kriminal, bukan wartawan yang tahu duduk
perkaranya terlebih dahulu, melainkan penyidik.
Seandainya ada petunjuk pembunuhan berencana yang bisa kudapatkan.
Aku belum menyerah, yang mengagetkan di Klaten ada yang dibunuh dengan motif
penembakkan yang hampir sama. Sungguh aneh, adakah motif yang bisa kulihat
dengan jelas?
Diberitakan
nama korban Roy, dan dari data yang menerangkan bahwa mengapa ia dibunuh tidak
terungkap. Bahkan aku sekarang sedang berada di markas besar kepolisian,
terpaksa harus kembali ke jalanan macet
Jakarta.
Aku sedang berjalan, tiba-tiba tersungkur masuk ke semak-semak,
dan kemudian terjatuh pingsan. Karena tidak ada yang melihat dan menolongku,
waktu terasa begitu lama. Seakan-akan aku telah tidur berjam-jam.
Aku
terbangun teringat tadinya aku bersandar di tembok karena tidak kuat lagi
berdiri, namun ketika aku terbangun, aku mendengar suara perbincangan yang
menarik perhatianku. Tidak jadi soal siapa orangnya , namun aku tahu ia akan
melakukan sesuatu yang buruk. Orang itu berbicara di telpon, “Jangan mengacam!
Albert, kau ingin aku mendapatkan jurnalmu, di gudang yang besar, maka
jangan berpikir seenaknya,”
ucap sahut orang yang sedang bising kudengar berdialog
menambahkan, “jangan pikir kau bisa memerasku, dasar orang Vietnam gila,” ucap
orang itu. “Jangan ancam saya lagi, baik, saya akan cari di kategori korban
bunuh diri bernama Toni, terima kasih.” Bangun dari pingsan aku masih lelah
menguap, sepertinya tidak sengaja aku menguping pembicaraan orang ini.., sambil
tiduran di balik rumput!
Suara
orang itu sangat jelas dan yang menghalangi pandangan kami di antara satu sama
lain ialah tanaman, tanaman yang lebat menutupi, di sebuah taman dekat belakang
gedung bangunan yang bila tidak ada tanaman itu aku yakin ia pasti tidak akan
teriak-teriak di belakang gedung, bila tahu ada diriku.
Aku
mengintip, melihat orang yang telah melakukan pembicaraan di telpon tadi dengan
jelas. Kuikuti orang itu, tanpa sadar aku buntuti dia. Mengapa ia pergi ke arah
gedung gudang. Gedung gudang itu tempat bukti disimpan, dan penjagaannya sangat
ketat. Anehnya, orang itu dapat masuk dengan mudah. Aku menduga-duga siapakah
dia,
Bagaimana seorang bisa diancam..,
namun kini ketika diamati lagi, hal ini menjadi lebih menarik
membuat aku penasaran, apakah ia seorang polisi?
Bila ia ikuti permintaan si penelpon, apakah ancaman si penelpon,
dan bagaimana sebuah jurnal menjadi petunjuk menarik dari korban bunuh diri.
“Siapa Toni?” pikirku. Tak lama, kenalanku memanggil di pintu
penjagan gedung gudang.
“Cakra
sedang apa kau mengikuti anggota kepolisian, yang akan bertugas?” “Siapa dia,
wajahnya seperti saudaraku?” ucapku berpura-pura kenal dengan orang yang aku
ikuti “Sabar nanti dia juga keluar dan pergi menjaga tempat ini, sementara ia
sedang berganti baju sekarang” ucap Bima.
Berangkas arsip
Di tempat data file, polisi yang diikuti Cakra melihat arsip dalam
katagori bukti buku jurnal milik Toni. Ia tampaknya menemukan di mana letak
buku itu. Kemudian ia pergi ke buku jurnal itu terregistrasikan di nomer seri
bagian abjad nomer BF-12-478. Namun, buku milik Toni baru saja dikembalikan
oleh Mayor Lina. Spontan di letakkan kembali pada tempatnya, buku jurnal
peninggalan Toni, dan diambil oleh orang yang dibuntuti Cakra dengan gegabah.
Karena
Mayor Lina curiga, pada tindakan gegabah orang
itu maka, Mayor Lina berpura-pura pergi..,
seolah-olah tidak berminat memperhatikan orang yang diikuti Cakra.
Sementara, Cakra menduga-duga, Mayor Lina di dalam gudang
penyimpanan bersembunyi, dan menjaga jaraknya, kemudian yang menarik perhatian
Mayor Lina, dari divisi manakah orang ikut campur tugas misi divisi khususnya
ini.
“Halo
Albert, aku mendapatkan jurnal yang kau minta ambil,” ucap orang yang mencari
jurnal Toni tadi, “iya, saya akan segera keluar gedung dan memberikan ini
secepatnya kepada Anda.” Lina terkejut mendengar
perkataan tadi, “Pengkhianat, cepat tangkap!”
Orang yang kaget disebut pengkhianat itu lari tergesa- gesa,
walaupun dihalangi di depan pintu, sang pengkhianat dengan tergesa-gesa
mengeluarkan senjata api dan melakukan tindakan menyedihkan yaitu bunuh diri.
Tampaknya ia lebih rela mati ketimbang diperiksa oleh penyidik.
Cakra dan Mayor Lina di tempat kejadian perkara kaget dengan
tindakan bunuh diri yang begitu cepat itu.
“Astaga, Tuhan,” ucap Cakra terkejut, ia sebagai wartawan baru
pertama kali melihat kejadian bunuh diri di depan matanya.
Menghiraukan Cakra, Mayor Lina teringat permintaan Albert yang
memaksa korban bunuh diri itu untuk memberikan buku jurnal itu, dan akan
diberikan Albert di depan gedung oleh si korban. Mayor Lina dengan sigap
penjaga pintu masuk untuk menghubungi satgas kepolisian menutup pintu area
keluar masuk dari wilayah markas.
Tiba-tiba saja alarm berbunyi memberi tanda kode seperti kode
morse di antara gedung, tapi semua telah terlambat karena sampai besoknya tidak
ada tersangka Albert berhasil ditangkap.
Dalam
proses yang lama Cakra tidak diizinkan keluar dari mabes kepolisian karena
dicurigai telah bekerja dengan Albert. Kecurigaan Mayor Lina mempertanyakan
mengapa ada orang yang tidak berkepentingan dengan tugas polisi berada di
tempat itu. Isu Cakra nongkrong di tempat yang tidak seharusnya menjadi
kecurigaan untuk diproses oleh bagian penyelidikan.
Penyelidikan Cakra
“Kau punya pilihan untuk bekerja sama atau di penjara karena
menjadi terdakwa sebagai anteknya Albert yang menjual narkoba dan dianggap
sebagai teroris,” ucap Agus. Cakra hanya bisa bercerita apa adanya, kebetulan
ia tertimpa sial. Ia terpaksa bekerja sama dengan polisi dan mencoba aktif
kembali bertanya soal subjektif dari jurnal yang di telah gagal dicuri itu.
Cakra terkejut dituding sebagai anteknya Albert, padahal ia tidak merasa
melakukan pekerjaan lain kecuali menjadi wartawan.
“Maaf, mengapa Anda mengira saya sebagai anggota teroris. Saya
mengkuti pengkhianat itu sampai depan gedung. Saya ikuti karena merasa wajahnya
serupa dengan saudara saya yang sudah lama tidak bertemu?” ucap Cakra.
“Jadi kau benar-benar tidak kenal siapa Albert?” tanya Agus.
“Kejadian mengapa ia tergesa-gesa lari dan pergi dari Mayor Lina
tidak kuketahui,” ucap Cakra.
“Baik, sekarang tahun 2014 dan kau terjebak dalam penyelidikan
jangka panjang yang belum selesai perkaranya dari sejak statusnya berada di
tahun 2000, sebagai kasus, isu teroris ini masih dalam pengamatan, dan telah
memiliki tersangka yaitu Albert sebagai pimpinan oprasinya,” ucap Agus
menceritakan alur singkat yang ia pahami.
“Apakah
ini ada hubungannya dengan kasus bom, di
Indonesia?” tanya Cakra.
“Ceritanya panjang, bila terkait bom kami belum bisa
mengkaitkannya, dan perkara ini terkuak karena seorang bandar narkoba menyesal
dengan telah berkomentar cerita dalam bentuk buku jurnal, seperti seolah-olah
berupaya terakhir, ia mencoba bersikeras ingin, mendaulatkan diri tapi gagal,
ia bercerita kisah hidupnya yang menyedihkan namun akhirnya ia bunuh diri
karena,” Agus kembali menjelaskan.
“Mendaulatkan diri?” tanya Cakra, bingung tidak
memahami penjelasan yang tidak umum.
Mereka menyalakan proyektor, dan lampu mulai
dimatikan.. Agus memulai presentasinya, menjalankan klip-klip gambaran, agar berharap
Cakra bisa mengikuti cerita ancaman apa yang ada pada pertahanan Negara.
“Drugs
traffic di pahami sebagai tindak korupsi yang memberi modal kepada teroris.
Kami dari tingkatan visioner seorang jenderal sedang memahami kriminologi yang
sedang berlangsung sejak pertama kali narkoba datang berawal di Negara
Indonesia yang masih belum sigap, kiranya kami berkomentar karena kami sebagai
aparat pertahanan, dan sebagai wilayah Negara Indonesia masih menjadi negara
yang berumur muda. Isu pengalaman dalam pertahanan Negara masih belum
terkonseptualisasikan untuk evaluasinya, bila ingin
dikaitkan satu sama lain.”
“Isu kasus divisi kami sebenarnya rahasia dan, terkondisi gabungan
dari semua TNI, yang dipilih,” kemudian Agus menambahkan,“orang yang bernama
Toni, ialah baru permulaan dari evalusasi yang ingin dibayang-bayangi.
Orang yang bernama Toni mencoba menjelaskan kriminologi dari
teroris namun karena rumit ia terpaksa menelan fakta berlebihan dan stress. Ia
menjelaskan bahwa narkoba memberi peluang untuk teroris untuk melakukan
operasi,” ucap Agus pada Cakra
“Bisakah aku mempelajari jurnal itu? kemudian Agus melanjutkan,
Sabar, kami belum selesai menjelaskan.” Agus memutar klip selanjutnya,
menampilkan foto Heru. Ia mencoba menceritakan latar belakangnya kepada Cakra.
“Sekarang Heru adalah tersangka, dan pernah menjadi teman wartawan Toni ketika
belum menjadi tersangka sebagai penjual narkoba. Isu drugs traffic dalam status
kami.”
“Tunggu,
aku kelebihan informasi, bisakah kita beristirahat sebentar sebelum proyeksi
ini kembali dilanjutkan,” ucap sahut Cakra yang pusing dan merasa kecapekan
menelan informasi ketika diajak bekerjasama.
Diskotik
“Nama saya Agus, bolehkah
saya berkenalan dengan
Anda?” ucapnya kepada seorang wanita di bar.
“Tentu, nama saya Fiona, kau mau membelikan aku minuman?”
“Tentu.”
Itu ialah bar di mana Jasmine berada dan menyela permisi wanita
itu. Agus yang kenalan itu membelikan, Fiona minuman, “Jasmine, minta tequila
sepasang untuk kami, oh iya kau melihat Cakra tidak?”.
“Tidak,
Pak Polisi,” ucap Jasmine penuh canda. Tanpa sengaja Fiona mendengarnya, “Kau
polisi? Kebetulan, aku punya pertanyaan penting untukmu. Aku seorang penyelam,
dan aku menemukan senjata api dalam dasar laut di dekat sebuah menara mercusuar
di daerah pantai Anyar, Banten, lebih hampir sepuluh tahun yang lalu bila tidak
salah ketika tahun baru. Ketika itu, aku menduga benda itu masih baru?”
“Mercusuar
di pantai Anyar?” tanya Agus.
“Iya.”
“Maukah kau membantuku untuk melihatnya?” Agus meminta. Kemudian
mereka pergi dari tempat itu ke apartemen Fiona, di Kedoya, Jakarta Barat.
Mereka
pergi naik mobil Fiona, dan ia banyak bercerita tentang benda yang ia temukan
ketika menyelam. Malam itu Mereka pergi ke ruangan koleksi Fiona, dan uniknya,
Agus hanya mengkhawatirkan pernahkah ia menyentuhnya dengan tangannya atau
membersihkan senapan itu.
Senapan
itu dibiarkan berdebu, dan hanya satu-satunya koleksi yang tidak dibersihkan.
“Apakah kau menyentuhnya?”
“Tentu tidak! Aku sengaja membiarkannya kering sendiri sejak
kutemukan, saat menyelam di laut.” Fiona menjelaskan.
“Mengapa tidak kau serahkan ke polisi saja waktu
menemukannya sepuluh tahun yang lalu?”
“Tahukah
kau susahnya menemukan harta benda di dalam laut, dan sungguh aku berat hati
untuk meninggalkannya,”
ucap fiona..,
yang menduga pasti akan rindu pada harta miliknya, menduga akan
diambil Agus. “Aku tahu kita tidak berhak memilikinya.”
“Benar, apakah hanya itu yang kau temukan?” tanya Agus memastikan.
“Tidak hanya itu, aku menemukannya dari dalam tas dan masih ada
pelurunya.” “Baik, aku pinjam untuk sementara waktu. Kebetulan aku terkait
dalam kasus ini. Sementara waktu.., kau ikut denganku untuk membantu membuat
laporan.”
“Apakah itu pembunuhan?” “Apa?” tanya Agus.
“Kasus yang yang tengah kau tangani.”
“Mengapa
kau berpikir begitu?” “Aku hanya menduga karena senapan itu kulihat di internet
dan hanya digunakan oleh kalangan militer dan bentuknya seperti yang di
film-film
perangnya Amerika.”
“Aku
tidak tahu jenis ini, tapi akan aku cek.”
Labotorium Polisi
Komputer masuk akses internasional, mencari data sidik jari para
kriminal, untuk mereview sidik jari dengan tampilan wajah seseorang yang cocok.
Program komputer khusus digunakan untuk bisa masuk akses itu, dan data base
lokal tidak menemukannya.
Sudah
dua bulan, lima puluh persen anggota masyarakat dari jumlah penduduk Indonesia
telah diakses oleh program itu. Namun, tidak ada yang cocok, dan artinya akan
memakan waktu dua bulan.., kurang lebih, untuk mengakhiri data
nasional.
“Apakah ada sidik jarinya ditemukan?”
“Ada,
tetapi kami luput memeriksanya. Pasti disengaja oleh pembunuhnya, seolah-olah
seperti milik Toni.”
“Apa itu?”
“Air
ludah yang meninggalkan tanda, dan itu membuat satu di antara lembaran lengket
menempel seperti merekat, namun Tes DNA, tidak sesuai dengan DNA Toni.”
Kemudian Agus kembali..,
menambahkan
“dan walaupun ada aksesnya, kita belum memiliki fasilitas review untuk Dna
check program dalam fasilitas lab komputer!”
“Jadi
petujuk kita hanya, sidik jari?” tanya Cakra.
“Benar.”
“Siapa bilang, kau Agus!?” humor seseorang masuk dalam ruangan,
“aku baru saja menunggu mereka selesai menginstalasi kebutuhan lab kita dengan
program yang baru,” ucap seseorang yang masuk di dalam lab komputer tidak
dikenalnya.
“Siapa kau?” ucap Agus heran karena tiba-tiba ada orang asing yang
masuk ke dalam ruangan.
“Aku
mayor dalam misi kalian yang baru? Mayor Lina
mendapat rekomendasi untuk pindah divisi agar
mempersiapkan level yang selanjutnya?”
“Konseptualisasi level selanjutnya apa?” tanya Agus lebih
penasaran lagi dari.
“Bukan
bunuh diri, ini pembunuhan, dan namaku Teguh, mayor Teguh.”
“Kita
telah menahan Joko, percuma, dia amatir untuk menjadi tersangka. Aku menduga
Sang Jenderal dari
Vietnam itu masih hidup!”
“Teroris
kita masih hidup?” Agus sulit percaya. “Bahkan dugaanku Albert, juga sedang
diincar untuk dibunuh.”
“Siapakah pembunuhnya?” tanya Agus.
“Kita tunggu review dari program penyocokkan data. Dugaku
pembunuhnya orang Amerika yang bergabung dengan Jenderal Nam. Aku menduga buku
jurnal itu hanya untuk menutupi bahwa ia telah diceritakan dihukum mati.” Harun
dengan humornya mengironikan fakta yang berbalik merasa didengar aneh Agus
selama bertahun-tahun.
“Apa motifnya?” tanya Agus dijawab Harun, “Uang sang Jenderal yang
dicuri, aku menduga jenderal itu mengkhianati bangsanya. Mengapa Albert juga
tidak bersembunyi, mengikuti jejak ayah angkatnya, yaitu berkhianat.” Harun
menambahkan dugaannya.
“Albert
menjual heroin untuk bersenang-senang saja, tetapi Toni masih mengira Albert
masih setia pada sang
Jenderal.”
Roy Yang jatuh cinta
Humor
sebuah pertanyaan apakah cinta itu. Aku mengenal cinta sejak remaja, dan
sebagai laki-laki, cinta ialah membuka hatinya untuk kekasihnya. Kiranya aku
tidak sekadar berpendapat tapi benar-benar ingin setia. Pacarku setia, namun ia
lebih setia kepada temannya.
Mengapa ia lebih setia kepada temannya, kuduga mungkin ia lebih
dekat kepada teman-temannya karena hubungan jarak jauh yang telah berlangsung.
Bila seseorang setia padaku apapun akan kuberikan padanya, namun
ketika segala-galanya tidak cukup baginya, ia memutuskan aku. Adakah cerita di
balik semua ini, tentu saja ada, ironi keberuntungan, karena aku pernah
mendapatkan dirinya, dan kuduga aku akan menikahinya, tetapi itu tidak terjadi!
Aku kenal dengan Siska sejak datang ke Jakarta, waktu SMP dulu.
Kami berdua sangat jujur dengan perasaan kami. Kami sering berpelukan dan
ciuman depan umum.
Ironinya, suami istri seharusnya seperti pasangan yang bisa
menjaga romantisme. Romantisme hanya bayangan seumur waktu bertahan terbatas
bayangan kami, dari keinginan untuk berhubungan.
Pernah kuyakini, Siska adalah belahan jiwaku, dan sebaliknya. Bila
raga kami dekat, datang keberuntungan. Namun, kami membatasi diri untuk
melakukan hubungan suami istri. Bagi kami, waktunya tiba setelah nikah kelak.
Aku menunggu hubungan suami istri yang istimewa, bahkan walaupun
menahan nafsu aku melakukan dengan senang hati karena dia ialah bidadariku.
Bagiku
tidak ada yang harus merasa tidak beruntung, karena diriku benar-benar sedang
jatuh cinta di awal masa remaja. Bahkan aku berniat akan buktikan perkataan
mereka bawa pacaran kami bukan cinta monyet.
Aku sangat keras kepala pada pendapat orang lain yang berpikir
buruk pada hubungan kami, aku namun usahaku tidak dihargai.
Sewaktu aku harus tinggal di luar negeri kendala itu bermula. Aku
tinggal di kota Birsbane, Australia. Setiap tahun aku pulang. Kami berpelukan
hingga berjam-jam saling mencium aroma harum tubuh di antara kami.
Kami
sedang tidak bercinta kami sedang merindu, membuang rasa kangen dengan
kerinduan, aku berulangulang mengatakan aku mencintaimu, dan dia bilang bahwa
dia mencintaiku juga.
Rindu
ialah rasa cinta yang paling perkasa., Tapi ternyata dugaanku salah. Dia yang
telah terpengaruh oleh teman-temannya.
Demi membela teman
Aku dan Siska belum menikah, ironinya ialah ketika ia membela
temannya untuk datang ke undangan temannya. Sungguh kerinduan dianggap kerdil
oleh dirinya. Anggapan bahwa Siska..,
saat membela temannya ia lebih yakin pada rindu seorang teman dari
pada rindu kepada seorang kekasih yaitu aku.
Saat itu kami sedang tidak beruntung, aku sedang kehilangan
kendali juga habis kesabaran melarang Siska pergi, dan kami putus karena ia
ingin datang ke pesta ulang tahun temannya.
Mereka
akan merayakan ulang tahun teman wanitanya di tempat clubing. Demi pesta malam
itu, Siska memilih putus. Sedangkan setelah putus, merasa bingung,
mungkinkah aku yang salah.., dan ia tetap memojokkanku. Ia
mengatakan tidak..,
mau kembali berhubungan denganku, bahkan rencana kami berdua untuk
menikah gagal sudah.
Ironi, terkadang aku merasa tidak beruntung, namun sial bila rasa
rinduku di disia-siakan. Dan sejak itu aku memusuhi mereka semua.
Bahkan aku hancurkan hidupku, menyia-yiakan pesawat terbang untuk
kembali ke Australia. Aku hanya melihat tiket pesawat tidak berguna itu dan
memutuskan hidupku harus harus berubah. Tetapi tetap saja aku menyia-yiakan
semua rencana hidupku dan terkurung perasaan putus cinta.
Mengapa di antara kami ada yang memandang kerdil rasa rindu? Tapi
dia Siska, yang telah lebih berani memutuskan hubungan cinta. Adakah yang tidak
kuketahui dari selama berpacaran jarak jauh?
Aku tidak percaya ia lebih membela teman- temannya untuk
menyia-yiakan hubungan kami. Mungkinkah ia memakai ekstasi, sabu-sabu, atau
telah berpacaran dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuanku?
Aku
kenal toni dari ester
Aku sangat benci tempat disko atau clubbing itu, adakah yang tidak
kuketahui tentang tempat hiburan malam seperti itu. Katanya dunia malam ialah
tempat hiburan dengan ekstasi dan sabu-sabu. Sungguh aku sedang jijik pada
gambaran hiburan dunia malam.
Orang tuaku terkejut aku tidak jadi pergi ke Australia, dan aku
mengurung diri di kamar. Karena kejadian itu, aku sering bertengkar dengan
orangtuaku dan membela perasaan yang sedang rapuh, hingga aku mulai berani
merokok.
Aku harus merubah takdirku, aku harus mendapatkan cintaku kembali,
tapi beruntungkah aku?
Aku dikenalkan teman dekatku dengan wanita bernama Ester dan ia
seorang pramugari. Ia selalu tidur di sebuah hotel mewah dengan mendapat
komplemen dari tempat ia bekerja. Ia selalu membawa hal-hal yang pernah
kubayangkan tentang dunia malam.
Ketukan pintu, didengar Ester dan aku sedang di luar kamar
menunggu di bukakan pintu. Kami bertemu, berciuman sebentar dan akan pergi
malam itu ke tempat hiburan malam.
Saat pertama kali aku mencoba ekstasi, akhirnya aku tahu, dunia
telah berubah, dan aku menduga setelah setahun mengurung diri di kamar, bahwa
lingkungan ialah ekosistem drug traffic yang ramai dengan narkoba.
Hidupku benar-benar berubah. untuk sesaat suka Namun, rasanya
badanku menolak benda jahanam itu untuk alasan aku menjadi seratus kali lipat
membayangkan bayangan-bayangan buruk bila memakai narkoba, mengapa?
Bel
pintu hotel kembali berbunyi dan Ester memakai bajunya sedangkan aku diam di
dalam kasur, “Roy, sebentar aku mau membukakan pintu untuk Toni, ia datang
kemari mengantarkan pesananku, malam ini aku mencoba
hal
yang sedikit berbeda.”
“Apa itu?” ucap sahutku
“Sabar
Roy, aku tahu kau akan suka dengan yang ini,” ucap sahut Ester.
“Toni,”
sahut Ester menyapa orang di balik pintu.
“Bolehkah aku masuk untuk transaksi!” ucap Toni.
Seorang yang jangkung dan kurus dengan jenggut memenuhi muka dan
gondrong dengan rambut beruban diikat. Ia ke tempat duduk, dan berkata, “Aku
ada di seberang ruangan dari kamar ini, kita beruntung satu lantai, aku juga
menginap di sini pada pesta malam baru
ini.”
“Ini pesananmu,” Toni mengeluarkan paket bungkusan. Ia berkata
sedang, “Aku siapkan,” ia mengeluarkan dari tas koper bungkusan itu.
“Oke
ini barangnya, mana uangnya!” ucap orang yang bernama Toni itu.
Toni pergi ke pintu keluar dan dari kamar hotel kami. “Selamat
tahun baru. Aku bertanya penasaran, “Ester, kau membeli apa?”
“Putau!”
Dari nama obat yang asing itu, aku mengerti kalau itu adalah heroin. Ketika
memakainya, rasanya itu seperti pintu gerbang dari dunia mimpi yang dipertegas,
aku mabuk hingga pergi tertidur.
Paginya aku terbangun dan telah kulihat, Ester pun telah siap-siap
akan berangkat ke luar negeri. Aku tanyakan bila ia Toni punya nomer peger,
karena aku berminat membeli barang lagi padanya. “Ini nomer pegernya Toni, kita
telah mencoba heroin dan, tetapi aku kurang suka dengan rasanya, aku pamit akan
pergi lagi,” ucap Ester sambil menciumku dan pergi dari kamar hotel.
Beruntungkah
aku mendapatkan pacar yang tidak terlalu komit dengan hubungan, dan kami hanya
melakukannya untuk bersenang-senang saja tanpa rasa rindu.
Bandar Mahasiswa
Aku
kuliah di sebuah fakultas, dan mengambil jurusan Fakultas Desain Interior. Aku
sering tidak masuk karena kudengar, zaman sebentar lagi akan berubah. Metode
perkuliahan dengan apa-apa yang diajarkan akan usang. Aku datang kuliah
terlambat karena polisi melihat plat nomer mobilku yang sudah kadarluarsa di
bulan Januari di tahun 1993.
Bagiku
terlambat kuliah tidak jadi masalah, toh sebentar lagi aku membayangkan akan
tidak lulus karena, ingin pindah fakultas masuk Institut Teknologi saja. Dunia
telah berubah dengan adanya komputer, dan aku berminat untuk pindah kuliah.
Tahun ini aku, akan membeli komputer untuk mempelajari program
sistem operasi komputer..,
dan aku
sedang akan melihat-lihat keberuntunganku dengan mengingat Toni, yang kemarin
di malam tahun baru, datang masuk ke dalam kamar mengantarkan pesanan heroin.
Ia
memiliki pager, alat komunikasi untuk dihubungi. Kemudian aku menghubunginya.
Kemudian kami pun bertemu di sebuah gedung di Jakarta, yaitu Ratu Plaza. Aku
berkeliling melihat-lihat Mall sambil bicara dengan bandar heroin itu. Aku
penasaran dengan Toni, “Dari
mana kau dapatkan putau ini?”
“Kau tidak mau membayangkan bagaimana aku mendapatkan obat ini,
percayalah lebih baik kau membatasi pertanyaanmu.!”
“Hey aku hanya ingin bertanya, aku juga ingin punya banyak uang
sepertimu . Memiliki pager adalah hal yang aku inginkan.”
“Untuk apa kau ingin memiliki pager?” Toni bertanya padaku.
“Selintas aku berpikir menjadi bandar seperti dirimu, tetapi
bisakah kau membantuku!” ucap meminta Toni.
“Ayo ikut aku, bila kau bersikeras.” “Roy, dengarkan baik-baik,
belum terlambat jika kau berubah pikiran untuk tidak menggunakan ini.”
Aku dibawa ke sebuah rumah di kawasan Tanah Abang. Di sana ada
orang yang sangat pendiam, bahkan ia menatapku tajam.
Bahkan Toni sepertinya takut kepadanya, siapakah dia bahkan dengan
bahasa yang asing, mereka berdua sedang berdebat dengan nada bertengkar,
percakapan berhenti ketika orang yang tidak kukenal itu mendorong Toni, dan
Toni tidak melawannya.
Orang itu pergi ke kamar dan mengambilkan aku sesuatu yang
beratnya satu kilo, barang itu diberikan lewat Toni dan ia berpesan, jangan
bawa-bawa kami bila tertangkap polisi, kau harus merahasiakan kami. “Cepat
pergi!” ucap Toni, kemudian orang yang berdebat dengan bahasa asing, itu
ternyata bisa berbahasa Indonesia. “Hey, Roy!” ucapnya dengan dialek orang
asing, “bila kau gagal..,
benda ini akan mengakhiri hidupmu. Aku terkejut telah membuat
keputusan yang salah demi ingin mendapatkan komputer. Ini benar- benar
membuatku terkejut. Aku pergi dengan membawa paket satu kilo heroin itu, dan
selintas mengapa tidak kulaporkan polisi saja barang terlarang itu, tetapi
cerita terlanjur menjadi kacau dan membingungkan, karena aku terlanjur membeli
satu gram juga hari ini, di Ratu Plaza, aku kawatir tidak bisa berpura-pura
ketika melapor.
Aku membayangkan betapa sombongnya diriku ketika membeli satu
gram, dan menantang Toni untuk memberi kepercayaan padaku untuk menjadi bandar
yang seperti kuinginkan.
Tidak
menduga ada orang ketiga selain Toni. Aku takut, dan berencana akan menjual
murah barang itu kepada teman-teman kuliahku.
Menjual satu kilo heroin bukanlah perkara mudah.
Terjebak diperhatikan orang lain
Heroin
satu kilo belum kujual, bahkan aku bingung mencari pembelinya. Selama satu
tahun aku bungkam di hadapan Ester, bagaimana aku menjadi bandar ialah perkara
yang tidak mudah, namun ketika pesta tahun baru
1994, mereka mulai terlihat satu per satu..,
pasien dari bagaimana obat ini membuat kecanduan. Satu gram yang
kubeli di tahun lalu dari Toni, dengan gratis aku memakai bersama-sama orang
baru yang kukenalkan di suatu tempat. Namun, rasa penasaran mengapa aku
bermurah hati menjadi pertanyaan mereka para pecandu.
Akan
tetapi, dari situ dimulailah kesenangan waktu ketika semua berawal dari
transaksi dan persediaan satu kilo habis berakhir satu bulan di bulan Febuari,
dan aku memiliki banyak uang, tapi kuputuskan untuk tidak menjadi andar setelah
tahu siapa saja mereka para pembelinya. Tapi Ironi keberuntungan dimulai dengan
kesialan, suatu malam aku bertemu Toni dan kami berbincang-bincang.
“Bagaimana rasanya menjadi seorang pengedar, apakah perkara
mudah?” ucap sahut Toni berkunjung datang memergoki aku dan Ester di kamar
hotel.
“Aku ingin tahu, investasi kami padamu telah berjalan lancar atau
kau habis memakainya semua!” tanya Toni kepadaku yang kebetulan didengar Ester.
“Sungguh ada apakah ini karena aku merasa seperti ketinggalan berita,
membayangkan kalian bertemu dan berdebat, hingga tidak bisa mengikuti kalian
sedang bercakap-cakap apa?” ucap Ester yang bingung pada kedatangan Toni.. Aku
beruntung Ester tidak tahu mengenai aku mendapatkan satu kilo heroin gratis
sebagai modal awal yang mungkin akan membuatnya terkejut.
Bel kamar berbunyi, dan orang asing yang dulu bertemu di Tanah
Abang itu dengan pistolnya mengancam, masuk datang ke kamar kami, dengan ia
duduk di kursi yang telah tersedia, dengan membawa dua kilo heroin, ia
berkata..,
“Cepat setor uangmu untuk mendapat dua kali lipat heroin gratis,
beruntung ini modal yang akan kuberikan padamu cuma-cuma, Roy. “Punyakah aku
pilihan!” “Mau mati atau tetap melayani kami, mana yang kau pilih?” ucap orang
dengan dialek bahasa Indonesia yang tidak umum itu. Ester terkejut sejak orang
asing itu tiba, dan menujukan dua kilo heroin. Ia memperhatikan kami.., yang
sedang berbincang-bincang.
“Cepat kesabaranku habis, kau tidak ingin aku bermain-main dengan
pacarmu, kan?” ucap orang itu masih belum memperkenalkan diri, mengancam.
“Baik
akan kudatangi rumahmu Toni, besok, di Tanah Abang dengan uangmu.” Aku sudah
terjebak untuk menjadi penadah. Dengan motif yang sulit bagiku untuk
membayangkan lepas dari belenggunya.
Patah Hatimu Roy
Bagaimana
aku bisa beruntung, lari setelah ini? Toni dan temannya pergi dari kamar hotel
ini, dan aku lemas karena jatungku..,
berdebar-debar
mengingat ancamannya. “Sial,” aku memulai harus tenang, membayangkan dengan
cara bagaimana aku menghilangkan diri, kalau pun beruntung aku kabur dengan
uang mereka, kiranya aku membayangkan mereka tahu di mana rumahku atau latar
belakang Ester, dan aku tidak mau membayangkan bila yang menjadi korbannya
adalah Ester.
Ester terdiam, merasa sial menimpanya karena telah mengenal
diriku. Ester terpaku sedih, duduk di tempat tidur, dengan aku menceritakan
semuanya. Ia terkejut. Secara perlahan-lahan aku bercerita alasan mengapa aku
butuh uang, minat kerdilku ingin menjual putau..,
menjadi kadarluwarsa keberuntungan kami sesaat itu, bahkan aku
cerita, aku sedang merasa galau sebab putus cinta dengan Siska, membuat Ester
menjadi lebih sedih, merasa dimanfaatkan oleh pecudang seperti diriku.
Kemudian..,
Ester-lah yang menghilang dari hadapanku. Pasti karena Ester
takut. Aku sendiri menjadi pengedar yang tidak kuduga menjadi kepercayaannya
Toni, terbayang jelas sekarang nasibnya, walaupun bukan dari awal, dalam dua
bulan barang yang kujual ialah dua kilo heroin dengan sulitnya, dan mereka
korban pembelinya ialah mahasiswa. Dari dua kilo aku melihat dari waktu ke
waktu pengguna putau bertambah semakin banyak bahkan untuk menjual lima kilo
habis dalam dua bulan ialah rekor yang menggagumkan. Aku hanya pernah mencoba
putau. Toni sedikit kagum padaku karena dia seorang pengedar yang lebih suka
memakai barangnya.
Sudah tiga tahun berlalu aku menjadi pendamping Toni dari awal
sejak tahun 1996, dan sekarang kuketahui waktu tahun baru ialah saat yang
menyenangkan untuk membantu menjual titipan modal dengan cepat karena mereka
para pecandu baru akan berpesta di malam tahun baru, kiranya pesta mereka
berpesta, aku datang ke sebuah kamar. Aku kaget ada pengguna yang masih anak
SMP.
“Hai,
siapa namamu!” tanyaku.
“Saya Bayu.”
“Kau terlalu muda, aku meragukan pesta ini bukan untuk pesta
anak-anak remaja yang telah dewasa, kecuali kau memiliki uang.”
Mereka sedang berpesta di kamar hotel. “Aku akan pergi dari kamar
ini dan benarkah kau datang menjadi tuan rumah pesta untuk perayaan pesta tahun
baru?” Bayu bertanya kepadaku dan Bayu akan bersiap-siap akan pergi dari
kamarnya sendiri. “Apa maksudmu Bayu, dengan aku menjadi tuan rumah pesta?”
tanyaku penasaran ingin mendengar anak remaja yang masih kecil itu berkomentar.
“Kata mereka kau akan membuka, pesta dengan lima gram putau gratis, di luar itu
bolehkah aku memintanya gratis juga?” ucap Bayu ingin mendapat bagian lebih.
“Aku tidak akan memberi gratis, walaupun kau anak kecil, aku
penasaran berapa lama kau telah kecanduan?”
“Aku
sudah seminggu memakainya dan aku menyukai rasanya. Aku tidak akan kecanduan
karena aku bisa mengkontrol cara memakainya.” ucap Bayu. Bagaimana
akan ada sekian banyak bandar, di antara mereka
bertambah karena mereka telah terjebak..,
bagaimana bisa lebih beruntung dari aku melihat Toni yang harus
menjadi bandar juga.
Sampai
sekarang aku beruntung belum memakainya kembali. Namun aku bingung dengan nasib
menjadi pengedar. Aku mungkin penasaran pada siapa yang lebih berkuasa, Toni
atau orang yang belum kuketahui namanya itu. Aku bertanya bagaimana dengan
mudahnya mereka memasukkan heroin masuk Indonesia..,
sementara kecurigaan mereka orang lain, pada kriminal tersangka,
dari orang, orang kulit hitam dari benua Afrika. Sangat tidak masuk akal
bagiku, bila melihat bagaimana dalam sebulan aku bisa menjual satu kilo dengan
mudah. Orang dari benua Afrika yang tidak beruntung, mereka membawanya dengan
hal yang tidak bisa kubayangkan..,
namun bila tertangkap dalam pemberitaan mereka hanya membawa
kurang dari seratus kilo. Tapi Bagaimana bisa Toni dan rekannya, seperti
kubayangkan, punya seribu kilo bahkan lebih.
Tahun ini aku sudah mendapat langganan yang sering kali
mempermudah tugasku menjual obat terlarang..,
dengan
tetap sembunyi sambil merasa disertai membayangkan terancam akan masuk penjara.
Tetapi mereka sering membeli satu hingga lima gram, dan membuat satu kilo
kupikir ialah jumlah yang sedikit di antara puluhan kilo yang telah dijual
olehku. Terbayang untuk kota Jakarta yang luas dan telah memiliki banyak
pembeli, menjual ialah perkara mudah dan bila beruntung, aku tidak akan
tertangkap.
Aku berencana pergi melarikan diri, dan untuk melarikan diri dari
semua ancaman, aku ingin benar-benar beruntung, karena aku benar-benar ingin
mengubah hidupku dan berniat pergi ke luar kota. Aku akan melarikan diri ke
luar dari semua permasalahan. Rasa bersalahku sangat tinggi bahkan aku pergi ke
Jogja untuk mengubah nasibku, tapi rupanya takdir telah menemukanku di
Klaten..,
dan
apakah aku akan bahagia dan makmur? Seandainya aku bisa berdamai dengan diri
sendiri untuk melupakan segala kejadian buruk yang bermula dari patah hatiku.
Rekomendasi Lencana Agus
Aku
baru saja lulus menjadi polisi, dan aku ditempatkan di sebuah divisi percobaan
yang sedang dibangun rahasia dari gabungan semua unit element TNI. Membayangkan
dari mana datangnya rekomendasi tapi aku harapan dari para panglima besar
jenderal. Bagaimana sesaat aku membayangkan beruntung untuk sebuah rekomendasi,
aku
mendapatkan suatu kehormatan
dari harapan mereka,
karena sebagai..,
polisi aku juga mendapatkan kesempatan untuk kuliah sambil bertugas.
Divisi baru satuan khusus untuk tujuan badan penyeledikan
intelegen, aku berkesempatan pergi menjadi seorang penyamar. Aku berpura-pura
berteman dengan mahasiswa di sebuah fakultas, yang kebetulan ayahnya memiliki
show room mobil. Berpura-pura pergi mengikuti dugaan, aku berteman dan
mengikuti anak pemilik show room mobil itu.
Temanku
itu ternyata juga seorang atlet mobil balap. Demi mendapatkan petunjuk, aku
dengan hati-hati mulai menyelidiki tingkah laku rekan-rekan atau masyarakat
dari pesta mabuk-mabukan kawanan mobil pembalap liar yang berteman dengan
temanku itu. Aku curiga dia juga terseret menjadi terdakwa. Aku akan berteman
dengan Ian Perdana atau Ian, dengan mengunakan brand mobil mewah Subaru yang
telah dimodifikasi masuk kualifikasi balapan di arena, tidak sulit untuk aku
berteman sambil memperhatikan gelagatnya.
Aku diantarkan teman polisi ketika pertama kali bertugas. Di
Sentul, Jakarta, aku berakrab diri memperkenalkan minatku juga akan membuat
mobil balap dengan menjadi rekannya dalam festival mengejar piala tropy. Aku
meminta Ian untuk memodifikasi mobilku dengan tim sukses mekanismenya mesin
mobilnya. Ian mengaku untuk mendapatkan izin turun balapan itu tidak mudah.
Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin mencoba-coba lebih senang balapan di
jalanan.
Kukira Ian seorang pengedar atau pemakai, namun ia bersih dan
sehat, walaupun ia pergi berpesta namun tidak menggunakan jenis narkotik
apapun.
Dalam
penyelidikan, aku mencari tahu tentang pengedar ataupun pihak yang terkait.
Diharapkan aku dapat menangkap para penadah atau pengedar. Aku sedang
ditugaskan mencari pengedar yang sempat menjadi isu heboh ketika pertama kali
para pecandu bermunculan di awal tahun sembilan puluhan.
Agar sukses dalam penyamaran, aku harus mulai membeli ganja. Di
antara kasus kami, mendapatkan penjualan di kota Jakarta mulai dari daerah
Tebet, Gajah Mada, Batu Raja, Kampung Bali, Kota Bambu, dan masih banyak lagi,
namun belum sampai ke penadah tunggalnya, yaitu Albert.
Penyelidikan membutuhkan proses bertahun-tahun. Aku yang termasuk
misi Mayor Lina, hampir putus asa untuk mendapatkan penadah tunggalnya.
Lama berselang, kami menduga korban bunuh diri bernama Toni dengan
sebuah jurnal telah berteman dan mendaftar rekan-rekan penjual dengan alamat
tidak diketahui. Toni banyak bercerita tentang kejadian saat ia menjadi penadah
tunggal, namun ia terlanjur mati.
Sedangkan buruan dalam daftar bernama Albert atau Heru hadir dalam
papan daftar tersangka.
Kami menduga Albert ialah tersangka sebagai yang
menyuplai semua heroin namun, hanya ada foto yang dicurigai sebagai teman dekat
Toni, yaitu Heru. Aku pergi mencari petunjuk dari jurnal korban bunuh diri yang
bernama Toni. Aku mengincar sampai ke Jogja dari daftar bandar yang ada, dan menemukan
nama Roy. Setelah penyelidikan dari Jogja aku ke Klaten, sebuah daerah di
antara Jogja dan Solo. Dan ketika akhirnya datang ke sebuah show room motor
milik pengusaha baru yang namanya juga Roy. Surat penggeledahan atau penggrebekkan kami bawa dan menanyakan banyak hal terkait pentujuk yang didapat
dari Toni. Kami melakukan interogasi dan memang benar dia adalah Roy yang
kucari.
Menyelidiki Albert
Bagaimana harus memulai kecuali foto dirinya, foto gambar Roy, ada
bersama jurnal Toni. Dalam ruang interogasi, aku bercerita Toni telah mati
bunuh diri dengan meninggalkan bukti foto dirinya. Roy terkejut mendengar
berita Toni bunuh diri.
“Ini
gambar dirimu, apakah kau masih menjual narkoba?” “Aku memang pernah terpaksa
menjual, namun sekarang aku bersih dari perbuatan terkutuk yang memaksaku
melarikan diri ke daerah Klaten.” Kemudian Roy ditangkap, namun masih sulit
untuk membuktikan bahwa ia seorang pengedar.
Aku
kembali ke Jakarta dengan terkejut, dua minggu kemudian ada berita bahwa Roy
telah dibunuh bahkan aku mulai khawatir membayangkan bila ini akan menjadi
serial pembunuhan terencana. Karena kuduga di antara tersangkanya masih
berhubungan dengan Albert.
Ini bisa kuduga sebagai pembunuhan berencana, dan listing daftar
para bandar narkoba ada di tanganku, tapi sialnya kebetulan hanya Roy yang di
awasi oleh Toni, dan diceritakan di Jurnal.
Kami berupaya sebisa mungkin menghubungi kantor imigrasi bila saja
ada yang bernama Heru untuk diinterogasi. Membayangkan menghentikan bayangan
buruk menduga..,
pembunuhan
serial berkelanjutan akan terjadi lagi, dan kami sedang dalam kondisi sulit.
Dalam jurnal aku pergi ke KBRI di Vietnam dan mencari informasi kisah
perjalanan antara Heru dan Toni, mereka berdua memang pernah
terdaftar di imigrasi..,
namun sulit diakui positif apakah orang yang kuceritakan serupa
mencari dengan misi tugas pencarian tersangka
Albert.
Aku pergi ke kepolisian Vietnam bahkan mencari adakah jejak nama
Heru Sukoco di kepolisian Vietnam. Anggota polisi yang sedang mencari daftar
alam tempat rehabilitasi penjara yang bernama Heru, sedangkan ketika aku
bertanya adakah yang bernama Nam Poh Tang, mereka terdiam, tidak pernah
mendengarnya, apakah sedang berpura-pura atau memang tidak tahu.
Waktu berlalu, sudah lima tahun sejak kematian Toni, waktu lima
tahun bunuh diri Toni meninggalkan petunjuk, dan di tahun 2005 telah lima belas
tahun lebih Heru di penjara karena kasus narkotik, di penjara Vietnam.
“Siapa kau, mengapa kau orang Indonesia datang menjengukku?” ucap
Heru.
“Apakah kau tahu di mana Albert bersembunyi?” “Ah! Albert nama
yang tidak asing namun tidak umum bagi semua orang, Albert, sebelum aku
bercerita atau komentar, kau sebaiknya sebagai tamu cerita siapa dirimu?” ucap
sahut Heru.
“Aku
seorang detektif dari divisi khusus,” ucapku, sebagai polisi aku bertanya,
“tahukah kau orang yang bernama Albert?” “Iya aku kenal orang itu, sulit
dibayangkan tingkah lakunya, bahkan aku sulit melupakan ekspresinya. Mustahil,
tidak membayangkannya padahal aku dan dia tidak sedekat Toni,” ucap Heru, “tapi
bila kau sampai datang dari Indonesia, aku hanya pernah sekali ke
Indonesia
setelah musibah yang menimpa aku dan Toni.”
“Aku kenal Albert namun tidak sedekat Toni. Toni teman yang
berbeda dan sulit diduga, dan terkadang aku bertanya mengapa Toni berubah
sifatnya.”
“Kau
dikatakan berkhianat pada Toni demi Nam Poh Tang.” “Iya memang aku berkhianat
ketika kecanduan heroin, namun dia lebih berkhianat pada semua orang
Indonesia yang menjadi korbannya!”
“Siapakah sebenarnya Albert bila kau tahu dan dekat dengan Nam Poh
Tang.” tanyaku yang kemudian disela oleh petugas penjara dan ia memberi tahu
bahwa, sialnya, waktuku sudah habis. Terpaksa aku pergi kembali ke
Indonesia karena aku harus mencari tersangka Albert.
Sampai
Jakarta, Mayor Lina menjemputku. Ia mengatakan dari ceritaku bila Heru, bebas
dan kembali ke Indonesia, jadikan saja tersangka menutup-tutupi tindak jual
beli narkoba. Walaupun begitu aku masih kurang yakin.
Tiga kali dari jumlah tawaran
Mengapa
dirimu berubah tanpa menghiraukan diriku, aku sebagai istrimu sedang kesal akan
takdir, aku meninggalkan anakmu di Vietnam demi mencarimu. Tahukah kau bahwa
aku sangat mencintaimu?
Aku mengadu nasibku untuk bisa hidup normal, namun kau menyeretku
hingga harus terjerumus narkotika. Aku akan coba balaskan dendammu yang tidak
seharusnya bagi seorang ibu untuk membalaskan dendam suaminya yang menjadi
pengguna narkoba bodoh. Toni.., seandainya kau masih hidup aku datang ke
kuburanmu sekarang hanya akan memberitahu, semua surat-suratmu kubaca, namun
mengapa kau dengan bodohnya mengirim berita keberadaanmu setelah, kau memberi
tahuku akan mati.
Aku
menerima kunci deposit uang yang kau berikan dan sisa-sisa surat yang
menceritakan bahwa kau mati bunuh diri. Aku tidak bisa memaafkan dirimu karena
telah menyerah dan mengubah takdir.
Toni, akan kupastikan ceritamu tidak berakhir di sini, dengan
Albert yang telah mengkutuk hidup kita. Aku dan supirku pergi dari kuburan ke
daerah yang menjual pistol. Aku mendatangi rumah orang itu dan memberi uang
untuk membeli benda yang terlarang juga. Selain itu, aku meminta meminta
seseorang untuk mengejar Albert dan menyeretnya ke depan mukaku, aku ingin
menyiksa orang yang berbuat keji dengan balasan yang tidak terlupakan oleh
dirinya.
“Tidak
seperti pistol yang mudah kau dapat, tapi dengan menyewa pembunuh bayaran bukan
pekerjaan mudah!” ucap orang asing di mana Lista membeli pistol.
“Aku akan membayar dengan upah sesuai dengan permintaanmu. Namun,
aku akan bayar dua kali lipat bila kau bisa membawanya hidup-hidup ke
hadapanku.”
“Tiga kali dari jumlah pembayaran bila kau tidak keberatan. Akan
kami lacak orang itu, kami akan pastikan semua bisa rapih.”
“Aku setuju. Kalau bisa, rampok semua milik mereka. Aku ingin
Albert merasakan kesedihan yang kurasakan.”
“Tunggu,
siapakah sebenarnya Albert itu? “Albert ialah orang rakus uang dan telah
menjual narkoba demi kerakusannya, dan aku tidak keberatan bila kau mengambil
semua uangnya untuk memberi dia pelajaran, dan
kutambah dengan uangku bila semuanya kalian kerjakan.”
Dendam Lista
“Baik
nyonya Lista, karena kau sudah tua kurasa percuma engkau membeli pistol itu,”
sahutku, berpikir mengapa wanita berumur itu bersikeras membeli senjata dan
meminta kami untuk merampok, demi dendam yang ujung-ujungnya ialah badar
narkoba. Aku pernah mendengar nama Albert walaupun harus berpura-pura depan
nyonya Lista tidak tahu, mereka sebagaian dari kawananku takut pada Albert
karena alasan kecanduan.
“Kau
menghinaku dengan mengatakan aku sudah tua. Walaupun aku wanita, aku bisa
berbuat yang tidak ingin kau bayangkan dan itu ialah hal yang buruk!” ucap
Lista kepadaku. “Tunggu kau salah menagkap yang kupikirkan, aku hanya bisa
melakukan tugas mencarikan orang yang bisa menembak dan menjualkan pistol ini
kepadamu, tapi untuk tugas yang rumit aku dan kawanku harus
melakukannya
dari rutin bisnis kami.”
“Kau
tidak mampu melakukan yang kuminta?” sahut Lista, “Bung, Joko aku akan
memberimu waktu untuk berpikir jernih dan matang untuk merencanakan semuanya,
karena kita memang sedang tidak berburu hewan jinak!” “Oh tentu, kau memintaku
untuk pekerjaan sulit yang bisa kami tawarkan dari paket menembak orang yang
kau inginkan. Kau menginginkan dia tetap bernafas dan untuk kita mengambil
semua aset ialah hal yang pintar, namun tidak mudah untuk dikerjakan.”
“Aku harus memberimu waktu untuk berpikir dan merencanakannya juga
untuk mencarinya, kau butuh waktu bukan?” ucap sahut Lista memahami.
“Iya setuju, aku butuh waktu untuk bisa mencarinya, dan setelah
menemukannya, aku masih belum.., terpikir bagaimana cara menyerangnya,” ucapku.
“Bagus, paling tidak kau tahu harus..,
melakukan apa! Dengan menyerangnya terdengar kau mulai tertarik
dengan tawaranku.” “Aku memang tertarik, tapi kita lihat waktunya untuk bisa
mendapatkan Albert,” ujarku, kemudian..,
“aku akan menerima infomasi yang bisa kau berikan kepadaku dari
Toni, antan suamimu, aku akan menelponmu dan meminta uang darimu bila aku
sukses.”
Aku
hari itu di tinggal pergi, oleh klien baruku yang bernama Lista, seorang
ibu-ibu yang mendendam.
Penonton Drag Race
Aku menunggu orang bernama Krisna, ia terakhir pergi ke Klaten dan
menembak seseorang. Aku bertanya-tanya akankah ia menerima perintah itu dari
Albert?
“Joko, apa kabar? Sedang apa kau datang ke Sentul?” ucap Krisna
padaku. “Sama seperti dirimu, menonton acara malam ini dan taruhan .”
“Janganlah membodohiku teman, aku tahu kebiasaanmu tidak suka
menghambur-hamburkan uang!” kemudian Krisna menambahkan, “sejak kapan kau butuh
uang judi untuk menjadi pertaruhan?”
“Sejak klienku meminta tugas yang sulit untuk dikerjakan, namun
menarik perhatianku,” ucapku mencari perhatian Krisna. “Tunggu bro, elu dapet
klien lagi tapi berapa bayarannya.” Pertanyaannya membuat aku pusing..,
Lista dia bukan cuma hanya servis yang normal karena itu aku harus
menjelaskannya dengan kepala tenang dengan pergi dari situ, memancing ia
tertarik pada pekerjaannya atau tidak.
“Ada
pembeli koleksi jualanku, namun dia juga minta jasa untuk menembak seseorang,”
sahutku didengar dengan antusias oleh Krisna yang sudi meninggalkan arena
bangku penonton drag race.
“Menembak seseorang?” ucap Krisna bertanya..,
memastikan. “Maksudku, klien baru meminta tidak sampai
membunuhnya, namun menghabisi kekayaannya saja agar ia menderita, setelah itu
dia klienku akan membayar kita.” “Sepertinya bukan pekerjaanku, namun masih
menarik perhatian karena kau tidak pernah datang kepadaku untuk pekerjaan,
kecuali kau merasa terlibat, dan sepertinya kau ada maunya.., untuk tugas yang
sekarang.”
“Kau kenal Mira tidak? Itu sepupuku yang ketagihan narkoba, dan ia
mati karena over dosis akibat orang yang kuduga ialah target kita,” aku
bercerita sesingkatnya menarik simpatik.
“Target
kita ialah Albert, bandar narkoba dari Vietnam, aku tahu Mira terjebak
narkotik, karena berpesta pora dengan
mereka, tapi anehnya lagi Albert sangat kejam orangnya, terakhir
mereka..,
menemukan luka cekikkan di leher Mira setelah over dosis di sebuah
rumah.” “Rumah siapa?” tanya Krisna. “Rumah milik Mira, tapi rumah mewah itu
kuduga misterius diberikan oleh orang yang katanya ialah pengusaha ekspat dan
tentu aku masih menduga saja?”
“Kau masih menduga siapa laki-laki yang harus
bertanggung jawab pada kematian sepupumu?”
“Kita
cari bukti berkaitan dengan pergi ke rumah itu, bila ada foto Albert maka bukan
lain orangtua itu harus kita sita semua uangnya.” “Satu lagi Krisna, apakah
pekerjaanmu kemarin di Klaten ada hubungannya dengan Albert?”
“Iya.”
Foto Albert dan Mira
Setelah mengeledah rumah milik korban, Mira, kami pergi
meninggalkan rumah itu, dan foto Mira dengan Albert memang tidak bisa disangkal
lagi. Dugaan Joko pada orang yang bernama Albert itu benar adanya.
Dalam mobil, Krisna bertanya, “Sepupu elu kerjaannya apa?”
Aku
menjawab, “Dia inginnya jadi aktris tapi karena dia berbakat menggambar ia
menjadi fashion designer, dia kuketahui pernah dikenalkan dengan Albert ketika
sedang pameran baju-baju koleksinya. Ia kenal Albert mungkin di belakang
panggung ketika peragaan busana baju,
pertamanya di gelar.” Joko bercerita..,
“pameran
pertamanya digelar, aku ingat dia meminta modalnya ketika itu kepadaku, namun
sejak fahion show digelar saat itu dia tidak pernah menghubungiku lagi, atau
hanya untuk berkata terima kasih, dan kabar terakhir, menyedihkan, hanya ia
telah mati mengkejutkan, dengan konyol telah memakai heroin, kubayangkan Mira
telah mengunakan narkoba.”
“Sekarang
setelah mendapat bukti, kita hanya harus mengumpukan orang untuk menyerang
markasnya, dan mengambil semua kekayaanya Albert.” “Kalau dia menyimpannya di
bank, bagaimana kita bisa meyakinkan orang kejam seperti itu untuk mengambil
uangnya dan
kemudian diseret kehadapan Lista?”
“Lupakan
objektif permintaan klien yang bernama Lista karena sementara waktu bila kita
berhasil menggambil semua uang Albert, siapa yang membutuhkan uang Ibu
Lista?” ucapku menjelaskan.
“Aku
sangat siap, tapi untuk tugas kali ini kita membutuhkan orang lebih banyak lagi
untuk berupaya membobol markas Albert, dan sementara waktu hanya
sedikit
petunjuk, dimana dia berada.”
“Benar,
dan terkadang di situlah kendalanya, sudahkah kau pikirkan?” “Siapa
orang-orangnya belumku pikirkan, namun akan aku cari, aku akan membantumu.”
Tersangka Stress
Hari
itu Joko diduga sebagai tersangka. Mayor Lina melakukan penyelidikan menyilang
di antara satu dari kriminal pemilik senjata yang mengaku membeli senjata dari
Joko. Namun, kendala masih satu orang dan dugaan baru masih akan diselidiki
kelanjutannya, terkait kasus Roy.
“Ibu Lina, siapakah terdakwa?” ucap Agus..,
“Orang
ini merampok toko perhiasan dan ketika diperiksa silang dari list yang telah
kita ajukan di divisi lain mereka merekomendasikan untuk dia, di interogasi,”
jawab Mayor Lina.
“Agus, cepat buatkan surat rujukkan untuk interogasi, ini
rekomendasi dari divisi kriminal.” “Baik, saya kerjakan,” ucap Agus.
“Kamu
langsung saja melakukan surat permohonan untuk penyelidikan dan interogasi
karena perampok mengaku membelinya dari penadah senjata lokal, yang mungkin dia
akan tahu siapa pembunuhnya.”
Dari kantor divisi khusus, datang surat yang dikirim dari divisi
yang menagkap perampok itu, dan bagian devisi umum menulis laporan ketika di
interogasi cepat, sang perampok memberikan laporan Joko dengan alamat lengkap.
Selintas Mayor Lina membaca surat, dan langsung membuat tindakkan.
Pagi harinya pasukan khusus, dengan instruksi dari Mayor Lina
mendatangi rumah Joko dan melakukan pengeledahan dan menangkap Joko. Rumah
digeledah, dengan singkat mereka berhasil menangkap Joko tanpa perlawanan. Joko
ditangkap di tempat tidur sedang tidur dan kaget terbangun mengetahui rumahnya
telah dikepung.
“Ada, apa ini?” ucap Joko, “saya mau pengacara mewakili saya.”
“Belum
waktunya Anda mendapatkan pengacara, masih
terlalu
pagi dan Anda sebagai tersangka yang menjual
senjata
api.”
“Saya
tidak menjual, saya hanya mengkoleksinya saja.”
“Tahukah Anda larangan bagi anggota masyarakat
memiliki senjata dalam bentuk apapun apalagi dikoleksi.”
“Saya tahu, tapi saya tidak takut.” “Agus!” dipanggil Mayor Lina
dari komunikator jarak jauh. “Iya saya di tempat!”
“Pastikan tidak ada orang di markas yang tahu orang itu ditahan,
cepat pakaikan baju seragam kita supaya tidak dilihat media masa, ketika datang
ke markas, tetap undercover, saya tidak ingin ada birokrasi aneh bisa
membebaskan orang itu.”
“Baik!” ucap Agus dengan komunikator jarak jauh juga didengar yang
lain.
Dalam
divisi khusus yang telah melakukan kesalahan pada anggota masyarakatnya,
menangkap Joko ialah tindakan
benar..,
tapi
menyamarkan ialah hal yang baru, dan yang sedang dijadikan tersangka itu
ditutup- tutupi jejaknya. Joko yang dikhawatirkan akan bisa keluar masuk kantor
polisi sesuka hati karena ada kenalan oknum. Tanpa membantah Agus mengikuti
Mayor Lina yang sebagai kepala oprasional untuk mengikuti instingnya.
Joko dibawa ke ruang introgasi dengan baju polisi.
“Saudara
Joko, berapa lama Anda memiliki senjata api, mengapa Anda mengoleksi atau
menjualnya?” tanya Agus “Saya tidak menjualnya, tapi saya hanya mengoleksinya,”
ucap Joko.
“Mengapa
Anda memilikinya?” “Ayah saya TNI dan beliau yang mengajarkan saya bagaimana
menjaga dan merawat
pistol,
ia berharap saya juga menjadi TNI.”
“Apakah ayah anda seorang jenderal?” tanya Mayor Lina
“Dia
bukan seorang jenderal, hanya TNI yang mendidik anaknya untuk menjadi TNI, namun
gagal.” Di balik dengan komunikator, “Lina kita tidak bisa menahannya karena
dia sakit jiwa, mungkin dia berkata jujur dan kita perlu observasi di rumah
sakit jiwa untuk kasus, isu koleksi senjata api.”
“Tunggu
komandan, apa maksudmu?”
“Iya mengoleksi senjata karena stres, ingin menjaga mandat ayahnya
yang terlalu terobsesi.” “Tapi komandan, izinkan kami bermain-main dengan dia
dulu, karena kasusnya coba dihubungkan ke tersangka Albert, sebagai buron
penadah tunggal heroin.”
“Lanjutkan,
namun saya tidak ingin di sini.”
Krisna menjenguk
“Hey
gila!” kata Krisna ketika datang menjenguk Joko di rumah sakit jiwa.
“Ruangan ini disadap oleh polisi, Krisna.”!
“Aku
ada berita tentang Albert, dengan mengetahui perkembangan motifnya sifatnya,
isunya, ia ternyata memiliki istri,” ucap Krisna di ruangan rumah sakit jiwa.
“Tentu saja tidak ada, ini rumah sakit jiwa, untuk apa
mereka mendengarkan orang gila seperti kita.”
“Apakah polisi juga mencari dan mencoba mengaitkannya dengan
Albert?” tanya Krisna.
“Mereka
juga sedang mencari-cari dia, sedangkan kita selangkah lebih maju mengetahui
setiap gerak-geriknya bukan?”
“Sudahlah, tidak perlu dibahas, mereka nanti mendengar!”
Sementara itu divisi khusus yang memang menyadap ruangan Joko,
terkejut dengan pembicaraan mereka berdua.
Walaupun begitu, pembicaraan Joko dan Krisna tetap apa adanya,
mereka membatasi informasi tentang Albert, membayang-bayangi polisi agar
bertindak sesuai keinginan mereka berdua. Joko dan Krisna membatasi pembicaran
agar tujuannya menjebak polisi yang sedang bertugas dengan cerita pembunuhan
sepupu Joko, Mira.
Petugas
yang menyadap mendengar dan menulis laporan, kepada Mayor Lina dan mengirimkan
rekaman hasil pembicaraannya antara Joko dan yang menjenguk, Krisna.
Heru Dibebaskan
Dalam pesawat, Heru kembali ke Indonesia, setelah di penjara lima
belas tahun karena mencuri. Heru dideportasi dan akan ditangkap oleh imigrasi,
namun karena tiada bukti yang kuat sebagai orang yang menutup-nutupi jual beli
narkoba maka proses sedikit sulit untuk dilaksanakan.
Turun dari pesawat, Heru diawasi dan diekori oleh para polisi yang
menyamar. Mereka menanti akankah Heru dijemput Albert, namun waktu tak kunjung
tiba. Tidak ada yang datang menjemput Heru di bandara. Heru naik taksi dan
pergi ke bank, dan selanjutnya menginap di hotel di kawasan Jalan Jaksa.
“Halo Agus, bagaimana perkembangannya?” ucap Mayor Lina, “dia
memiliki rekening di sebuah bank namun kita bukan divisi angkatan yang punya
autorisasi seperti para KPK untuk meminta pihak bank membocorkan infomasi
apalagi membekukan bila itu ialah money laundring dari penjualan narkoba,
kecuali kita membeberkan ini pada pihak terkait yang bisa membeberkan status
money laundry ini.” Agus menduga dan menambahkan, “ia juga pergi ke Jalan
Jaksa, apakah harus tetap kita awasi dia?” “Tetap ekori dia, adakah yang mencoba
menghubungi dia?” ucap Mayor Lina yang tiba-tiba dihentikan karena Heru berlari
terkejut, seperti melihat Agus, di Jalan Jaksa.
Heru berhenti, ia ditangkap Agus dan ditanya mengapa, ia menjawab
sedang berhalusinasikah dirinya dan Heru sering menderita halusinasi setelah
memakai narkoba, tapi heru yakin bila ini terlalu nyata.
“Kau
orang yang menjengukku, di penjara Vietnam,” ucap Heru memastikan.
“Benar,” Agus menenangkan Heru.
“Aku membutuhkan dokter jiwa, tapi mengapa kau
mengikutiku, apakah kau akan menangkapku?”
“Aku
tidak akan menagkapmu, aku hanya sedang kemari menemuimu untuk urusan Albert,
saya butuh infonya.” ucap Agus yang terlanjur terbongkar kedok penyamarannya, “mengapa engkau ditangkap dan
dipenjara?”
“Aku
dituduh mencuri uang Jenderal Nam Poh Tang, namun tidak lama kemudian dia juga
dihukum mati karena korupsi, sedangkan Albert ialah orang yang menikmati
hasilnya.” ucap Heru yang kemudian menambahkan, “aku juga dipenjara atas
tuduhan palsu, sang jendral suatu ketika mengkhinatiku, sedangkan Lista, awal
dari semua kasus juga terkait. Bagaimana Jenderal Nam Poh Tang dihukum
mati,
isu Lista melapor.”
“Siapa
Lista?” tanya Agus.
“Dia
istri Toni yang ditinggalkan semasa hidupnya. Sebagai pasangan mereka tampaknya
hanya bahagia di awal waktu, karena hubungan suami istri yang sebentar itu,
awalnya Lista juga kedok Jenderal Nam Poh Tang seperti diriku, tapi ia
melaporkannya ke polisi ketika Shinta dan diriku dijebak dan dikhianati,” Heru
menjelaskan.
“Lalu bagaimana dengan Toni dan Albert?” tanya Agus.
Heru mendesah dan menarik nafasnya yang telah berumur berkata,
“,Aku hanya bisa mengatakan atau bercerita bahwa mereka juga berkhianat kepada
Jenderal Nam Poh Tang”
Agus
dengan sengaja mematikan komunikator agar tidak didengar Mayor Lina bertanya
tentang bukti uang di bank, “Lalu uang apakah itu yang sedang kau ambil di
bank?” “Itu uang Toni dan kami yang memilikinya di atas usaha yang telah
berjalan dengan sendirinya sejak tahun delapan puluhan,” ucap Heru.
“Lalu di mana istrimu Shinta?”
“Ia ada di Indonesia, bahkan ia yang menjalankan usaha untuk
kami.”
Agus
memberi tanda bahwa komunikator akan dinyalakan kembali kepada Heru untuk
membatasi ucapannya.
“Tahukah
di mana Lista sekarang?” “Aku tidak tahu.”
Pesawat Pribadi
“Ibu
Shinta makan siangnya sebelum sampai Jakarta,” ucap pramusaji pesawat pribadi.
“Siapkan saja, aku akan menunggu telpon,” ucap Shinta.
“Ibu, ini berkas, sertifikat, tanah untuk tempat penambangan emas,
dan semua dokumen izin membangun bangunan workshop untuk pengolahan raw
materialnya,” ucap anaknya yang bekerja dengan ibunya sendiri.
“Duduk
di sampingku nak, aku ada berita untukmu,” ucap Shinta kepada anak perempuannya
yang bekerja sebagai notaris.
“Ada apa, Ibu?”
“Aku tadi mendapat telpon dan sedang menunggu kabar lagi dari
pihak bank, mereka bercerita ayahmu telah kembali, kukira ia telah lepas dari
penjara dan akan ada banyak masalah di hadapan kita. Sebaiknya kita siap-siap
saja!” ucap Shinta pada anaknya kemudian sambil memakan makanan yang disajikan
sambil berbincang-bincang kembali.
Heru
ternyata telah memiliki anak yang telah dewasa, dan
Shinta memanfaatkan uang milik Heru untuk memulai usahanya, sebuah
cerita keberuntungan ketika ia membeli tanah dan tanah itu menjadi kongsi usaha
penambangan emas. Dalam pesawat pribadi mereka datang dari Filipina dan sedang
menuju ke Jakarta, dalam perjalanan bisnis yang akan dikejutkan oleh kedatangan
ayahnya, bahkan polisi.
Akan tetapi, mereka berdua tidak takut karena mereka menjalankan
usaha dengan ulet dan menuju jalan yang benar. Namun, Agus yang telah mendapat
informasi telah menunggu mereka di bandara tempat pesawat itu akan tiba.
“Selamat siang Ibu Shinta kami dari kepolisian,” ucap Agus dan
Mayor Lina.
“Kami sedang mencari saksi dari para tersangka keterkaitan Albert
dengan usaha suami Anda Heru.” “Permisi, saya tidak terima bila usaha tambang
emas milik saya dan rekan-rekan itu sebagai usaha suami saya yang baru saja
lepas dari penjara. Ini sepenuhnya sekarang usaha saya dari profit yang
didapatkan adalah milik saya.
“Izin wawancara dengan Ibu untuk kisah yang terkait dengan
Albert.” ucap Mayor Lina.
“Saya izinkan asal kalian tidak menghina saya dan anak saya!”
Mereka akhirnya melakukan wawancara di rumah Shinta. “Maaf, izinkan anak saya
mendengarkan wawancara ini, karena ia sudah besar. Sudah sepatutnya tahu seluk
beluk keluarga,” ucap sinta sambil menjamu kedua polisi.
Agus
dan Lina, mendengarkan, “Aku memang pernah tersangkut, Heru suamiku yang
berkhianat, namun aku
tidak punya pilihan karena hanya seorang wanita, yang sedang tidak
berdaya dan bodoh.”
“Apakah
ibu bernasib seperti Lista yang dikarantina oleh Albert?” ucap Agus menyela
tidak diketahui karantina semacam apa yang terbayang, namun ketika diceritakan
Agus, Shinta tampak sedih.
Bartender Teman Cakra
“Jasmine,
aku minta satu long island,” ucap Cakra didengar Jasmine yang menambah komentar
menawarkan minuman
lain, “ Tidak ingin yang lebih keras seperti Tequlia?”
“Oh tidak, aku sedang dalam masalah dan tidak akan berpesta malam
ini,” sahut Cakra yang dibalas tanya, “Kau yakin, tidak ingin mencoba menghibur
wanita itu, selain diriku?”
“Baik aku akan minum tequila tapi bila dia menyambutku, tolong
disiapkan saja teman,” ucap Cakra kepada teman kenalannya bartender, Jasmine.
“Hai, siapa namamu?” ucap Cakra kepada wanita yang tampaknya
sedang butuh dihibur dan itu adalah Lista.
“Lista,” sahutnya memperkenalkan diri, “orang-orang di Indonesia
terlalu ramah dan banyak perubahan di sekelilingku.” “Kau dari mana Lista?”
tanya Cakra merasa komentar Lista tidak umum seperti wanita kebanyakan yang
sekalipun sedang sedih di bar.
“Aku dari Indonesia, namun telah lama di Vietnam, dan kau mencoba
menghiburku bukan? kecuali bila ternyata aku salah menduga kau sedang tidak..,
mengejar wanita tua ini untuk menjadi objek romantismemu terbangun
di pagi hari dengan telah pergi meninggalkan pakaiannya di bar bersamamu di
kamar hotel?” Cakra mendengar humornya, dan sesaat yang menjadi pertanyaan
Cakra, ialah “Pilihanmu akan membuka bajumu sekarang atau nanti di hotel?”
sahut Cakra menanggapi humor Lista. Ironi Lista berubah pikiran sesaat, “Kau
duduk saja di sini, di sampingku dulu, aku ingin melihat kau akan memberikan
aku apa?” ucap sahut Lista meminta Cakra.
“Jasmine tolong servis tequila satu botol untuk kita,” ucap Cakra
meminta kepada Jasmine. Mereka berdua, Lista dan Cakra duduk di depan meja bar,
tak lama Jasmine datang dan menyapa, “Selamat malam Tuan dan Nyonya, apa
kabar,” ucap jasmine bersikap ramah.
“Apakah kau sering melihat dia menghibur wanita, selain diriku
Jasmine?” tanya Lista tersenyum pada mereka berdua, membuat Cakra tersenyum.
Jasmine menyambut apa adanya, “Cakra, itu teman yang gentlemen,
maaf saya berkomentar pada Anda siapa?” ucap Jasmine. “Saya Lista, apakah Cakra
sering tergerak untuk menghibur wanita yang sedang sendiri di bar seperti
saya?”
“Tanpa perintahku dia tidak akan berani karena dia pemalu, yang
harus diberi dorongan untuk menikmati hidup,” sahut Jasmine. “Apakah aku harus
berbagi kebutuhan dengan laki-laki pemalu ini, denganmu jasmine?” ucap Lista
bertanya. “Kita bertiga maksudmu Lista, tentu bisa bila itu yang terbayang,
namun mengapa tidak kalian menungguku setelah aku selesaikan bagian waktu
kerjaku dua jam lagi.” Dua Jam kemudian mereka dalam kamar hotel, dan selesai
ritual kebutuhan mereka terpenuhi, mereka saling berbagi cerita.
“Tidak
terlalu buruk malam ini bukan?” ucap Cakra seperti sedang menikmati humor
keberuntungannya dengan wanita, untuk pertama kalinya. “Malam ini baru pertama
kalinya aku melakukan ritual kebutuhan bertiga.” Dan itu dijawab dengan tawa
oleh yang lainnya. Kiranya apa yang membuat mereka terdorong berkeputusan
melakukan
hubungan intim.., bertiga. Cakra merasa terjebak oleh permintaan
Jasmine,
sedangkan Jasmine merasa terintimidasi ingin bersenang-senang saja
karena dia easy going sifatnya, sedangkan Lista malam itu di antara dua orang
yang lebih beruntung terhibur malam harinya.
“Bila ini ritual tanggung jawab untuk bertahan hidup, apakah
nasibku pernah paling sial, karena pekerjaanku sebagai wartawan baru saja
waktunya, menjadi berubah kondisinya menjadi menarik. Mengapa nasib sial bila
sesaat selintas barusan..,
ialah waktu yang membahagiakan,” ucap Cakra seperti sedang
mensyukuri sesuatu. “Kalau aku merasa melakukan hubungan ini, karena easy going
saja, kalau kau Lista?, Apa hal yang paling sial dalam hidupmu?” Lista
mendengar Jasmine berkomentar dan eksperesi wajahnya yang sedang senang
tiba-tiba berubah menjadi kembali murung seperti ketika Jasmine melihatnya
pertama kali di bar.
Lista
mendesah sedih didengar mereka di kamar itu, Lista duduk dengan mereka saling
menantap, “Ada apa Lista, apa yang belum kau ceritakan?” Lista ingat
membayangkan sial nasibnya dan akhirnya diceritakan juga semuanya.
Presentasi tentang pencarian Albert..,
di kantor polisi, Albert masih diam-diam tidak mau bercerita bahwa
pada peristiwa yang kebetulan di malam ini untuk menceritakan dirinya bisa
berkaitan. Lista bercerita bahkan ia bercerita akan mencari Albert untuk
membalas dendam.
“Kau istri Toni? Aku tahu para polisi sedang mengincar Albert,”
ucap Cakra
Hari
esoknya mereka bertiga pergi, menemani Jasmine kembali ke klub di pagi hari
yang Minggu, dengan seperti
tadi malam..,
Lista
dan Cakra duduk di meja bar, dan Jasmine membersihkan tempat itu yang sedang
berantakan, dan selintas duduk Lista pergi ke toilet Cakra bercerita,
“Jasmine..,
aku tahu mengapa semalam Lista hanya mendesah, ia mendesah karena di kantor polisi mereka sedang mengunakan mantan suaminya yang bunuh diri sebagai teroris. Toni ialah yang bunuh diri karena terjebak menjadi teroris,” ucap Cakra pada Jasmine.






















































































































108



























































































































































































































































































+









